HOTEL, RUKO VS RUMAH PANGGUNG

28 10 2008

KOTA JAMBI– Lima tahun terakhir, beberapa kota dalam Propinsi Jambi berlomba-lomba jadi kota ruko. Lihat saja Kota Jambi ratusan ruko berdiri, beberapa mall dibangun,. hotel berbintang berdiri megah serta bangunan lainnya. Persoalannya adalah kearifan para pembuat kebijaksanaan Pemda Kota Jambi dan masyarakat untuk sedikit berpihak kepada lingkungan. Jawabannya, ruko-ruko, hotel dan mall yang dibangun secara sporadis dan sedikit sekali memperhatikan keseimbangkan lingkungan.

Lurah dan lembah ditimbun di berbagai sudut kawasan kota untuk di jadikan ruko. Daerah-daerah yang dulu genangan air berubah menjadi komplek perhotelan. Beberapa daerah di pinggir Sungai Batanghari berubah menjadi pusat perbelanjaan.

Menurut pengamat lingkungan, pola penimbunan itu hanyalah memindahkan banjir ke tetangga sebelah. Orang-orang kaya mengazab orang miskin. Kalau banjir terjadi, yang dulu terendam perumahan di sebelahnya. Pendapat ini bukan anti pembangunan, tapi membangun yang arif dengan lingkugan sekitar.

Pemda Kotalah yang memegang kendalinya, karena setiap membangun harus ada berbagai izin.. Tapi kenyataannya, izin itu hanya di atas kertas. Pernah seorang pejabat yang mengurus lingkungan mengeluh, dalam pembangunan Komplek Hotel Abadi Suite, lebih dulu keluar izin mendirikan bangunan dari pada izin HO- nya. Walau pada akhirnya semua izin keluar.

Sekarang di sekitar itu sudah berdiri megah, Hotel Suite Abadi dengan puluhan lantai, arena bermain air, ACC dan lahan parkir yang sangat luas. Semua itu dengan menimbun daerah genangan air, yang sudah ada bertahun-tahun yang lalu. Dampaknya, akan bisa kita lihat kalau banjir besar terjadi. Komplek Hotel Abadinya yang kebanjiran atau daerah sekelilingnya.

Padahal nenek moyang masyarakat Jambi punya kearifan tentang alam, banyak peninggalan mereka yang sampai saat ini patut dicontoh terutama oleh pemerintah dan masyarakatnya Salah satunya bangunan rumah panggang.

Alasan yang paling logis diciptakannya rumah panggung ini, “Alam takambang jadi guru” atau berguru dengan alam sekitar. Pada zaman dahulu sebagian besar penduduk Jambi memilih tinggal di pinggir sungai. Sebagai jalur transportasi, ekonomi dan sumber kehidupan, tapi juga sungai bisa membuat malapetaka. Di kala musim hujan, sungai-sungai yang ada meluap. Daerah yang paling duluan terendam sekitar pinggir sungai.

Tapi nenek moyang dahulu tidak kehilangan akal sehatnya, agar rumah mereka tidak terendam di kala banjir, mereka menciptakan rumah panggung. Tinggi tiang dari tanah, sudah diperhitungkan batas ketinggian air kalau banjir terjadi.

Kolong dibawah rumahpun sangat banyak fungsinya, untuk menyimpan perahu, tempat anak-anak bermain dan sebagainya. Tidak kalah pentingnya berjaga-jaga dari ancaman binatang buas.

Salah satu kearifan itu, masih dimiliki warga Desa Baruh, Kecamatan Tabir, Kabupaten Merangin. Sampai saat ini warga desa yang berjarak sekitar 275 km dari Kota Jambi dan 20 Km dari Kota bangko itu masih mempertahankan tradisi rumah panggung.

Desa yang berada tidak jauh dari Jalan Lintas Tengah Sumatera itu tampak sangat bersahaja, deretan rumah panggung tersusun rapi, perkampungan sepi di siang hari yang terlihat beberapa anak-anak sedang bermain dibawah kolong rumah. Orang tua mereka pergi ke sawah dan ladang. Sore hari mereka pulang bersamaan, di punggung perempuan menyandang ambung yang sangat khas, seperti ransel terbuat dari ancaman rotan.

Bentuk rumah panggung di Desa Baruh itu persis sama yang satu dengan yang lainnya. Saat ini ada 150 buah rumah yang masih kokoh dan sebagai tempat tinggal. Dari 150 buah rumah panggung itu, ada satu rumah yang sudah berumur 600 tahun lebih. Warga menamakannya rumah tuo.

Rumah tuo ini berdiri di atas 16 tiang peyangga segi delapan, dengan tinggi 2,5 meter dan luas 12 kali 18 meter persegi. Uniknya, sambungan antara tiang dengan tiang lain tidak memakai paku, tapi dengan sistim pasak. Keuntungan pasak ini, meredam getaran gempa. “Beberapa tahun terakhir sering gempa, insyaalah tidak satupun rumah disini yang retak, apalagi roboh,” ujar Iskandar.

Menurut Iskandar, salah seorang penghuni rumah tuo itu, pondasi rumah tuo dirancang mampu meredam getaran gempa, setiap tiang rumah diberi bantalan kayu , sebagai peyangga kalau terjadi pergeseran akibat gempa bumi.

