Abdurrahman Sayoeti Bangkitkan Harga Diri Jambi

23 05 2011

Drs. H. Abdurrahman Sayoeti, Minggu (22/5/2011) telah pergi selama-lamanya ke alam peristirahatan yang abadi. Namun, pamong senior itu akan tetap dikenang oleh masyarakat Jambi atas pengabdian dan karyanya. Selama menjabat Gubernur Jambi hampir sepuluh tahun, nama Jambi berkibar ke pentas nasional dan internasional.

Zaman pemerintahan Abdurahman Sayoeti, infrasutruktur jalan dan jembatan sudah rampung oleh Gubernur pendahulunya Maschun Syofyan. Hubungan jalan dari Kota Jambi ke kabupaten-kabupaten mulus dan bagus serta Jambi diuntungkan dengan selesainya pembangunan jalan trans Sumatera yang melewati beberapa kabupaten menuju provinsi tetangga.

Pembangunan ekonomi Jambi mengeliat dengan cepat dari sector kehutanan, perkebunan dan pertanian. Puluhan industri kehutanan dan perkebunan tumbuh bak jamur, pabrik plywood, bubur kertas, pabrik kelapa sawit, karet dan lain sebagainya.

Masyarakat Jambi hidup berkecukupan, mencari pekerjaan tidak terlalu susah dan daerahnya aman “ Zaman ini enak nian mencari uang di Jambi,” ujar Mukhlis. Akibatnya, ribuan orang pergi merantau ke Jambi, untuk merubah nasibnya. Potensi ini dimanfaatkan betul oleh Abdurhaman, dengan slogan Jambi tempat teraman untuk berinvestasi.

Menurut teori perkembangan manusia, ketika kebutuhan dasar sudah tercukupi, manusia ingin dihargai. Untuk mewujudkan harga diri, perlu melakukan kegiatan-kegiatan seni budaya dan olahraga.

Maka tak heran, pada dekade tahun 1980-an. Orang di luar Jambi, masih banyak yang mengatakan Jambi bagian dari Sumbar dan sabagian mengatakan Jambi bagian dari Sumetara Selatan. “ Jambi itu dimana ya..masuk Palembang atau Padang,” ujar Steve Dombon, wartawan asal Irian Barat tahun 1992 lalu.

Berduet dengan Isterinya yang artis dan cantik Ny. Lily Sayoeti, Provinsi Jambi mulai dikenal secara nasional dan internasional. Mereka menggali potensi seni batik Jambi dan tariannya. Tidak tanggung-tanggung Tim Kesenian Jambi ini melalang buana ke Eropah dan Amerika serta Negara-negara Asia untuk mempromosikan batik Jambi dan tarian-trian Jambi.

Selain itu, tahun 1997 Provinsi Jambi menjadi tuan rumah MTQ tingkat nasional yang dibuka langsung oleh Presiden Soeharto. Pada waktu itu RCTI televisi swasta pertama yang sangat digemari masyarakat menyiarkan langsung MTQ itu setiap hari. Merupakan satu-satunya event MTQ disiarkan langsung oleh televisi swasta tersebut. Membuat nama provisni Jambi makin terkenal.

Begitu juga dengan bidang olahraga, nama Jambi selalu harum dengan masuknya Jambi sepuluh besar setiap PON. Sarana olahraga standar internasional dibangun di Kota baru. Untuk menongkrak prestasi dibajak beberapa atlet papan atas Indonesia. Seperti cabang renang, panahan dan lainnya.

Agar kegiatan itu diketahui banyak orang, Sayoeti sangat membutuhkan wartawan. Setiap tim kesenian Jambi tampil di dalam negeri dan luar negeri selalu membawa banyak wartawan. Selain itu perhatian terhadap wartawan khususnya PWI — memang satu-satunya organisasi wartawan waktu itu– sangat luar biasa, seperti bantuan tanah perkantoran berserta bangunan serta tanah untuk perumahan.

