Australia Efesien, India Sederhana dan Jepang Disiplin

29 10 2012

BANYAK pelajaran yang diperoleh peserta Program Singkat Angkatan (PPSA) XVIII LEMHANAS RI tahun 2012 selama Studi Singkat Luar Negeri (SSLN) di tiga negara Australia, Jepang dan Australia. Namun dalam tulisan ini hanya beberapa contoh yang saya kemukakan, terkait upaya bangsa Indonesia untuk memantapkan pelaksanaan pembangunan.

Austalia: efisiensi jumlah pegawai
Beberapa kantor pemerintahan Australia yang dikunjungi dan posisinya setingkat departemen, ternyata tidak kelihatan ramai sebagaimana kantor-kantor di Indonesia. Misalnya Di Kantor Special Autonomy and Federal State Relation divisi yang mengurus masalah otonomi daerah, kami hanya dilayani empat orang pegawai. Toh pekerjaan berjalan lancar. Kedatangan rombongan Lemhanas yang berjumlah sekitar 20 orang disambut dengan baik dan penjelasan yang diberikan memuaskan.
Melihat hal tersebut saya menjadi bertanya-tanya mengapa jumlah pegawai di kantor pemerintah di Indonesia begitu banyak. Apakah karena urusannya banyak atau karena lapangan pekerjaan sedikit di Indonesia sehingga lowongan menjadi pegawai negeri sengaja diperbanyak untuk mengurangi pengangguran?
Apalagi sepuluh tahun terakhir dengan diberlakukannya otonomi daerah dari kabupaten/ kota dan provinsi berlomba-lomba menambah pegawai yang disinyalir sarat kepentingan kepala daerah. Mereka yang diangkat itu, sebagian kecil saja yang kompeten, sebagian besarnya merupakan bentuk balas jasa politik dan unsur KKN lainnya.
Padahal memperkecil jumlah pegawai pemerintah merupakan satu cara untuk menghemat uang negara. Dengan jumlah pegawai yang lebih rasional, pegawai mau tak mau harus meningkatkan kompetensinya supaya tugas selesai pada waktunya.
Sebenarnya niat pemerintah untuk merampingkan jumlah pegawai sudah ada, diantaranya dengan mencanangkan zero growth, yakni penerimaan PNS hanya secara terbatas pada sektor-sektor yang benar-benar diperlukan, sehingga jumlahnya tetap bahkan berkurang karena adanya PNS yang pensiun atau pensiun dini. Pemerintah juga merencanakan untuk menghapus jabatan eselon IV serta memperbanyak jabatan fungsional khusus. Pemerintah pun dikabarkan menawarkan sejumlah kompensasi untuk PNS yang mau pensun muda.
Namun masih terlihat kegamangan untuk segera menerapkan kebijakan tersebut. Belum ada penciutan drastis jumlah PNS di tanah air. Bahkan banyak PNS yang masuk dari formasi fungsional khusus, ternyata kemudian berbelok arah ke jalur umum karena tak cakap menjadi seorang pejabat fungsional.

Jepang: Sangat disiplin
Sudah dari dulu kedisipilinan Jepang menjadi keunggulan negara di Asia Timur ini. Walau babak belur pada perang dunia ke II, mereka bangkit hanya dalam waktu tiga puluh tahun, menjelma menjadi negara dengan ekonomi terkuat nomor tiga di dunia.
Satu tahun lalu Jepang dihantam gempa bumi dan tsunami yang sangat dahsyat, beberapa pembangikit tenaga nuklirnya rusak parah. Dampaknya sekitar 30 persen energi listrik Jepang berkurang. Hal ini mendorong munculnya gerakan penghematan listrik. Mulai dari kantor pemerintah hingga sopir bus, hanya dibolehkan menghidupkan AC di level 25◦ C.
Menariknya, gerakan disipilin nasional ini betul betul dipatuhi semua kalangan, dari orang miskin hingga orang kaya. Rombongan Lemhannas yang berpakaian lengkap jas dan berdasi, harus kepanasan naik bus yang disediakan, karena sopir bus menyetel AC 25◦ C.
Bagaimana dengan di Indonesia? Kampanye nasional seperti itu juga banyak, seperti gerakan hemat listrik, kampanye cinta produksi dalam negeri dan lain-lain. Tapi yang berhemat hanya kalangan bawah, berhemat karena tidak ada uang, sementara sebagian kantor pemerintah dan rumah para pejabat serta kalangan berduit semarak dengan penerangan listrik, bahkan kamar pembantu pun dilengkapi AC dan alat elektronik lainnya.
Selain itu anak-anak sekolah di Jepang dianjurkan makan dua kali sehari, walau mereka sekolah mulai dari pagi dan pulangnya jam sebelas malam. Mereka juga diminta berpuasa. Gerakan ini untuk mendidik anak-anak Jepang agar berempati kepada mereka yang hidupnya kurang beruntung serta untuk menjaga kesehatan.

India; Pejabatnya sederhana
India kini merupakan kekuatan baru di bidang ekonomi dan teknologi. Walau demikian masalah-masalah kemiskinan dan keterbelakangan penduduk masih dominan. Dari 1,2 miliar penduduk India, diperkirkan 300 juta hidup dibawah garis kemiskinan. Perbedaan antara yang kaya dengan miskin sangat tajam, gap yang pintar dengan buta huruf sangat lebar. Namun India menguasai teknologi militer, ruang angkasa, telekomunkasi, industri film bahkan banyak ilmuwannya yang bekerja di negara maju seperti Amerika, Eropah dan Australia.
Kemajuan India ini tidak terlepas dari sikap para pejabat pemerintahannya yang sederhana dan memberikan contoh teladan. Mereka bangga memakai produksi dalam negeri, bangga menonton film mereka sendiri. Mobil dinas para pejabat setingkat menteri merupakan mobil buatan India Tata Ambasador yang harganya sekitar Rp 100 juta. Coba bandingkan dengan para pejabat di Indonesia, camat saja mobilnya kijang inova.
Memberi contoh teladan, amatlah penting bagi bangsa Indonesia saat ini. Bangsa ini akan terus terpuruk meski kekayaan alamnya melimpah bila para pemimpinnya tak amanah. Lain kata lain pula perbuatannya.(infojambi.com/Mursyid Sonsang)





