fari Vagnari a Pizzu…

23 07 2010

rakus/dok/ mbah google/

DALAM beberapa bulan terakhir pemandangan yang asyik di persimpangan jalan utama di Kota Jambi. Ibu-ibu, gadis remaja dan anak-anak menjajakan koran mulai dari pagi hingga siang hari. Fenomena ini sangat menarik, bahwa koran sudah jadi komuniti bagi masyarakat dan bisa dibeli dengan harga murah. Mudahan dengan harga Koran yang murah, masyarakat mau membeli koran dengan sendirinya menumbuh minat baca. Pada akhirnya menciptakan masyarakat yang cerdas dan berwawasan luas serta tahu hak dan kewajibannya.

Saat ini, minat baca anak-anak kita jauh menurun, akibat serbuan media elektronik, seperti televisi dan media internet. Anak-anak kita sangat jago menekan key pad HP, komputer, laptop. Tanpa melihat key pad mereka dengan sigabnya menulis pesan, bahkan dalam kondisi tertidur ayam. ” Ngapain capek-capek balik koran, buka internet di Hp lebih mudah. Berbagai informasi bisa di dapat, bahkan dari berbagai koran di Indonesia.” ujar Indah, pelajar SMP ternama di Kota Jambi

Apa kata Indah itu ada betulnya, apapun informasi baik pengetahuan umum dan mata pelajaran sekolah serta berita dapat dengan mudah di akses lewat internet. Apalagi, berinternet ria bisa dilakukan pakai HP. Kabarnya beberapa tahun mendatang tarif internet akan jauh lebih murah.

Anekdot-nya, anak-anak sekarang punya paman dan tante yang sangat cerdas dan setia. Sebut saja “paman google”, menyediakan berbagai informasi penting. Kalau paman google sibuk dan tidak bisa menjawab pertanyaan, bisa bertanya sama Tante Wiki maksudnya Wiki Pedia, begitu juga kalau tante Wiki ndak bisa menjawab, tanya sama teman sejawat melalui facebook, twitter, frendster atau yahoo masenger.

Walaupun demikian masa depan koran, beberapa tahun mendatang tidak akan punah. Malahan perkembangan koran harian di Provinsi Jambi meningkat tajam, setidaknya ada lima belas koran harian yang eksis saat ini. Bahkan sampai ke kabupaten. Akibatnya persaingan koran harian semakin ketat untuk mendapatkan iklan dan pelanggan. Dampak yang dirasakan masyarakat Jambi harga koran menjadi murah meriah. Masyarakat diuntungkan.

Dampak lainnya, wartawanpun mulai dihargai oleh perusahaan. Di saat dia memiliki kemampuan jurnalistik yang bagus, tentunya perusahaan akan mempertahankannya, bisa saja dengan kenaikan gaji atau fasilitas lainnya. Wartawan punya pilihan untuk pindah ke media lain, dengan gaji atau fasilitas yang menjanjikan.

Persaingan untuk mendapatkan iklan/advetorial dan langanan di pemda-pemda berlangsung ketat. Harus kita akui berkibarnya koran-koran harian selama ini, pemasukan terbesarnya dari “kue iklan” pemda provinsi dan kabupaten. Berbagai trik dilakukan untuk mendapatkan kue iklan tersebut. Dari memecah usaha penerbitan yang satu grup hingga fee yang besar bagi si pemberi kue tersebut. Memang tiap tahun kue iklan yang dibelanjakan Humas Pemprov, Pemda kabupaten/kota mencapai miliaran rupiah.

Bagaimana nasib koran mingguan, memang terjepit dengan kehadiran koran-koran harian ini. Dari puluhan koran mingguan yang terbit di Provinsi Jambi, sampai saat ini yang eksis bisa dihitung dengan jari. Kehancuran koran mingguan ini banyak faktor, seperti lemahnya SDM, dana dan manajemen. koran mingguan dan koran harian berebut kue iklan dan langanan dari pemda-pemda. Hukum ekonomi berlaku oplah yang besar, terbit yang rutin sudah pasti tempat beriklan yang menjanjikan.