Rumah tuo ini masih terawat dengan baik, karena didiami secara turun temurun dan mereka rawat dengan baik. Pewarisnya adalah anak perempuan, seperti yang berlaku dalam adat Minangkabau. Sampai saat ini sudah 13 keterunan yang mendiami rumah ini, dari keturunan pertama Undop Pinang Masak dan keturunan terakhir Siti Rahma. (Mursyid Sonsang)

Iklan




KETIKA HARGA SAWIT DAN KARET TERJUN BEBAS

28 10 2008

Puluhan Petani Ganguan Jiwa

ImageKOTA JAMBI – Bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda tahun 2008 ini, http://www.infojambi.com menurunkan laporan masihkah repuplik ini satu tumpah darah, satu tanah air dan satu bahasa. Kalaulah slogan itu dimaknai. Kita baru sebatas satu tumpah darah saja dalam kata-kata, secara hakekat tidak ada lagi rasa senasib sepenanggungan, rasa kepedulian sudah hilang. Terutama Pemerintahnya, tidak lagi punya sense of crisis. Khusus, bagi masyarakat Jambi, krisis turunnya harga sawit dan karet. Sampai hari ini, belum ada langkah kongret yang dilakukan pemerintah daerah, terutama Dinas Pekebunan Propinsi Jambi. Ironisnya puluhan petani sawit menjadi stres dan ganguan jiwa…berikut laporannya.

Kalau Anda melewati Propinsi Jambi, sepuas mata memandang terlihat hamparan kebun kelapa sawit yang di selingi kebun karet. Pemiliknya sebagian besar adalah perusahaan besar PMDN dan PMA, dan sisanya milik pribadi masyarakat.

Menurut Kepala Dinas perkebunan Propinsi Jambi, Ali Lubis, total luas Kebun Kelapa Sawit di Propinsi Jambi sekitar 361 ribu hektar, 51 persen di antaranya milik petani plasma. Sedangkan milik swadaya masyarakat mencapai 87 ribu hektar. Sementara luas perkebunan karet mencapai 633 ribu hektar, sebagian besar milik pribadi masyarakat dan hanya 1000 haktar milik perusahaan.

Dengan anjloknya harga TBS kelapa sawit dan karet ini, yang paling terpukul adalah para buruh di perusahaan perkebunan kelapa sawit,  masyarakat kecil yang punya kebun satu hingga dua hektar, para petani plasma Kehidupan mereka sangat tergantung dari harga jual sawit.

Harus diakui, dalam sejarah persawitan di Propinsi Jambi, dalam dua bulan terakhirlah harga TBS  dan karet terjun bebas atau massa suram. Akibat krisis global dunia, terutama krisis keuangan Amerika. Harga sawit sampai akhir oktober 2008 ini, berkisar Rp 300 hingga Rp 800/kg, harga tersebut belum dipotong ongkos angkut dan upah dodos serta beli pupuk.” Kalau dihitung-hitung, bersih itu hanya Rp 80/ kg,” ujar Fauzi, pemilik kebun sawit di Bangko.

Lebih parah lagi, ratusan buruh kebun sawit dan Pabrik Kelapa Sawit, sudah ratusan yang tidak bekerja lagi, terutama buruh harian. “ Saya sudah berhenti bekerja, pabrik tidak lagi beroperasi,” ujar Udin, buruh lepas pabrik kelapa sawit PT. SAL di Bungo.

Sebelum dua bulan terakhir, selama bertahun-tahun lamanya para petani sawit/ buruh sawit dan petani karet, sangat menikmati indah dan nikmatnya jadi petani sawit dan karet,  Misalnya, harga kelapa sawit  TBS masih berkisar Rp 1000 hingga Rp 2000/ kg, sedangkan karet berkisar Rp 9000 hingga Rp 12.000/kg. Tergantung umur sawit dan kualitas karetnya.

Stabilnya harga sawit tahun-tahun lalu, membuat para petani atau pemilik kebun kelapa sawit, hidup sangat konsumtif. Penawaran kredit dari utang ke bank, kredit  mobil hingga perabot rumah tangga, mereka terima. Dalam hitungan mereka, harga sawit dan karet tidak akan turun. Tapi apa daya dua bulan terakhir harganya terjun bebas. “ Sebagian besar mereka utang ke bank, kredit mobil, dalam beberapa bulan mulai tidak terbayar. Akibatnya banyak yang masuk rumah sakit jiwa,” ujar H. Idris, petani sawit di Tempino, Kabupaten Muaro Jambi.

Hal itu dibenarkan Kepala Rumah Sakit Jiwa Jambi dr. Chairy Suryadi Indra, dalam dua bulan terakhir ada kenaikan pasien yang datang berobat, umumnya stres dan tidak bisa tidur, gara-gara harga sawit turun. Akibatnya kredit tidak terbayar, ”Rata-rata tiap hari yang berobat gangguan jiwa enam sampai delapan orang,’ ujarnya.

Dari data Rumah Sakit Jiwa, dalam empat hari terakhir yang berobat pada hari Sabtu 8 orang, Minggu 8 orang, Senin 6 orang, ”Umumnya para petani kelapa sawit, mereka berobat jalan,” tambahnya……..bersambung. (Mursyid Sonsang)