Kentut…digeledah….suara azan dan cendramata

29 10 2012

HUBUNGAN Australia dan Indonesia sudah berlangsung lama, bahkan ketika Indonesia merdeka Australia termasuk negara yang memberi dukungan. Begitu juga ketika Belanda ingin menjajah kembali Indonesia dengan membonceng pasukan Sekutu, para buruh di Australia memboikot kapal-kapal Belanda. Wajar bila pada perundingan damai antara Indonesia dan Belanda, pihak Indonesia memilih Australia untuk mewakili kepentingannya.

Bergulirnya waktu dan pergantian pemerintahan di kedua negara, mempengaruhi hubungan Australia-Indonesia. Hubungan di bidang pertahanan, ekonomi, dan pendidikan berjalan sangat baik terutama pada masa pemerintahan Presiden RI Dr. Soesilo Bambang Yudhoyono dan Perdana Meneteri Juliand Gilard.

Untuk mempererat hubungan kedua negara, Lemhannas RI tahun 2012 mengirim Peserta Program Pendidikan Singkat Angkatan (PPSA) XVIII untuk melakukan Studi Strategi Luar Negeri (SSLN) ke Australia dari tanggal 15 – 21 September 2012. Rombongan yang dipimpin oleh Sektama Lemhannas Drs. Chandra Manan Mangan, M.Sc berjumlah 25 orang, dari Lemhannas 8 orang dan peserta PPSA 17 orang.

Selama di negara Kangguru tersebut rombongan berdiskusi dan mendapat masukan dari berbagai lembaga yang dikunjungi, seperti Civil Military Centre, Department of Prime Minister and Cabinet on Special Autonomy and Federal States Relation In Australia, Department Foreign Affair and Trade, Department of Defense of Australia, Australia Strategy Policy Institute (ASPI) dan terakhir mengunjungi Thales Representatives On Australia Military Industry.

Agenda kunjungan 5 hari di Australia sangat ketat, membuat anggota agak kedodoran, apalagi sesampai di Sydney harus menempuh perjalanan darat ke Canberra selama 4 jam. Semua kantor-kantor yang akan dikunjungi berada di Canberra dan cuaca cukup dingin waktu itu. Pada malam hari suhu mencapai 5 derajat Celcius.

Kentut siapa ?
Selama perjalanan dengan bus yang lumayan bagus, banyak kejadian tidak terduga. Rombongan melepaskan keletihan dengan tidur pulas. Moment ini tidak disia-siakan oleh fotografer senior PPSA, Brigjen. Pol. Arief untuk mengambil moment kawan-kawan sedang tidur dalam berbagai gaya dengan kamera canggihnya.

Bau angin yang tak sedap ikut memeriahkan suasana dalam bus. Salah seorang yang menahan kentut cukup lama, karena tidak tahan lagi, mengeluarkannya perlahan-lahan, membuat seisi bus berpandangan. Bahkan sekaliber Komandan Kopassus Mayjen TNI. Agus Sutomo berteriak gusar “ Wah,… kentut siapa ini!” seraya tegak dan mencium kiri dan kanan serta arah muka dan belakang mencari-cari asal kentut. Penumpang lain juga berteriak karena bau yang sangat menyengat itu.

Ketika diwawancarai Agus Sutomo sudah mendapatkan pelaku kentut itu, tapi dengan alasan keamanan, beliau harus menutup rapat siapa pelakunya. Masalah kentut ini menjadi world topic selama perjalanan dari Canberra ke Sydney, membuat rombongan sakit perut tertawa membicarakannya. Kok kentut baunya segitu amat ya……..

Suara Azan dari HP
Beberapa lembaga yang dikunjungi, terkadang perlakuan pihak Australia sangat ketat. Seperti di kantor Departemen Foreign Affair and Trade, semua anggota harus mendapatkan ID dan diantar petugas melewati beberapa pintu yang hanya bisa dibuka oleh petugas kantor tersebut.

Sesampai di ruangan pertemuan rombongan tidak diizinkan mengambil gambar, tapi dasar fotografer, sebelum pertemuan dimulai beberapa gambar sudah diambil sehingga ketika petugas melarang, beberapa gambar sudah didapat. Pada akhir pertemuan pengambilan gambar diperbolehkan juga, yakni saat ketua rombongan Lemhannas Mayjen. Endang Heruddin menyerahkan plakat kepada petinggi departemen tersebut.

Pemeriksaan yang cukup ketat juga terjadi di Departemen Pertahanan Australia, petugas di lobby mengeledah semua kamera, hp dan alat elektronik lain agar tidak dibawa ke ruangan pertemuan.

Rombongan dibagi dua kelompok, diantar masuk ke ruangan pertemuan oleh petugas. Sebelum sampai ke ruangan pertemuan kawan-kawan PPSA sudah membayangkan bagaimana bentuk ruangan pertemuan, apalagi ada informasinya pertemuan saling berhadapan satu dengan lainnya. Ternyata ruangan pertemuannya biasa saja, bahkan agak sempit.
“ Wah, kita pikir ruangan pertemuannya sangat canggih, tapi biasa saja kayaknya,” ujar salah seorang peserta Lemhannas.