Kue iklan dan langanan yang diberikan pemda-pemda kepada koran mingguan, lebih banyak nilai persahabatan. Wajar saja, karena salah satu fungsi pemerintah adalah mengayomi semua masyarakat. Tidak memandang besar kecil, koran harian atau mingguan. Semua dapat jatah secara porposional.

Ibarat pepatah orang-orang Sisilia, Italia.. fari Vagnari a Pizzu…ketika paruh koran besar sudah penuh makanan, sepantasnya koran mingguan paruhnya juga dibasahi. Atau yang besar dapat besar dan yang kecil dapat kecil, yang penting koran mingguan ini rutin terbit, mingguan (sekali seminggu), dwi bulanan (dua kali sebulan) yang paling minim itu terbit sekali sebulan.

Gejala lain, setelah reformasi banyak orang-orang mencoba-coba masuk ke bisnis media dengan membuat koran mingguan. Semboyannya “Habis terbit kemudian tidak terbit lagi”. Sementara wartawannya terus berkeliaran dengan membawa kartu pers. Mereka menjelma wartawan CNN (cuma nanyo-nanyo bae), wartawan abadi (mangkal di Hotel Abadi), wartawan bandara (sering di bandara).

Tapi ada juga koran mingguan yang berubah menjadi media “Tempo” maksudnya “tempo-tempo hidup.. tempo tempo mati”. Terbitnya saat ulang tahun pemprov/ kota/ kabupaten. Tapi, orang-orang ini harus diberikan apresiasi positiv, masih punya semangat untuk terus mengeluti dunia jurnalistik, hanya saja kondisi dan situasi yang membuat mereka tidak bisa berkembang. Apakah koran dwi mingguan milik PWI akan mengalami nasib yang sama..?

Kondisi ini menjadi persoalan kita bersama, masyarakat, pemerintah dan organisasi profesi wartawan. Bagi PWI Cabang Jambi, tidak semua wartawan yang saat ini beroperasi di seluruh Provinsi Jambi anggota PWI dan tidak semua anggota PWI yang aktiv lagi sebagai jurnalistik. Kita tidak bisa menyalah mereka. Inilah buah reformasi pers, orang bebas mendirikan koran, tanpa izin, modal dan SDM yang memadai…(Ketua PWI Cabang Provinsi Jambi dan Pimred Koran PWI Pro Jambi)





Dispenda Kaya, Rakyat Jambi Merana

18 07 2010

sad

suku anak dalam / dok/ mbah goole

Kalau Provinsi Jambi ibaratkan sebuah republik, maka Kepala Dispenda itu Menteri Keuangannya. Di SKPD inilah hulunya uang masuk dari berbagai sektor. Sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya, Dispenda melaksanakan sebagian urusan pemerintahan daerah berdasarkan azas otonomi dan tugas pembantuan di bidang pendapatan daerah.

Secara teknis tugas Dispenda antara lain merumuskan kebijakan teknis di bidang Pendapatan, penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum di bidang pendapatan, pembinaan dan pelaksanaan tugas di bidang Pendapatan.

Dengan posisi tersebut Dispenda harus cakap mengelola sumber-sumber pendapatan yang telah ada dan kreatif mencari sumber pendapatan baru yang didukung oleh data yang valid dan jujur.

Persoalan sekarang, dalam kurun 10 tahun terakhir PAD Provinsi Jambi turun tajam dari Rp 538 Miliar menjadi Rp 438 Miliar. Menurut pandangan DPRD Provinsi Jambi, penurunan sekitar Rp 100 Miliar ini akibat ketida mampuan Dispenda menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik.

Salah satunya adalah validasi data yang tidak akurat. Sebagai contoh dalam LKPJ Gubernur Jambi tahun 2009 lalu terdapat tiga data realisasi Pendapatan Asli Daerah yang berbeda, yaitu (a) dalam print out nota pengantar realisasi PAD sebsar Rp 438,53 milyar (b) dalam LKPJ realisasi PAD Rp 626,52 milyar dan (c) dalam lampiran LKPJ tercatat realisasi PAD sebesar Rp 527,82 milyar.

