KENAPA MUDIK ATAU PULANG KAMPUNG

23 09 2008

Kenapa mudik atau pulang kampung

Menjelang lebaran Idul Fitri ini, kita dipusingkan dengan pertanyaan mudik kah ?. Tampaknya mudik atau pulang kampung, sudah menjadi ritual penting, setiap tahunnya, sama pentingnya dengan memestakan anak kalau kawin,” Malu juga ngak pulang, dikatakan kita miskin nian,” itulah komentar Anton, teman sekantor menjawab pertanyaan mudik.

Zaman komunikasi tanpa batas, kiranya mudik tidaklah terlalu penting. Teknologi telpon, internet dan lainnya bisa membantu silaturahmi itu, kita bisa melihat, berbicara sepuas-puasnya dengan sanak saudara, asal cukup pulsa saja. Kalau dihitung-hitung lebih murah biayanya dibanding harus memboyong satu keluarga ke kampung halaman.

Ada beberap alasan kenapa orang mudik atau pulang kampung saat lebaran ?

  1. Sowan. Mudik boleh dikatakan sebuah tradisi yang mutlak harus dilaksanakan. Pada saat itulah ada kesempatan untuk berkumpul dengan sanak saudara yang tersebar di perantauan, selain tentunya juga sowan dengan orang tua.
  2. Menenangkan pikiran. Sembrautnya kota-kota besar, membuat kita ingin mencari tempat yang damai, sambil mengenang indahnya masa kecil dibelai orang tua, mengenang saat mencuri mangga tetangga, pacaran masa kecil melalui surat2an. .
  3. Liburan, Ketika bapak dan ibuk bekerja serta anak sekolah. Jadual libur yang sama jarang terjadi. Saat lebaran ini kesempatan sama-sama libur beberapa hari, Apalagi lebaran tahun 2008 ini, libur serentak ini cukup panjang. Saatnya anak-anak mencicipi kehidupan kampung serta berkenalan dengan keluarga besar kita.
  4. Pamer. Saat inilah kesempatan memamerkan isteri yang cantik/ suami yang kaya, mobil yang mahal, duit yang banyak kepada orang kampung. Mobil-mobil mewah yang disopiri wanita berambut merah bersileweran di kampung-kampung saat lebaran, bahkan di kota jarang kita melihat mobil semewah itu. Juga tidak kalah serunya, biasanya tiap-tiap mesjid menggelar acara minta sumbangan dari para perantau, berlomba-lombalah mereka menyumbang bahkan sampai ratusan juta.
  5. Ziarah. Tradisi mudik juga bertujuan untuk melakukan ziarah kubur kepada para keluarga yang telah tiada, Dengan ziarah kubur kita akan selalu ingat bahwa semua manusia akan mati, sehingga segala perbuatannya penuh hati-hati, dan patuh k epada hukum Ilahi.

Apa itu mudik atau pulang kampung

Bagi masyarakat Minang, kalau seseorang dari rantau pulang  ke kampungnya , dikatakan pulang kampuang bukan mudik. Perkataan itu, tidak saja pulang saat lebaran, tapi hari-hari biasapun demikian.

Sedangkan kata mudik, menjelaskan posisi suatu daerah. Misalnya, kita berada di posisi hilir, lawannya mudiaak. Orang mana kamu?, “oh dia orang mudiaak”. Pergi kemana kamu ?, “pergi ke mudiaak”.

Begitu juga dengan bahasa Jambi, orang orang dari Sarolangun, Merangin, Bungo dan lainnya yang berdomisili di Kota Jambi. Bila mereka mau pulang, “dibilang ke Mudik atau ke dusun”.

Tapi kata mudik berasal dari bahasa Jawa, di Indonesia sangat populer, sudah mewabah ke seluruh daerah, mungkin juga dalam bahasa sentralistik masih terasa. Berasal dari kata “Udik” yang berarti desa atau jauh dari kota. Mudik berarti kembali ke udik, ke asal usul kita.

“Rindu mudik atau rindu akan kampung halaman dalam bahasa Inggris disebut Homesick sedangkan dalam bahasa Jerman “Heimweh” . Weh = sakit, Heim = rumah, Heimat = tanah air. Kata Heim itu sendiri diserap dari bahasa Jerman kuno Heimoti = Surga.” Kata Mang Ucup dalam blognya.

Jadi pulang kampung, mudik, homesick, heim weh, dan bahasa lainnya, merupakan naluri purba manusia. Rindu akan kampung, asal usul, keluarga, bangsa. Suatu modal untuk mengakomodir semangat itu untuk yang lebih besar.. untuk kemakmuran Indonesia. (mursyid sonsang)