Hanya saja, kantor yang terwujud dan peresmiannya langsung oleh Pak Sayoeti, tahun 1998 lalu. Sedangkan perumahan PWI di Pondok Meja seluas 2 Ha, belum terwujud, hal ini bukanlah kesalahan dari Pak Sayoeti,, tetapi kesalahan PWI sendiri yang tidak mampu mewujudkannya, terutama kepengurusan PWI 10 tahun yang lalu.

Begitu banyak karya Pak Sayoeti, terutama mengangkat harga diri masyarakat Jambi. Begitu juga megangkat harga diri PWI Cabang Jambi dan wartawan umumunya. Selamat Jalan Pak Sayoeti,..moga Allah membalas dengan Surga. (Mursyid Sonsang)





Catatan 1 Bulan Zumi Zola Jadi Bupati

22 05 2011

Hampir dua bulan Zumi Zola menduduki jabatan nomor satu di Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Langkah awalnya jadi bupati sangat menyentuh; rapat dengan para staf hingga masuknya waktu Zuhur, kemudian melakukan shalat berjemaah di mesjid kompleks kantor bupati.

Beberapa hari kemudian Zumi mengunjungi desa dengan jalan kaki, naik speed boat dan sepeda motor. Dari satu desa ke desa lain dia mendapat sambutan meriah, sulit bagi masyarakat untuk membedakan apakah seorang bupati yang sedang mengunjungi mereka, atau seorang artis bernama Zumi Zola.

Kegiatan Zumi Zola mendapat sambutan meriah baik di daerahnya sendiri hingga merambah ke kabupaten lain. Ketika menghadiri pembukaan MTQ di Kerinci, begitu antusiasnya warga ingin melihat atau bersalaman dengan “Sang Pangeran dari Kampung Manggis” ini, begitu juga saat acara di kampus UNJA, para mahasiswa histeris menyambut Zumi Zola.

Dalam waktu relative sangat singkat, langkah yang dilakukan Zumi Zola sebagai bupati membangun citra positif di tengah masyarakat. Apalagi kegiatan-kegiatan tersebut dipublikasikan secara luas melalui Humas Setda Tanjab Timur dan berbagai media massa.

Dalam teori-teori dasar komunikasi politik langkah yang dilakukan Zumi Zola dan Humasnya termasuk ke dalam teori jarum hipodermik (hypodermic needle theory) bahwa pesan politik apapun yg disampaikan kepada khalayak, apalagi melalui media massa, pasti menimbulkan efek positif berupa citra yang baik, penerimaan atau dukungan.

Persoalan sekarang, apakah Zumi Zola popular di mata masyarakat Tanjung Jabung Timur dan Provinsi Jambi, karena prestasinya sebagai artis atau sebagai bupati? Jika dia popular saat ini karena keartisannya, Zumi harus bekerja keras agar kepopuleran itu diikuti dengan prestasi atau pencapaian sebagai bupati Tanjung Jabung Timur.

Terdapat ratusan masalah yang harus diselesaikan Bupati muda ini, diantaranya masalah infrastruktur dasar seperti pembangunan jalan, jembatan, air bersih dan lainnya. Di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, sekitar 50 persen desa dari total 63 desa di kabupaten tersebut, tidak bisa dijangkau dengan transportasi darat. Masalah penyediaan air bersih juga belum dapat dientaskan dari wilayah itu.

Kalau Zumi mau memfokuskan perhatian pada pembangunan infrastruktur dasar ini, dan berkorban tenaga untuk mengunjungi seluruh desa selama lima tahun ke depan, ini akan menjadi modal yang cukup besar agar dia bisa ‘naik kelas’ untuk bertarung merebut kursi Gubernur Jambi tahun 2015 mendatang.

Namun ada sedikit suara sumbang menyangkut putus-nya hubungan Zumi Zola dengan pacarnya Ayu Dewi. Meski ini masalah pribadi, karena Zumi Zola pejabat publik, persoalan pun memasuki ranah dan konsumsi publik. Masyarakat merasa berhak untuk tahu. Tapi sayangnya, Zumi tak berkenan menjawab satupun pertanyaan wartawan berkenaan masalah tersebut.