Selain itu terdapatnya kelengahan Dispenda, yaitu mencuatnya pemalsuan STNK yang kasusnya sampai saat ini tidak terungkap dengan jelas. Padahal sumber pendapatan dari dokumen kendaraan bermotor ini cukup besar.

Dispenda oleh banyak kalangan juga dipandang kurang jeli dalam mencari sumber pendapatan yang baru bagi daerah. Perhatian Dispenda selama ini terserap pada pendapatan yang bersumber dari sektor jasa seperti retribusi (rumah sakit, kendaraan, tempat wisata dll) namun kurang gesit dalam menggenjot pendapatan dari sektor produksi seperti perkebunan, peternakan atau perikanan. Sub sektor perikanan sebagai contoh, selama lima tahun terakhir memperoleh pendanaan yang sangat besar dari APBD Provinsi Jambi dengan janji akan memberikan PAD sebagai imbalannya.

Apakah Dispenda telah mengejar peluang tersebut? Atau Dinas Perikanan Provinsi Jambi yang membohongi publik? Dispenda memiliki wewenang untuk mengejar pendapatan yang dijanjikan tersebut.

Saat ini kantor yang beralamat di Jl. Jend. Sudirman No.117 Jambi, Kota Jambi itu dikomandani oleh H.M. Zuhdi Azran, SE. Terjadinya penurunan PAD tersebut, kemampuan Zuhdi dipertanyakan orang. Bahkan banyak kalangan beranggapan Zuhdi sebagai salah satu diantara beberapa kepala SKPD yang paling gagal dalam mengemban tugasnya. Padahal sebelumnya mantan ajudan gubernur Jambi ini dinilai cukup berhasil pada pos-pos jabatan sebelumnya.

Selama ini jabatan Kepala Dispenda dinilai sebagai batu ujian bagi seorang pejabat untuk melompat ke jabatan paling prestisius di Birokrasi Pemprov, yaitu Sekretaris Daerah. Beberapa Sekda Provinsi Jambi, seperti Saleh Chalik dan Firdaus sebelumnya menjabat Kepala Dispenda Provinsi Jambi.

Melihat pencapaian Dispenda saat ini yang kurang memuaskan, SKPD ini memerlukan banyak pembenahan. Kandidat untuk jabatan ini haruslah orang dengan kemampuan mumpuni. Nama yang santer dijagokan menduduki posisi in adalah Ir. Syahrasadin, seorang akademisi dan pejabat Ketua Bappeda Kabupaten Sarolangun yang dikenal sangat disiplin.

Kalau bukan Sadin, apa salahnya merekrut ekonom lain dari Universitas Jambi yang jelas-jelas lebih kompeten dari pada memakai pejabat lama yang hanya menjadikan ‘kantor basah’ ini sebagai penambah pundi-pundi pribadi? (Koran PWI Pro Jambi/ Mursyid Sonsang)





Bappeda Akurat, Rakyat Jambi Selamat

18 07 2010

hutan melarat// dok/ mbah google

Kantor yang beralamat di Jl. RM. Noor Admadibrata No.01 Telanaipura, Kota Jambi ini memiliki peran sentral dalam pembangunan Jambi ke depan. Berhasil tidaknya sebuah program pembangunan sangat tergantung dari perencanaan secara matang dan terkoordinasi.

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah ini mempunyai tugas melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan di bidang Perencanaan Pembangunan Daerah. Konsep perencanaan pembangunan yang dipakai sekarang adalah perpaduan antara Bottom Up dan Up Down Planning, dan prosesnya dimulai dari Musrenbang tingkat desa/kelurahan, kecamatan, kabupaten/ kota hingga musrenbang tingkat provinsi. dan Musrengbangnas.

Pertemuan semacam Musrengbang ini diharapkan mampu menghasilkan rencana kerja paling strategis dan bersifat ‘pengungkit’dari ribuan usulan yang masuk dari seantero wilayah Provinsi Jambi. Peran Bappeda Provinsi Jambi sebagai filter sangat vital di sini; rencana kerja mana yang paling layak memperoleh anggaran sesuai dengan perencanaan makro Provinsi Jambi.

