Semalam di Sikuai Island…

11 04 2010

fathur anak ku

fathur

SIKUAI ISLAND belum begitu popular di telinga pewisata tanah air. Pulau mungil berukuran tak lebih dari 40 Ha ini terletak di pesisir barat pulau Sumatra, termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Pesisir Selatan Sumatera Barat. Yang menarik dari pulau tersebut adalah pemandangan alamnya yang seindah postcard pantai Hawai dan letaknya yang di tengah Samudra Indonesia. Pulau yang pernah sepi diguncang isu tsunami beberapa tahun lalu, kini menggeliat lagi. Saat ini pulau tersebut telah dilengkapi alat pendeteksi tsunami yang alarmnya dirancang berbunyi 30 menit sebelum tsunami terjadi.
Perjalanan ke pulau Sikuai ditempuh dengan menggunakan perahu motor kecil bermuatan sekitar 40 orang, berangkat dari dermaga Wisata Bahari Arau di Muara Kota Padang. Melewati bukit-bukit yang mencuat dari dasar laut dan ombak yang cukup tinggi pada bulan Juli, Sikuai pun menampakkan dirinya setelah 1 jam terombang-ambing di laut. Bagi pewisata yang tidak terbiasa goncangan laut, perjalanan ini bisa menguras isi perut. Namun jangan khawatir dulu, dengan persiapan yang sederhana seperti minyak kayu putih dioles ke perut, mengenakan celana korset yang menutup pusat plus jaket atau sweater hangat, kita dapat menikmati terpaan angin laut dengan santai.

Dari jauh telah terlihat pantai Sikau yang indah, dengan barisan nyiur melambai seakan menyorakkan selamat datang. Di perbukitan terlihat puluhan rumah panggung yang terbuat dari kayu. Di cottage tersebutlah para wisatawan akan diinapkan setelah sebelumnya mendarat di sebuah dermaga kecil.

Berbeda dengan pelayanan di penginapan lain, receptionis Sikuai hanya memberikan kunci dan denah cottage serta keterangan seadanya. Tidak ada pegawai yang akan mengantar tamu ke tempat penginapannya. Konsep self service yang diterapkan resort ini barangkali kurang disukai oleh sebagian pengunjung, terutama bagi mereka yang kehabisan tenaga karena goncangan ombak. Namun bagi pengunjung lainnya, terutama para bule, konsep kemandirian dan privacy ini menjadi pilihan tersendiri.

Tarif yang dikenakan kepada pengunjung terhitung mahal, Rp350.000 per orang per hari (bukan tarif per kamar seperti penginapan lain di tengah Kota Padang). Masih ada tarif lain yang lebih tinggi, hingga Rp 1 juta per orang per hari. Dengan tarif seperti itu, pengunjung mungkin berharap akan memperoleh fasilitas kamar yang lebih nyaman namun pada kenyataannya hanya sebuah kamar dengan 2 ranjang single bed, handuk, sabun dan kamar mandi tanpa air panas. Jangan coba-coba gosok gigi atau berkumur menggunakan air dari kran, anda akan merasakan asinnya air laut di mulut anda.

Namun semua itu akan segera terlupakan begitu melihat deburan ombak di pantai yang seakan memanggil-manggil untuk berenang. Pengunjung yang paling bersemangat biasanya adalah anak-anak, yang tanpa menunggu kawalan orang tua segera mencebur ke laut. Tidak usah khawatir mereka akan terseret ombak karena di pantai yang dangkal terdapat bebatuan karang kecil yang terjal yang dengan cepat menyurutkan minat mereka berenang. Bila ingin berenang dengan nyaman, dianjurkan menggunakan sepatu karet ringan, atau bagi para dewasa dapat berenang di perairan yang lebih dalam dan di sini bebas karang. Atau berenang di kolam renang yang tersedia di resort ini.

Bosan berenang, pengunjung dapat berjalan mengitari pulau sambil cuci mata, menikmati suguhan alam nan elok, berfoto di spot alam yang cantik, bercerita dan tertawa sambil berjalan naik turun melewati jogging track yang dibangun sekeliling pulau. Beberapa pengunjung lainnya mengitari pulau dengan menggunakan sepeda angin yang disewa dengan tarif Rp.50.000 per jam. Aktivitas lain yang dapat dilakukan di sini adalah canoing, diving, dan snorkeling. Semua peralatan tersedia untuk disewakan.

Berwisata ke Sikuai Island merupakan paduan antara keindahan, petualangan dan kebebasan. Pewisata di pulau ini tidak akan diganggu oleh penduduk lokal yang menjajakan makanan atau souvenir. Bagi anda yang ingin menyepi, inilah tempat yang ideal untuk berwisata. Bagi pewisata dengan rombongan besar atau keluarga, tempat ini sebenarnya bisa jadi pilihan asal membawa persiapan yang memadai. Karena di pulau ini tidak terdapat café atau mini market, rombongan yang membawa anak-anak diharapkan membawa sendiri bekal atau jajanan. Tidak ada salahnya juga membawa kompor barbeque lengkap dengan tabung gas serta bahan untuk dimasak, sosis atau daging panggang. Pasti…, wisata di Sikuai Island menjadi lebih menyenangkan dengan pesta barbeque di tepi pantai. (Mursyid Sonsang dan Asnelly Ridha Daulay)

Iklan




HBA Miliki Personal Branding

11 04 2010

hasan basri agus//dok/ pemda sarolangun

Saat itu saya sangat terkesima, bersua dengan  HBA ketika melayat isteri salah seorang wartawan di Kota Jambi meninggal dunia. Pada waktu itu HBA menjabat Sekda Kota Jambi. Tidak dalam posisi ingin mencalonkan diri jadi Walikota Jambi atau posisi saat ini mencalonkan diri menjadi Gubernur Jambi.