Dalam dialog tersebut, pihak Kementerian Pertahanan Australia dipimpin oleh Sekretaris Kemenhan Australia, Duncan Lewis dan petinggi militer Australia lainnya. Pak Duncan yang pernah bertugas di Jakarta mengawali pertemuan dengan berbahasa Indonesia, sehingga suasana yang kaku berubah meriah. Setelah itu dilanjutkan pertanyaan-pertanyaan dari anggota PPSA meyangkut hubungan Indonesia – Australia khususnya dalam bidang pertahanan keamanan.

Suasana kembali mencekam ketika Duncan Lewis menyampaikan bahwa hubungan Indonesia dan Australia sering terganggu oleh pemberitaan pers di kedua negara yang cukup keras, baik pers Indonesia menyorot pemerintah Australia maupun Pers Australia menyorot pemerintah Indonesia. Ketua rombongan PPSA Dr. Mohammad Imran Duki yang memang lama tinggal di Austalia menyodorkan pertanyaan itu untuk dijawab oleh anggota PPSA yang mewakili wartawan.

Ketika Mursyid Sonsang menanggapi pertanyaan tersebut, khususnya menyangkut upaya dan langkah-langkah untuk membangun kerjasama wartawan Indonesia dan Australia, tiba-tiba dari HP Mursyid terdengar suara azan. Suasana pun jadi hening dan mencekam. Dengan agak gugup Mursyid mematikan HP-nya lalu menjelaskan lagi upaya-upaya Dewan Pers dan PWI dalam upaya meningkatkan kompetensi wartawan di Indonesia

Setelah pertemuan muncul kegusaran peserta PPSA, kok HP Mursyid bisa dibawa masuk ke ruangan pertemuan?
“ Menjelang masuk kan sudah digeledah? ” ujar salah seorang peserta PPSA.
Dengan santai Mursyid menjawab, “Ya, saya sembunyikan dalam lengan baju saya, bagus juga para petinggi militer Australia dengar suara Azan” jelasnya.
Dasar wartawan…!, ucap peserta lainnya.

Kejadian yang juga membuat gusar, ketika Prof. Yana tidak bisa menahan batuknya. Memang Kang Yana menjelang berangkat menderita batuk. Batuk Prof. Yana sudah bertalu-talu sebelum petemuan dimulai bahkan ketika akan membuang batuknya ke toilet, selalu diikuti petugas keamanan Australia, dan ditunggui hingga selesai.
“ Wah mereka takut juga, nanti virus batuk Kang Yana menyebar,” ujar peserta lainnya. Akhirnya Prof Yana diamanakan di sebuah ruangan untuk istirahat.

Good Position
Kesempatan berfoto selalu ditunggu dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh para peserta PPSA dan rombongan. Apalagi banyak pemandangan dan objek-objek menarik untuk diabadikan. Bagi seorang potografer istilah camera face sudah sangat familiar, suatu titik dari wajah seseorang yang gagah atau cantik kalau dipoto. Tapi Pak Agung mempopulerkan istilah baru. Good Position. Tapi istilah ini hanya dipakai di kalangan terbatas saja. Soalnya Pak Agung yang juga Panglima Armada Timur AL itu, merasa tidak enak dengan kawan-kawan yang menjadi fotografer.

Kalau kami mau berfoto, Pak Agung akan bilang, good position, dengan gaya tegas beliau. Orang yang akan diambil potonya lalu berubah posisi, ada yang senyum ada yang angkat kaki, ada yang tegak pinggang dan berbagai macam gaya. Weleh..weleh….weleh……..

Ada pula yang keranjingan berfoto terus, siapapun di dekatnya akan kebagian tugas menjadi juru poto. “ Ya..untuk kenang-kenangan,” ujarnya lugu.

Cenderamata di Antara Dua Budaya
Selama mengunjungi beberapa kantor pemerintah dan lembaga di Australia. Rombongan Indonesia diakhir pertemuan selalu memberikan cenderamata berupa plakat Lemhannas. Tapi bagi orang Australia tidak ada kebiasaan memberikan plakat juga, kalaupun mereka memberikan sudah dibicarakan dari awalnya. Selain itu juga mereka sangat efesien menerima rombongan, hanya dengan beberapa orang saja, tidak meganggu aktifitas kantornya, walau rombongan yang datang cukup banyak. Merekapun hanya menyediakan snack berupa kue-kue kering dan minuman ala kadarnya.

Bicara soal kenang-kenangan atau cenderamata, tidak menjadi budaya orang Australia untuk memberikan kepada tamunya. Kalaupun ada sudah disepakati terlebih dahulu.
“Hanya rombongan kita yang ngasih plakat, mereka menerima dengan senang hati,” ucap seorang anggota rombongan.
Inilah salah satu bentuk pelajaran berharga yang diperoleh peserta Lemhanas, saling menghargai budaya antar negara.

Jamuan Makan dan Ultah Pak Kausar
Memang hebat orang Indonesia ini. Dimana pun dia berada, kalau ada tamu dari kampungnya pasti diundang untuk makan. Begitu juga rombongan PPSA di Australia dijamu makan di rumah Atase Pertahanan Marsekal Muda TNI Widjanarko.
Dua hari tak makan masakan Indonesia, nampaknya dipahami tuan rumah yang kemudian menyediakan makanan khas Indonesia sambil diiringi organ tunggal. Semua hidangan pun ludes.
Acara makan malam jadi meriah karena bertepatan dengan ulang tahun Pak Kausar yang merupakan tenaga ahli di Lemhanas. Dia pun menyumbangkan suara emasnya melalui tembang berjudul Angin Malam, yang diikuti “duet maut” Bunda “Dr. Rosita Noor” dan Marsekal Muda Husra Harahap alias Ucok, dengan lagu lawasnya I Can’t Stop Loving You.
Selain itu jamuan makan malam di kantor Kadubes RI di Camberra, walau Pak Dubes sedang bertugas di Jakarta, para stafnya menyiapkan makan malam yang enak bagi rombongan Lemhannas serta hari terakhir dijamu makan di restoran Turki dengan kebabnya yang rasanya mantap, mantap…mantap.