Saat ini Kantor Bappeda Provinsi Jambi dinahkodai Ir. Fauzi Anshori, generasi muda dalam jajaran pejabat di lingkungan Setda Provinsi Jambi. Bak meteor karir Oji, panggilan akrabnya, meleset cepat. Banyak kalangan menilai, dia memiliki kapasitas yang dibutuhkan di posisi strategis tersebut; pekerja keras, komunikator yang baik dan cukup idealis.

Sebelumnya, Oji malang melintang di Kabupaten Merangin. Berbagai jabatan strategis dipegangnya dari Kabag Keuangan, lalu Ketua Bappeda dan Kepala Dinas Pekerjaan Umum. Kemudian dia ditarik ke Setda Provinsi Jambi menduduki jabatan Asisten III..Hanya beberapa bulan di posisi tersebut, dia dipercaya Gubernur Jambi menjadi Ketua Bappeda.

Dengan posisi sebagai Ketua Bappeda kedekatannya dengan Gubernur Jambi, Drs. Zulkifli Nurdin tidak diragukan lagi. Orang politik menyebut Oji sebagai salah satu person di-ring satu gubernur. Sebagai anggota Baperjakat, suaranya cukup didengar untuk menentukan siapa pejabat yang akan duduk di structural SKPD. Disinyalir beberapa pejabat eselon III dan IV yang dipromosikan pada periode ini, sangat berhutang budi kepada Oji.

Menjelang pergantian kepemimpinan dari Zulkifli Nurdin kepada Hasan Basri Agus, banyak diperbincangkan siapa-siapa yang bakal mengitari ring satunya HBA. Salah satunya adalah jabatan strategis Ketua Bappeda Provinsi Jambi. Menurut sumber Koran PWI Pro Jambi, Fauzi Anshori diramalkan masih bertahan.

Selain nama Fauzi Anshori, disebut-sebut juga nama Ir. Syahrasadin, yang saat ini menjabat Kepala Bappeda Kabupaten Sarolangun. Sebenarnya Ketua Bappeda ini sangat cocok dengan Syahrasadin yang akrab dipangil Sadin ini.

Sebelum hijrah ke Sarolangun, sempat mencicipi jabatan orang nomor dua di Bappeda Provinsi Jambi itu, sebagai Sekretaris. Saat memegang jabatan tersebut, dia dikabarkan sangat disegani staf Beppeda Provinsi Jambi karena kedisplinannya.

Melihat perkembangan saat ini, nampaknya hanya dua nama tersebut yang layak menjadi kandidat Kepala Bappeda Provinsi Jambi di kabinet HBA mendatang. Calon lain dari ‘garis keras’ yang boleh dipertimbangkan adalah Dr. Sayid Syech. Jebolan doktor ekonomi salah satu universitas di Philipine ini kurang mujur dalam hal jabatan pemerintahan walaupun kemampuan akademis dan integritas pribadinya dapat diacungkan jempol. (Koran PWI/Mursyid Sonsang)





Kami Hadir Menawarkan Persahabatan….

18 07 2010

mursyid sonsang

Philip Meyer, Professor emeritus and mantan Knight Chair of Journalism di University of North Carolina, Amerika Serikat mengarang buku dengan judul The Vanishing Newspaper. Isi buku tersebut meramalkan koran terakhir terbit pada April 2040. Artinya, 30 tahun lagi, media cetak koran tidak ada lagi, mungkin beralih ke media elektronik, internet atau media lainnya.

Ditengah kontroversi ramalan Philip Meyer itu, ujuk-ujuk PWI Cabang Jambi membuat koran mingguan. Apa latar belakang hadirnya Koran PWI tersebut ?

Didahului pergulatan pemikiran yang cukup lama serta kejujuran kami, bahwa dari sekitar 166 anggota PWI Cabang Jambi, tidak semuanya aktif lagi sebagai seorang jurnalistik. Mereka ada yang sudah pensiun, medianya tidak terbit lagi atau pindah bekerja dari redaksi. Padahal mereka memiliki semangat yang mengelora untuk terus berkarya baik berupa berita, tulisan lepas, photo dan karya jurnalistik lainnya. Solusinya PWI harus memiliki media, untuk menyalurkan hasrat dan kemampuan jurnalistik para wartawan itu.