Apa yang dilakukan HBA itu, suatu bentuk  personal branding yang dinyatakan lewat orang lain. Orang-orang yang datang melayat  bergumam dalam hatinya “HBA sangat memperhatikan wartawan, isteri wartawan saja meninggal dia datang melayat”.

Dalam kurun 5 tahun terakhir, beberapa kali kami pengurus PWI Cabang Jambi bersilaturahmi dengan HBA. Tawaran silaturahmi dari PWI, tidak harus ditunggu berlama-lama, atau boleh dikatakan HBA menyisihkan waktu atau memprioritaskan pertemuan itu.

Pertemuan itu tidak disia-siakan HBA untuk menjelaskan program pembangunan yang sedang dirancang, dan pertanyaan yang sangat kritis sekalipun dijawab dengan gamblang.

Sebaliknya HBA juga merespon kesulitan yang dialami PWI, terutama masalah dana. Karena PWI Cabang Jambi, salah satu PWI cabang di Indonesia yang anggaran tidak ada di APBD. Sedangkan PWI Sumbar, Sumut, Riau dan daerah lainnya, Anggaran PWI dimasukkan ke APBD.

Program yang cukup menyejukkan bagi media diterapkan Pemda Sarolangun satu tahun terakhir. Harus jujur kita lihat, sepuluh tahun terakhir, Pemda Provinsi dan Kabupaten lainnya. Ada terkesan membesarkan media yang telah besar, serta mematikan media yang kecil.

Dalam pembagian kue iklan, media besar yang dimiliki satu group melibas habis kue tersebut. Media-media kecil tinggal gigit jari, yang pada akhirnya media itu mati suri atau jadi media “Tempo” ….tempo hidup…tempo mati. Dan wartawannya berkeliaran dimana-mana jadi wartawan CNN….Cuma Nanyo-Nanyo..bae.

Saat ini di Provinsi Jambi berbagai macam iklan-iklan bernuansa politik bertebaran di mana-mana. Apa yang dilakukan sang calon ini, sebuah strategi pencitraan. Temanya hampir seragam, tentang kerakyatan dan janji-janji untuk membangun daerah bila terpilih. Lalu muncul iklan politik pilkada yang menampilkan berbagai macam “perbuatan baik” dari tokoh-tokoh calon gubernur. Dari sekedar adegan menyumbang sesuatu, memeluk anak kecil, berjalan bersama rakyat di pedesaan sampai simbol-simbol menokohkan sang calon kepala daerah sebagai orang arif bijaksana.

Memang sang calon harus pandai menjual diri kepada masyarakat, selain pendekatan secara pribadi juga pendekatan dengan visi dan misi. Banyak calon dalam melakukan sosialisasi kelihatan dipaksakan atau sengaja dibuat-buat.

William Liddle yakin bahwa era politik sekarang adalah era politik ketokohan (2009). Panggung politik tidak lagi dimeriahkan oleh pertarungan ideologi atau aliran, seperti teori antropolog terkenal Clifford Geertz (1964), walaupun selama ini kita banyak yang terpasung dengan teori itu.

Pertarungan sekarang kata Liddle lebih banyak diwarnai oleh pencitraan dan jualan pesona para kandidat. Partai Demokrat ternyata telah memanfaatkan momentum yang tepat di era politik pencitraan ini, yaitu dengan menjual popularitas Susilo Bambang Yudhoyono. Dan SBY terpilih untuk kedua kali menjadi Presiden Indonesia.

Pencitraan itu memang harus direncanakan, bahkan para calon dari presiden, gubernur, bupati harus rela mengeluarkan uang milyaran rupiah untuk membangun pencitraan ini. Mulai dengan menyewa konsultan pencitraan hingga memasang iklan di mana-mana.

Sebuah mantra di dunia PR (Public Relation) yang didengung-dengungkan sejak dulu. Strategi PR hadir sebagai alat untuk membantu mendekatkan sebuah rencana menuju ke sebuah keberhasilan.

Jika iklan dihadirkan untuk menunjukkan sebuah produk atau seorang tokoh yang memuji-muji dirinya sendiri lewat jargon-jargon bombastis khas iklan, : Akulah yang terbaik, Saya yang memberikan Solusi, Saya pemimpin Anda, Pilihlah Saya, Saya siap membangun Jambi. Hal itu terdengar nonsens, omong kosong yang digelontorkan jargon iklan, seolah mencoba menggunakan strategi komunikasi KECAP Nomor Satu !!!
Maka PR melakukan hal yang berbeda. PR membentuk persepsi personal branding yang dinyatakan lewat orang lain. Syarat pertama yang harus dilalui adalah kita berusaha membuat seseorang tokoh dikenal bukan karena tampilan narsis pada iklan. Melainkan sebuah strategi pencitraan atas dasar komentar banyak orang atau sebuah kegiatan yang spektakuler yang membuat seorang tokoh mendadak menjadi terkenal di masyarakat.

Dilihat dari biayanya, strategi PR jauh lebih murah dibandingkan strategi iklan. PR dapat ditujukan secara fokus pada setiap segmen masyarakat. Bahasanya bisa berbeda-beda sesuai tingkat intelektualitas.
Dari uraian di atas, yang ingin saya katakan, apa yang dilakukan HBA memperhatikan wartawan lahir dan bathinnya, suatu bentuk pencitraan yang jauh-jauh hari telah dilakukannya –tidak menjelang Pilgub saja–.
Apa kata pepatah “tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta”. Kalau sudah ada cinta, pilihan terserah anda. (Mursyid Sonsang, Ketua PWI Cabang Provinsi Jambi, Pimpinan Redaksi http://www.Infojambi.com)