Came Back To Australia
Selama SSLN PPSA XVIII ke Australia, banyak kenangan yang sulit untuk dilupakan, terutama jalan yang tidak macet, rasa aman dan kota yang bersih. Kenangan ini membuat kita akan kembali lagi ke negara tetangga bule ini. Memang beberapa peserta PPSA pernah sekolah dan bertugas serta megunjungi negara ini seperti Laksama Agung Parmono (Athan di Australia), Dr. Mohammad Imran Duki (sekolah), Dr. Syarief Burhanuddin (sekolah), Mayjen TNI. Endang Heruddin (sekolah di Lemhannasnya Australia), Mursyid Sonsang (sekolah) dan peserta lainnya…..

Diiringi lagu balad Australia Waltzing Matilda pesawat garuda yang membawa rombongan akhirnya mendarat dengan selamat di Bandara Soekarno Hatta, Jumat sore tangal 21 September 2012……see you later (Disarikan oleh Mursyid Sonsang)





Outward Bond Urang, Outwar Bond Pulo Awak……

8 07 2012

Program Pendidikan Singkat Angkatan (PPSA) XVIII Lemhannas RI tahun 2012 sangat istimewa, karena diikuti peserta yang memiliki jabatan strategis di beberapa instansi pemerintahan terutama di TNI dan Polri, PNS, Ormas dan organisasi Profesi.

Mereka adalah pemimpin di instansinya masing-masing dengan jabatan setingkat eselon satu seperti  Dirjen, Staf ahli menteri, Rektor hingga Jenderal bintang satu hingga  tiga serta ketua-ketua organisasi profesi/ ormas dan parpol tingkat pusat dan daerah.

Selama di Lemhannas mereka akan dididik menjadi memimpin masa depan Repuplik Indonesia ini. Pemimpin yang harus memiliki wawasan kebangsaan untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Repuplik Indonesia guna mencapai masyarakat yang sejahtera.

Tantangan ke depan sangat berat, seorang pemimpin harus terus berlatih mengasah kepekaan terhadap perkembangan lingkungan yang terus berubah.

Menurut Peter F. Drucker  pada abad ke 21 ini dibutuhkan seorang pemimpin  perubahan. Untuk mencapai kepemimpinan perubahan dibutuhkan latihan agar mampu bersinergis dengan alam dan masyarakat baik lokal maupun global.

Lemhannas bekerjasama dengan SPN lido merancang latihan kepemimpinan itu berupa outward bond dengan sasaran sebagai berikut

  1. Menurunkan egoisme individu maupun organisasi dan sebaliknya menguatkannya solidaritas yang positif di antara peserta.
  2. Selalu ingin memberikan kontribusi yang positif di antara peserta,
  3. Hubungan antar personal di antaranya sesama peserta menguat dan kompak.
  4. Mudah bersosialisasi dengan pihak lain dan lingkungan
  5. Produktifitas kelompok meningkat.

Outward bond ini dilaksanakan selama tiga hari tanggal 15 – 17 Juni 2012 dengan lokasi SPN Lido dan Kampung Ciwaluh. Dari 50 peserta PPSA XVIII hanya tiga orang yang tidak ikut dengan alasan sakit dan tugas di kantornya.

Keberangkatan outward bond ini dilepas secara resmi oleh Wakil Gubernur Lemhannas, Letjen. TNI. Moeldoko dengan upacara resmi di halaman Lemhannas, Jumat pagi, bertindak sebagai komandan upacara Irjen. Pol. Putut Bayu Seno.

Outward bond yang dirancang  mengandung manfaat yang besar untuk pengembangan diri, diantaranya untuk meningkatkan keterampilan sosial seperti untuk membangun karakter, sifat-sifat kepemimpinan, dan kemampuan kerja sama grup atau kelompok.

Media Kegiatan dikemas dalam bentuk Ice breaking, membidik harapan, mengapai pulau biola, menembus batas “Ciwaluh Kampung Kecil Negeriku”

  1. Membidik harapan, kegiatan  menembak di pusat latihan menembak SPN Lido. Dalam latihan ini peserta menembak sasaran perorangan dan kelompok. Diharapkan dalam mengerjakan sesuatu harus focus dan penuh kosentrasi serta ketenangan.
  2. Mengapai Pulau Biola. Kegiatan berkelompok untuk membuat rakit menyeberangi Danau Lido. Perlu perencanaan, strategi dan kekompakan agar rakit yang dibangun tidak terbalik dan melaju dengan kencang hingga sampai ke tujuan.
  3. Menembus Batas “Ciwaluh Kampung Kecil Negeriku”. Kegiatan ini berjalan kaki sejauh tiga kilo meter, menurun dan mendaki di lereng perbukitan hingga ke kampung Ciwaluh. Selama di kampung Ciwaluh harus tidur dengan apa adanya di rumah-rumah masyarakat. Latihan ini diharapkan mampu merasakan dan melihat kondisi orang lain serta membuat perencanaan pembangunan yang cocok dengan daerah tersebut.

Dari beberapa kegiatan tersebut diharapkan peserta dapat :

  1. Mengasah kemampuan environmental scaning dengan aplikasi/ perspektif pengetahuan geopolitik, geostrategic (deep practice).
  2. Terasahnya karakter kepemiminan sebagai nasional strategi leader (change maker, leadership, pembangun intangibles)
  3. Terasahnya entrepreunership
  4. Semakin eratnya chemistry dan networking strategi di antara peserta
  5. Terasahnya kearifan dan kerendahan hati.

