GULA ITU MANIS

21 09 2008

Menjelang Idul Fitri ini, orang sibuk memikirkan kue, terutama kaum ibuk-ibuk.  Betapa tidak, harga bahan pokok, naik dua kali lipat termasuk harga gula pasir. Setelah beberapa bulan lalu, naiknya harga minyak.

Salah satu bahan pembuat kue itu gula pasir, harganya juga melonjak tajam. Dari Rp 4000 tahun lalu kini sudah mencapai Rp 8000. Tanpa gula pasir, rasa kuenya hambar. Begitu juga minum kopi tanpa gula. rasanya pahit.

Banyak cara dilakukan orang untuk mendapatkan gula pasir ini, tiga bulan lalu masyarakat Jambi dikejutkan peristiwa  penghadangan truk membawa gula oleh oknum TNI Korem 042 Garuda Putih. Ironisnya truk yang membawa gula itu, merupakan hasil sitaan Polres Tanjung Jabung Barat yang akan dibawa ke Mapolda Jambi untuk pengusutan lebih lanjut. Diduga gula itu, hasil seludupan dari luar negeri.

Walau truk itu dikawal beberapa polisi, mereka tidak mampu melawan oknum TNI yang bersenjata lengkap menghentikan mereka. Lalu truk tersebu dibawa lari ke sebuah Gudang di Pal Lima, Kota Jambi. Kerjasama yang apik antara Kapolda Jambi dan Danrem 042 Garuda Putih/ Jambi, gudang gula itu ditemukan. Oknum tentara yang terlibat di proses secara hukum.  Kini kasusnya dalam persidangan mahkamah militer, konon pemecatan sudah menunggu sang koboy dari Jambi itu.

Sewaktu saya sekolah dasar tahun 1970-an di Bukittingi, sudah kebiasaan sebelum berangkat sekolah harus makan kenyang-kenyang agar di sekolah tidak jajan lagi, untuk menghemat serta baik untuk kesehatan. Suatu ketika, saya terlambat bagun lalu baru-buru berangkat ke sekolah, tidak sempat makan pagi. Maklum ke sekolah jalan kaki sejauh dua kilo meter dari rumah.

Bapak saya berpesan, kalau jajan “gula-gula tareh” saja, selain harganya murah juga mengandung kalori cukup banyak. Gula-gula tareh, semacam permen atau bon-bon, terbuat dari air tebu, melalui proses endapan. Agar lebih menarik, gula-gula tareh dibuat sepanjang jari telunjuk lalu dilapisi tepung beras. Rasanya manis sekali. Harganya Rp 5 empat batang.

Dalam ilmu biologi gula-gula tareh mengandung karbohidrat yang sangat tinggi, sebagai sumber energi dalam tubuh. Para petani sawah dan ladang di kampung saya, selalu membawa gula-gula tareh untuk cemilan, menjelang makanan di antar isterinya.

Ada lagi kata “gula-gula”, rasanya juga manis. Tapi harganya sangat mahal terkadang tidak ada patokannya. Kalau gula pasir harganya antara Rp 7000 hingga Rp 8000, begitu juga gula-gula tareh harganya empat biji Rp 5 ( dulu 1970, sekarang tidak dijual lagi).

Di saat negeri ini susah, sebagian orang berkantong tebal sangat menyenangi makan “gula-gula” ini. Mereka  bukan untuk berhemat, seperti kesukaan saya makan gula-gula tareh saat di SD dulu, tapi bagi mereka hanya untuk kesenangan se saat, untuk variasi serta alasan pribadi lainnya.

Kebiasaan makan “gula- gula” ini, dilakoni seseorang yang mendapatkan uang secara mudah, bisa lewat pemerasan, korupsi, merampok atau dapat menang lotre dan sebagainya. Kalau dari uang yang halal, mungkin akan berpikir sepuluh kali, apa lagi dari gaji.

Salah satu contohnya, dalam persidangan Al Amin Nasution (Politisi muda dari PPP Jambi) , kasus pemerasan terhadap Uzirwan Sekda Bintan, Kepulauan Riau, beberapa minggu lalu. Terungkap pembicaraan mereka, tentang gula-gula untuk dipakai karoke dan dikunyah di tempat tidur. Ternyata, Al Amin melakukan itu, karena uangnya mudah didapat, minta sana sini, peras si itu dan si anu.

Kegemaran mengunyah  “gula-gula” ini, sebetulnya sudah sejak lama, bahkan dari zaman kerajaan Yunani, Mesir, Kaisar-Kaisar Cina, para presiden…jadi jangan lah heran.

Kata “Gula-gula”  dalam kamus bahasa Indonesia, diartikan cewek simpanan, cewek peliharaan. Mereka tidak dinikahi secara resmi, tapi dinafkahi secara rutin. Sampai kedua-duanya bosan lalu bubar………(Mursyid Sonsang)

Iklan