Secara organisasi, kesalahan yang tidak berampun adalah ketika anggota sebuah organisasi telah melanggar UU dan Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga (PDPRT) organisasi tersebut. Undang-Undang Pers no 40 tahun 1999 pasal 1 ayatt 4, berbunyi “wartawan itu adalah orang yang melakukan pekerjaan jurnalistik secara teratur. Arti teratur itu bisa perdetik ( media on line, TV, Radio), harian (koran), minguan ( majalah mingguan), bulanan ( buletin atau majalan bulanan).
Amanah UU Pers tersebut dikuatkan dengan PD/PRT PWI, Pasal 7 ayat 2 point B dikatakan, keanggotaaan PWI gugur, jika setelah 6 bulan yang bersangkutan tidak melanjutkan kegiatan kewartawanannya di media lain atau tidak melaporkan kepindahannya ke media lain kepada pengurus cabang.

Alasan-alasan di atas membulatkan tekad anggota PWI Cabang Jambi, untuk menerbitkan sebuah media. Puncaknya ketika anggota PWI Cabang Jambi mengikuti Porwanas di Palembang, Februari 2010 lalu, para anggota PWI Cabang Jambi begitu terkesima dengan munculnya penerbitan berupa tabloid dari PWI Cabang Sulawesi Selatan.

Melihat penerbitan dari Sulsel itu, semangat anggota PWI Cabang Jambi, makin menggebu-gebu. Usulan demi usulan bergema, akhirnya memaksa pengurus PWI Cabang Jambi Periode 2008 – 2012 merealisasikan penerbitan Koran. Melalui rapat sebanyak lima kali, forum rapat mengamanahkan kepada Tim 5 (Murman Thoha, H. Syamsuddin Noor, Drs. Mursyid Sonsang, Budhi Irianto, SH dan Zainul Aris) merancang secara detail penerbitan tersebut.

Tim 5 ini kemudian berbulat hati memberi nama “Koran PWI Pro Jambi” dengan motto “Mengawal Kemerdekaan Pers”. Tujuan penerbit ini di antaranya mengembangkan kreativitas dalam menulis yang sesuai dengan Kode Etik PWI serta menjadikan media ini upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, hiburan, informasi dan kontrol sosial.
Diharapkan koran ini dapat terbit minimal sekali dalam sebulan, Alhamdulillah bila bisa terbit seminggu sekali. Namun untuk awalnya akan diterbitkan dua minggu sekali. Bentuknya berupa Koran dengan 12 halaman. Atas izin Allah, dukungan seluruh anggota PWI, IKWI dan masyarakat Propinsi Jambi.

Penghargaan khusus kami berikan kepada istri-istri kami yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia (IKWI) dengan memberi kan satu halaman khusus untuk mereka. Halaman ini khusus mengupas tentang wanita dan keluarga, reporternya seluruh anggota IKWI.

Setiap penerbitan Koran PWI Pro Jambi, kami akan membagikan ratusan eksemplar secara gratis kepada masyarakat Jambi kurang mampu, dan dua eksemplar kami kirim ke Badan Perpustakaan Nasional dan Daerah, PWI Pusat, PWI Cabang se-Indonesia, Dewan Pers, KPK dan Satgas Pembrantasan Mafia Hukum dan Sekretariat Negara, Gubernur Jambi, Kepala Kejaksaan Tinggi Jambi, Kapolda Jambi, Danrem 032/ Garuda Putih, Kepala Pengadilan Tinggi Jambi.

Kami sangat berterima kasih kepada seluruh masyarakat Jambi yang telah mendukung penerbitan ini dengan memasang iklan ucapan selamat dan mau berlanganan. Secara tidak langsung telah memberikan subsidi silang kepada pembaca tidak mampu yang kami bagikan gratis.

Kenapa kami memberi nama “Koran PWI Pro Jambi”? Kami sangat sadar nama PWI sebagai sebuah organisasi wartawan yang tertua dan terbesar di Propinsi Jambi, banyak peran dan kontribusinya yang dapat dicurahkan untuk membangun peradaban di Propinsi Jambi hingga saat ini.