Para peserta sangat antusias selama mengikuti outward bond bahkan sekelas Letjen M. Munir (Pangkostrad), Irjen. Pol. Putut Bayu Seno (Kapolda Jabar), Mayjen. Doni Monardo (Wadan Kopasus), Mayjen. Bachtiar (Gubernur Akmil), Laksda. Agus Purwanto (Gubernur AAL) begitu bersemangat mengikuti semua kegiatan.

Bahkan Mayjen Doni Monardo, harus mengeluarkan kemampuan renangnnya untuk mendorong rakit agar bisa melaju di danau Lido, karena rakit yang dibangun kurang mantap dari perencanaan awal. Tapi berkat kegigihan rombongan yang beranggotakan 8 orang ini sampai juga di tujuan.

Begitu juga selama menginap di rumah masyarakat, para peserta yang umumnya para pejabat tinggi dengan berbagai fasilitas harus menginap di rumah warga yang hanya tidur beralaskan tikar. Tapi semua peserta merasa terharu dengan sambutan yang luar biasa dari masyarakat.

Pada malam hari keletihan peserta terobati, dengan munculnya pasukan pemijat. Ternyaata kampung Ciwaluh memiliki stok pemijat yang cukup banyak. Dari 60 KK penduduk Ciwaluh, setidaknya ada 20 orang yang ahli pijat memijat. Seharusnya pemijat dari Ciwaluh ini di ekspor ke Jakarta yang konon kekurangan pemijat yang professional.

Saking banyaknya, beberapa peserta didatangi dua sampai tiga pemijat. Akhirnya kebijaksanaanlah yang diambil. Seperti Pak Agus Purwoto, sudah ditungguhi tiga pemijat, jadinya badan Pak Agus harus dibagi rata, yang satu mijat kaki, yang satunya lagi mijat badan dan pemijat lainnya dapat jatah kepala…asyik pak Agus..

Nasib serupa juga dialami Pak Agus Condro, sudah ditungguhi oleh dua pemijat. Kayak raja-raja Arab, sambil tiduran Pak condro dipijat dua orang, tapi jangan curiga semua pemijatnya adalah laki-laki.

Yang paling mantap, nasib Pak Budiyanto, salah seorang Ketua PKS ini dapat pijatan hingga pukul 4 pagi. Karena sambil menonton bola di televisi yang menyiarkan sepak bola piala Eropah. Dengan badan yang besar dan kayak pesumo dari Jepang Pak Budi sangat keletihan menempuh perjalanan sehari sebelumnya. Bahkan selama perjalanan sering di papah oleh peserta lainnya.

Pada malam terakhir, tibalah saatnya menghibur warga Ciwaluh dengan mendatangkan organ tunggal dengan artis cantik dari Kota kembang Bandung. Bermunculan artis-artis berbakat, terutama Pak Surahman dan Pak Budy, Pak Putut dan Pak Munir. Suasana tambah asyik dan gembira, dengan joget ria yang sangat elok goyangnya terutama  Ibuk Prof. Endang, yang merupakan seorang professor tari.

Acara yang dipandu peserta yang mantan penyiar TVRI era 80-an, Marlinda Irwanti itu harus berakhir pukul 12.00 malam, setelah pembacaan puisi yang sangat menyentuh oleh Bapak Barmawi kemudian lagu Kemesraan karya Iwan Falls.

Lalu, kapan outward bound mulai dikenal sebagai metode pelatihan untuk pengembangan diri (personal development) dan tim (team development)

KIsahnya pada tahun 1933 Dr. Kurt Hahn dari Jerman melarikan diri ke Inggris karena bermusuhan dengan Hitler. Kemudian mendirikan  lembaga pendidikan outward bound di Aberdovey, Wales tahun 1941, yang bertujuan untuk melatih fisik dan mental para pelaut muda, untuk  menghadapi ganasnya pelayaran di lautan Atlantik pada saat berkecamuknya Perang Dunia II.

 

Pelatihan ini memakai kegiatan mountaineering (mendaki gunung)dan petualangan laut sebagai medianya. Kurt Hahn sendiri beranggapan bahwa kegiatan berpetualang, melainkan sebagai wahana berlatih anak-anak muda menuju kedewasaan.

Metode pelatihan ini kemudian berkembang dan mulai ditiru di banyak tempat, bahkan sampai akhirnya diperkenalkan di luar Inggris. Setelah era Perang Dunia II, lembaga serupa dibangun di berbagai daerah di Inggris, Eropa, afrika, Asia, dan Australia. 

Di Indonesia, kegiatan outward bound  marak tahun 2000-an dengan banyaknya lembaga yang menawarkan kegiatan ini. Bahkan sudah menjamur ke seluruh provinsi. (Mursyid Sonsang dari berbagai sumber)





Abdurrahman Sayoeti Bangkitkan Harga Diri Jambi

23 05 2011

Drs. H. Abdurrahman Sayoeti, Minggu (22/5/2011) telah pergi selama-lamanya ke alam peristirahatan yang abadi. Namun, pamong senior itu akan tetap dikenang oleh masyarakat Jambi atas pengabdian dan karyanya. Selama menjabat Gubernur Jambi hampir sepuluh tahun, nama Jambi berkibar ke pentas nasional dan internasional.

Zaman pemerintahan Abdurahman Sayoeti, infrasutruktur jalan dan jembatan sudah rampung oleh Gubernur pendahulunya Maschun Syofyan. Hubungan jalan dari Kota Jambi ke kabupaten-kabupaten mulus dan bagus serta Jambi diuntungkan dengan selesainya pembangunan jalan trans Sumatera yang melewati beberapa kabupaten menuju provinsi tetangga.

Pembangunan ekonomi Jambi mengeliat dengan cepat dari sector kehutanan, perkebunan dan pertanian. Puluhan industri kehutanan dan perkebunan tumbuh bak jamur, pabrik plywood, bubur kertas, pabrik kelapa sawit, karet dan lain sebagainya.

Masyarakat Jambi hidup berkecukupan, mencari pekerjaan tidak terlalu susah dan daerahnya aman “ Zaman ini enak nian mencari uang di Jambi,” ujar Mukhlis. Akibatnya, ribuan orang pergi merantau ke Jambi, untuk merubah nasibnya. Potensi ini dimanfaatkan betul oleh Abdurhaman, dengan slogan Jambi tempat teraman untuk berinvestasi.

Menurut teori perkembangan manusia, ketika kebutuhan dasar sudah tercukupi, manusia ingin dihargai. Untuk mewujudkan harga diri, perlu melakukan kegiatan-kegiatan seni budaya dan olahraga.

Maka tak heran, pada dekade tahun 1980-an. Orang di luar Jambi, masih banyak yang mengatakan Jambi bagian dari Sumbar dan sabagian mengatakan Jambi bagian dari Sumetara Selatan. “ Jambi itu dimana ya..masuk Palembang atau Padang,” ujar Steve Dombon, wartawan asal Irian Barat tahun 1992 lalu.

Berduet dengan Isterinya yang artis dan cantik Ny. Lily Sayoeti, Provinsi Jambi mulai dikenal secara nasional dan internasional. Mereka menggali potensi seni batik Jambi dan tariannya. Tidak tanggung-tanggung Tim Kesenian Jambi ini melalang buana ke Eropah dan Amerika serta Negara-negara Asia untuk mempromosikan batik Jambi dan tarian-trian Jambi.

Selain itu, tahun 1997 Provinsi Jambi menjadi tuan rumah MTQ tingkat nasional yang dibuka langsung oleh Presiden Soeharto. Pada waktu itu RCTI televisi swasta pertama yang sangat digemari masyarakat menyiarkan langsung MTQ itu setiap hari. Merupakan satu-satunya event MTQ disiarkan langsung oleh televisi swasta tersebut. Membuat nama provisni Jambi makin terkenal.

Begitu juga dengan bidang olahraga, nama Jambi selalu harum dengan masuknya Jambi sepuluh besar setiap PON. Sarana olahraga standar internasional dibangun di Kota baru. Untuk menongkrak prestasi dibajak beberapa atlet papan atas Indonesia. Seperti cabang renang, panahan dan lainnya.

Agar kegiatan itu diketahui banyak orang, Sayoeti sangat membutuhkan wartawan. Setiap tim kesenian Jambi tampil di dalam negeri dan luar negeri selalu membawa banyak wartawan. Selain itu perhatian terhadap wartawan khususnya PWI — memang satu-satunya organisasi wartawan waktu itu– sangat luar biasa, seperti bantuan tanah perkantoran berserta bangunan serta tanah untuk perumahan.

Hanya saja, kantor yang terwujud dan peresmiannya langsung oleh Pak Sayoeti, tahun 1998 lalu. Sedangkan perumahan PWI di Pondok Meja seluas 2 Ha, belum terwujud, hal ini bukanlah kesalahan dari Pak Sayoeti,, tetapi kesalahan PWI sendiri yang tidak mampu mewujudkannya, terutama kepengurusan PWI 10 tahun yang lalu.

Begitu banyak karya Pak Sayoeti, terutama mengangkat harga diri masyarakat Jambi. Begitu juga megangkat harga diri PWI Cabang Jambi dan wartawan umumunya. Selamat Jalan Pak Sayoeti,..moga Allah membalas dengan Surga. (Mursyid Sonsang)





Catatan 1 Bulan Zumi Zola Jadi Bupati

22 05 2011

Hampir dua bulan Zumi Zola menduduki jabatan nomor satu di Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Langkah awalnya jadi bupati sangat menyentuh; rapat dengan para staf hingga masuknya waktu Zuhur, kemudian melakukan shalat berjemaah di mesjid kompleks kantor bupati.

Beberapa hari kemudian Zumi mengunjungi desa dengan jalan kaki, naik speed boat dan sepeda motor. Dari satu desa ke desa lain dia mendapat sambutan meriah, sulit bagi masyarakat untuk membedakan apakah seorang bupati yang sedang mengunjungi mereka, atau seorang artis bernama Zumi Zola.

Kegiatan Zumi Zola mendapat sambutan meriah baik di daerahnya sendiri hingga merambah ke kabupaten lain. Ketika menghadiri pembukaan MTQ di Kerinci, begitu antusiasnya warga ingin melihat atau bersalaman dengan “Sang Pangeran dari Kampung Manggis” ini, begitu juga saat acara di kampus UNJA, para mahasiswa histeris menyambut Zumi Zola.

Dalam waktu relative sangat singkat, langkah yang dilakukan Zumi Zola sebagai bupati membangun citra positif di tengah masyarakat. Apalagi kegiatan-kegiatan tersebut dipublikasikan secara luas melalui Humas Setda Tanjab Timur dan berbagai media massa.

Dalam teori-teori dasar komunikasi politik langkah yang dilakukan Zumi Zola dan Humasnya termasuk ke dalam teori jarum hipodermik (hypodermic needle theory) bahwa pesan politik apapun yg disampaikan kepada khalayak, apalagi melalui media massa, pasti menimbulkan efek positif berupa citra yang baik, penerimaan atau dukungan.

Persoalan sekarang, apakah Zumi Zola popular di mata masyarakat Tanjung Jabung Timur dan Provinsi Jambi, karena prestasinya sebagai artis atau sebagai bupati? Jika dia popular saat ini karena keartisannya, Zumi harus bekerja keras agar kepopuleran itu diikuti dengan prestasi atau pencapaian sebagai bupati Tanjung Jabung Timur.