Begitu juga dengan kata Pro Jambi, agar terus menyadarkan kita semua, terutama wartawannya bahwa kita hadir untuk kepentingan masyarakat Propinsi Jambi dan harga diri masyarakat Jambi.
Kami sangat miris, ketika Gubernur Jambi Zulkifli Nurdin, menyerahkan bantuan gempa kepada rakyat Yogjakarta, tahun 2006 lalu. Pada waktu itu Humas Pemda Jambi berharap kepada beberapa media harian lokal yang dibawa meliput penyerahan dana gempa tersebut, agar berita dan photo Gubernur Jambi dan Sulthan Hamengkubowono dimuat di halaman depan.

Kenyataannya apa? Media tersebut meminta puluhan juta, alasannya berita advetorial……Sunguh terlalu,,, terlalu.., dimana letak rasa kedaerahan dan persahabatan.

Rasa ke-Jambian, harus menjadi ciri khusus media ini. Program pemerintah yang baik untuk rakyat Jambi, akan kami dukung seratus persen melalui pemberitaan. Begitu juga sebaliknya kalau ada kendala dalam melaksanakan pembangunan, kami akan melakukan kritik yang membangun dan ada solusi.

Rasa persahabatan inilah yang kami tawarkan kepada seluruh masyarakat Provinsi Jambi. Kami juga menyakini, dengan kekuatan 166 wartawan yang tergabung dalam PWI, dari yang senior hingga junior, dari yang berada di Kerinci hingga Tanjung Jabung Timur, dari Gunung Masurai hingga Laut Cina Selatan.

Kami mengetahui secara persis isi perut Jambi ini, dari potensi alamnya hingga sumber daya manusianya. Khusus bagi para pejabat daerah, wakil rakyat, para pengusaha serta kelompok masyarakat lainnya, kami mengetahui sepak terjang dan kelakuan-kelakuan yang merugikan kemajuan Provinsi Jambi selama ini. Kalau kami mengkritik, bukan kami membenci, tapi kami sangat menyayangi masyarakat Jambi.

Semoga tujuan kita bernegara, ber-propinsi, ber-kabupaten/ kota, guna menggapai cita-cita luhur masyarakat yang adil, sejahtera, punya harga diri dan bermartabat dapat terwujud. (Mursyid Sonsang/ Ketua PWI Cabang Jambi dan Pimred Koran PWI, Pro Jambi)





“ Et Tu, Brute”

18 07 2010

ilustrasi/ dok/ mbah google

Kaisar Roma, Julius Caesar menahan sakit pilunya pedang Marcus Junius Brutus menghujam ke tubuhnya, dengan terbata-bata dia berkata,

“ Et Tu, Brute?”
“Dan engkau juga Brutus?”

Awalnya Julius tidak yakin orang kepercayaannnya akan membunuhnya. Tapi, keraguan itu kemudian menghilang ketika dia mulai mengerang kesakitan dan merasakan semburan darah dari tubuhnya yang terluka, kemudian dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi dan tewas.

Kaisar terkuat Roma itu, harus tewas ditangan orang kepercayaannya, orang yang sudah dianggap keluarga, orang yang diangkat derajatnya, orang yang diberi kepercayaan dalam pemerintahannya.

Yang paling anyar, Gubernur Jambi Zulkifli Nurdin dalam beberapa bulan lagi, akan mengakhiri kekuasaannya selama 10 tahun. Orang-orang yang dulu di kancah birokrasi Pemda Provinsi Jambi tidak dikenal. Kini sudah kaya dan pejabat elite di Pemprov Jambi. Begitu juga para kontraktor yang dulu hidup Senin – Kamis, kini sudah jadi konglomerat.

Mereka ini mendampingi Zulkifli Nurdin selama sepuluh tahun terakhir ini. Mereka dipercaya, diberi kesempatan. Mereka bukan yang terbaik, hanya retak tangan atau jaringan politik atau jalur lainnya hingga namanya sampai ke kantong Gubernur untuk di promosikan.