Terdapat ratusan masalah yang harus diselesaikan Bupati muda ini, diantaranya masalah infrastruktur dasar seperti pembangunan jalan, jembatan, air bersih dan lainnya. Di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, sekitar 50 persen desa dari total 63 desa di kabupaten tersebut, tidak bisa dijangkau dengan transportasi darat. Masalah penyediaan air bersih juga belum dapat dientaskan dari wilayah itu.

Kalau Zumi mau memfokuskan perhatian pada pembangunan infrastruktur dasar ini, dan berkorban tenaga untuk mengunjungi seluruh desa selama lima tahun ke depan, ini akan menjadi modal yang cukup besar agar dia bisa ‘naik kelas’ untuk bertarung merebut kursi Gubernur Jambi tahun 2015 mendatang.

Namun ada sedikit suara sumbang menyangkut putus-nya hubungan Zumi Zola dengan pacarnya Ayu Dewi. Meski ini masalah pribadi, karena Zumi Zola pejabat publik, persoalan pun memasuki ranah dan konsumsi publik. Masyarakat merasa berhak untuk tahu. Tapi sayangnya, Zumi tak berkenan menjawab satupun pertanyaan wartawan berkenaan masalah tersebut.

Meski beberapa hari kemudian. Zulkifli Nurdin –Bapak Zumi Zola yang juga Mantan Gubernur Jambi– mengundang beberapa wartawan di Kampung Manggis untuk menjelaskan persoalan tersebut, dan masalah putusnya Zumi dengan Ayu dianggap telah selesai dan jelas, namun orang banyak mengharapkan statemen itu keluar dari mulut Zumi Zola sendiri bukan dari bapaknya.

Memang sah-sah saja bila yang menjelaskan masalah tersebut adalah bapak atau keluarga Zumi karena masalah tersebut termasuk wilayah pribadi, namun perlu dipikirkan apakah seorang Bupati sekelas Zumi akan seterusnya seperti itu? Tidakkah ini akan memperkuat sinyalemen bahwa di belakang Zumi ada ‘bupati-bupati’ lain? Mudahan sinyalemen itu keliru. (Mursyid Sonsang, Ketua PWI Cabang Provinsi Jambi)





Gubernur, Bupati/Walikota Setengah Dewa

22 05 2011

Apa yang dikenang masyarakat Indonesia, ketika mantan Presiden Indonesia Soeharto berkuasa. Jalan-jalan mulus dari jalan negara hingga jalan kabupaten, program listrik masuk desa, keamanan dan kenyaman mantap dan lainnnya.

Kenangan itu tidak ilusi semata, berdasarkan hasil survey baru-baru ini tidaklah mengejutkan kita semua, kalau menempatkan Soeharto sebagai Presiden Indonesia yang paling berhasil.

Hasil survey tersebut tentu saja mendapat tanggapan pro dan kontra, terlepas dari semua itu ambil hikmahnya saja untuk cermin bagi pemimpin saat ini mulai dari presiden, gubernur, walikota/bupati.

Khusus di Provinsi Jambi, beberapa bupati/ walikota akan dilantik, setelah memenangkan Pemilukada di daerahnya masing-masing. Apa yang dilakukan Soeharto bisa menjadi contoh, tidak perlu muluk-muluk dengan visi dan misi yang sangat fantastik.

Salah satu yang sering dikeluhkan masyarakat buruknya kondisi jalan terutama jalan-jalan kabupaten dan provinsi. Kalau para pemimpin itu ingin menjadi “setengah dewa” fokus masalah jalan ini. Satu sampai dua tahun menjadi pemimpin persoalan ini sudah selesai, memperbaiki jalan yang rusak terutama ke sentra-sentra pertanian dan perkebunan.

Kalaulah jalan ini mulus ekonomi masyarakat dengan sendirinya akan terangkat, apalagi sebagian masyarakat Jambi hidupnya di sector perkebunan kelapa sawit dan karet serta pertanian lainnnya. Mereka akan mudah dan tidak menambah biaya untuk membawa hasil perkebunan ke pasar terdekat atau ke Kota Jambi.

Ambil contoh saja, kondisi jalan-jalan di Kota Jambi sendiri banyak yang rusak, itu terjadi di pusat pemerintahan. Bagaimana jalan-jalan kabupaten yang nun jauh di sana. Pemandangan yang biasa, ketika petani sawit harus berhari-hari membawa buah sawitnya ke pabrik terdekat.

Selama ini pemerintah kota dan kabupaten sudah berbuat untuk memperbaiki jalan-jalan yang rusak ini, tapi yang terjadi, bulan ini diperbaiki beberapa bulan ke depan hancur lagi. Salahnya tidak ada pengawasan, karena proyek jalan dijadikan proyek balas budi.

Persoalan ini sangat sederhana, perbaikan yang dilakukan asal jadi. Karena sebagian besar yang melakukan pekerjaan tidak kontraktor yang berpengalaman, banyak kontraktor dadakan.

Seharusnya, kalaulah kepala daerah membagi-bagi proyek untuk orang –orang yang membantu saat Pemilukada. Khusus untuk jalan berikanlah kepada mereka yang memiliki alat dan berpengalaman. Para birokrasi yang mengurusnya jangan terlalu banyak memotong nilai proyeknya.

Sang kepala daerah harus mengawasi langsung dan mencek ke lapangan, katakan jangan main-main dalam mengerjakan jalan ini, kerjakan sesuai dengan perencanaan, jangan pikirkan untuk saya. Kalau ini dilakukan, Insya Allah beberapa tahun ke depan, kita akan melihat jalan-jalan di Kota Jambi dan jalan-jalan kabupaten akan mulus.

Bagi sang kepala daerah ratingnya akan naik dengan sendirinya, warga akan mengatakan. “ Selama lima tahun bapak ini jadi walikota/bupati/ gubernur jalan di daerah kito bagus.” yang lain akan menyambung “Kito pilih lagi bapak ini untuk jabatan kedua, mudahan jugo kesejahteraan kito biso naik.”. Ditimpali lagi oleh Iwan Fals dalam sebuah lirik lagunya.” Manusia Setengah Dewa”( Mursyid sonsang)





Sang Pelopor itu Akan Tetap Dikenang

19 05 2011

Drs. H. Abdullah Hich mengakhiri masa jabatannya tanggal 12 April 2011 lalu, setelah lebih sepuluh tahun menjabat Bupati Tanjung Jabung Timur. Banyak suka dan duka yang dirasakannya, tapi jiwa sebagai pamong yang kenyang dengan pengalaman, dia berhasil membuka keterisoliran daerah di Pantai Timur Jambi ini. Bahkan nama Tanjung Jabung Timur mencuat ke pentas nasional dengan menggelar Hari Harganas yang dihadiri langsung oleh Presiden SBY.

Saya kenal dengan Hich beberapa tahun lalu, perkenalan seorang wartawan dengan seorang pejabat melalui liputan. Beberapa liputan tentang Tanjung Jabung Timur saya ekpos di RCTI dengan Hich sebagai nara sumber. Perkenalan lebih dekat ketika anak pertama beliau kawin, tiba-tiba saya di datangi oleh Humas, “Bisa ndak, acara perkawinan itu tayang di RCTI,” ungkap Willy.

Saya berpikir tujuh keliling, masak acara kawin bisa masuk ke RCTI. Tapi saya ingat, pada waktu itu RCTI punya program budaya dan wisata yang ditayangkan setiap pagi minggu dengan durasi 15 menit hingga 30 menit. Lalu saya mengusulkan kepada Willy agar perkawinan itu dirancang dengan adat Melayu pesisir, agar liputannya masuk ke dalam budaya.

Semua skenario di siapkan mulai dari prosesi antaran, berbalas pantun, berinai hingga bersanding di pelaminan. Saya beruntung waktu itu punya kameramen handal, Asnawi yang jago mengambil gambar untuk liputan panjang. Wal hasil beberapa minggu kemudian berita perkawinan itu tayang selama 15 menit dalam program nuansa pagi akhir pekan di RCTI. Dalam sejarah saya meliput di Provinsi Jambi itulah satu-satunya perkawinan yang saya liput dan ditayangkan di RCTI.

Waktu terus berlalu, tiba-tiba ketika cucu pertama beliau lahir. Saya juga diundang untuk meliput acara gunting rabut atau kekah. Tampaknya keluarga beliau kepingin lagi acaranya tayang di RCTI. Juga skenorio budaya lebih ditonjolkan, prosesi kekah budaya Melayu Jambi Pesisir. Liputan itu tidak di RCTI saja yang ditayangkan, tapi juga di Kompas juga diberitakan hampir setengah halaman.

Dalam cerita di atas yang ingin saya katakan, Pak Hich ingin bahwa Tanjung Jabung Timur harus dikenal secara nasional dari sisi budaya dan adatnya. Beliau rela menyulap sebuah perkawinan yang konsep awalnya adat nasional menjadi sangat tradisi, tentunya banyak tetek bengek adat yang dilakukan. Tapi kedua acara adat perkawinan dan kekah sukses besar..

Beberapa kali diskusi dengan Pak Hich, jelas sekali konsep pembangunan yang beliau rancang, mengingat Tanjung Jabung Timur yang selama ini daerah terisolir harus dibuka infrastruktur dasar, seperti jalan dan jembatan, setelah itu pendidikan, kesehatan dan fasiltas umum listrik dan telepon.

Waktu itu tahun 2002 beliau sudah menggelar konsep pendidikan dan kesehatan gratis, belum satupun daerah lain yang mencanangkan. Walau secara nasional nama beliau kalah dengan Alek Nurdin yang terkenal sebagai pelopor pendidikan dan kesehatan gratis di Indonesia. Menurut saya tidak terkenalnya beliau karena kurangnya informasi yang mencuat di media-media nasional tentang program pendidikan dan kesehatan gratis itu.

Banyak saya bertemu dan berdiskusi dengan para pejabat, selalu memiliki konsep yang bagus. Tapi sebatas wacana, pelaksanaannya jauh pangang dari pada api. Namun Pak Hich betul-betul mengimplementasikan konsep secara nyata.

Misalnya masalah pendidikan, selama ini orang malas menjadi guru atau tenaga kesehatan di pelosok-pelosok Tanjung Jabung Timur. Masuk ke Tanjabtim hanya sebagai batu loncatan, setelah itu mengaju pindah. Begitu juga kalau ada pejabat yang pindah ke Tanjung Jabung dikonotasikan “sebagai buangan”

Mengakali itu, dengan konsisten Pak Hich menerapkan peraturan para guru dan tenaga kesehatan, tidak boleh pindah. Paksaan itu tidak saja dijalankan dengan konsisten juga diikuti program menghargai guru, salah satunya mereka disekolahkan ke Pulau Jawa dan diberi tunjangan khusus. Putra-putri Tanjabtim yang lulusan SLTA disekolahkan ke berbagai universitas secara gratis, agar mereka bertugas di kampung halaman sendiri.

Dalam perjalanan sebagai Bupati Tanjung Jabung Timur, sedikit banyak beliau juga diuntungkan dengan naiknya putra Tanjung Jabung Timur menjadi Gubernur Jambi, Zulkifli Nurdin. Beberapa program yang hingga kini masih kontroversial, misalnya pembangunan jembatan Muara Sabak sedikit banyak, hadirnya jembatan ini dapat dukungan dari Zulkifli Nurdin begitu juga program yang lainnnya. Akhir kata, sebuah pantaun untuk Pak Hich “Bila memandang ke muka laut, Nampaklah sampan mudik ke hulu. Bila terkenang mulut menyebut, Budi yang baik ingat selalu.” (Mursyid sonsang)