Menjelang Zulkifli Nurdin akan mengakhiri masa jabatannya, orang-orang itu mulai menjadi Brutus, walau tidak sampai membunuh, tapi berkianat dalam bekerja, berkianat untuk mendapatkan posisi baru, mereka merapat ke calon gubernur Jambi yang baru. Dengan enaknya, mereka berkata ini itulah kekurangan Zulkifli Nurdin. Padahal mereka dalam system pemerintahan Zulkifli Nurdin selama ini.

Terlihat dari LKJP tahun 2009, Gubernur Zulkifli Nurdin jadi bulan-bulanan DPRD, seharusnya LKPJ terakhir bagi Bang Zul, harus tidak ada masalah dan happy ending. Sebenarnya itu bisa dilakukan, kalau jauh-jauh hari para SKPD melakukan “persahabatan” dengan DPRD. Persahabatan itu bisa bentuk lobby atau bentuk lainnya. Ironisnya, beberapa SKPD mengangap remeh DPRD.

Begitu banyak cerita Brutus di negeri ini dari zaman Ken Arok hingga zaman Soeharto. Seperti kisah Ken Arok yang membunuh Tunggul Ametung. Ken Arok sangat dipercaya Tunggul Ametung, karirnya meroket dari orang yang hina dina, akhirnya menjadi orang kepercayaannya. Bahkan menjadi pengawal Tunggul Ametung. Apa daya, akhirnya Ken Arok berkianat dengan membunuh Tunggul Ametung, Bahkan merebut istri Tunggul Ametung, Ken Dedes.

Begitu juga zaman Presiden Soeharto, sekitar 32 tahun Soeharto menjadi presiden, hanya orang-orang tertentu yang dipercaya, bisa menjadi menteri berkali-kali, pindah jabatan yang enak-enak, jadi pengusaha konglomerat dan lain sebagainya. Tapi apa daya, ketika Soeharto disuruh mundur oleh aksi-aksi unjuk rasa, tiba-tiba orang dekat Soeharto juga menohok dari belakang agar Soeharto cepat mundur. Terlepas Soeharto salah atau tidak, tetapi logikanya, orang-orang ini seharusnya jangan menyelamatkan diri, atau pura-pura jadi reformis atau pahlawan.

Begitu juga dalam organisasi sosial/ profesi, pertemanan. Para brutus ini bergentayangan. Mereka orang-orang yang sangat licik dan tidak punya kemampuan untuk tegak dengan kakinya. Awalnya pura-pura baik, perlahan-perlahan brutus memakan orang yang membantunya, orang membesarkannya, orang yang mengangkat derajatnya, orang yang menyelamatkan kehidupannya, orang yang mempercayainya.

Brutus ini memang cerdik dan licik, memiliki pembenaran sendiri terhadap yang dilakukannya. Seperti yang diucapkan Brutus kepada masyarakat Roma setelah Julius Caesar tewas, “Jika ditengah-tengah ini ada saudara, kerabat dan teman Caesar maka kepada kalian aku ingin mengatakan bahwa cintaku lebih besar dan tidak kurang dari cintanya. lalu kalau kalian menanyakan kenapa akau membunuh Caesar maka akau menjawab, ‘bukan karena tak cinta pada Caesar, tapi karena cinta pada Roma. apa kalian lebih suka Caesar hidup sedangkan semua kalian mati sebagai budak, atau Caesar mati hingga semua dapat hdup merdeka? Aku membunuhnya karena dia gila kekuasaan, ada air mata untuk cintanya, kegembiraan untuk nasib baiknya, dan kematian untuk kegilaannya pada kekuasaan.”

Tapi biasanya brutus ini juga mengalami nasib tragis, kalau tidak dibunuh pasti bunuh diri, kalau selamat dari yang dua itu hari tuanya penyakitan atau “mati segan, hidup tak mau”…..ya begitulah nasib Brutus….

Tapi setiap zaman lahir Brutus-Brutus baru, setiap pemerintahan ada Brutusnya, setiap organisasi apapun ada Brutusnya. Waspadalah…(MURSYID SONSANG)