Meski beberapa hari kemudian. Zulkifli Nurdin –Bapak Zumi Zola yang juga Mantan Gubernur Jambi– mengundang beberapa wartawan di Kampung Manggis untuk menjelaskan persoalan tersebut, dan masalah putusnya Zumi dengan Ayu dianggap telah selesai dan jelas, namun orang banyak mengharapkan statemen itu keluar dari mulut Zumi Zola sendiri bukan dari bapaknya.

Memang sah-sah saja bila yang menjelaskan masalah tersebut adalah bapak atau keluarga Zumi karena masalah tersebut termasuk wilayah pribadi, namun perlu dipikirkan apakah seorang Bupati sekelas Zumi akan seterusnya seperti itu? Tidakkah ini akan memperkuat sinyalemen bahwa di belakang Zumi ada ‘bupati-bupati’ lain? Mudahan sinyalemen itu keliru. (Mursyid Sonsang, Ketua PWI Cabang Provinsi Jambi)





Gubernur, Bupati/Walikota Setengah Dewa

22 05 2011

Apa yang dikenang masyarakat Indonesia, ketika mantan Presiden Indonesia Soeharto berkuasa. Jalan-jalan mulus dari jalan negara hingga jalan kabupaten, program listrik masuk desa, keamanan dan kenyaman mantap dan lainnnya.

Kenangan itu tidak ilusi semata, berdasarkan hasil survey baru-baru ini tidaklah mengejutkan kita semua, kalau menempatkan Soeharto sebagai Presiden Indonesia yang paling berhasil.

Hasil survey tersebut tentu saja mendapat tanggapan pro dan kontra, terlepas dari semua itu ambil hikmahnya saja untuk cermin bagi pemimpin saat ini mulai dari presiden, gubernur, walikota/bupati.

Khusus di Provinsi Jambi, beberapa bupati/ walikota akan dilantik, setelah memenangkan Pemilukada di daerahnya masing-masing. Apa yang dilakukan Soeharto bisa menjadi contoh, tidak perlu muluk-muluk dengan visi dan misi yang sangat fantastik.

Salah satu yang sering dikeluhkan masyarakat buruknya kondisi jalan terutama jalan-jalan kabupaten dan provinsi. Kalau para pemimpin itu ingin menjadi “setengah dewa” fokus masalah jalan ini. Satu sampai dua tahun menjadi pemimpin persoalan ini sudah selesai, memperbaiki jalan yang rusak terutama ke sentra-sentra pertanian dan perkebunan.

Kalaulah jalan ini mulus ekonomi masyarakat dengan sendirinya akan terangkat, apalagi sebagian masyarakat Jambi hidupnya di sector perkebunan kelapa sawit dan karet serta pertanian lainnnya. Mereka akan mudah dan tidak menambah biaya untuk membawa hasil perkebunan ke pasar terdekat atau ke Kota Jambi.

Ambil contoh saja, kondisi jalan-jalan di Kota Jambi sendiri banyak yang rusak, itu terjadi di pusat pemerintahan. Bagaimana jalan-jalan kabupaten yang nun jauh di sana. Pemandangan yang biasa, ketika petani sawit harus berhari-hari membawa buah sawitnya ke pabrik terdekat.

Selama ini pemerintah kota dan kabupaten sudah berbuat untuk memperbaiki jalan-jalan yang rusak ini, tapi yang terjadi, bulan ini diperbaiki beberapa bulan ke depan hancur lagi. Salahnya tidak ada pengawasan, karena proyek jalan dijadikan proyek balas budi.

Persoalan ini sangat sederhana, perbaikan yang dilakukan asal jadi. Karena sebagian besar yang melakukan pekerjaan tidak kontraktor yang berpengalaman, banyak kontraktor dadakan.

Seharusnya, kalaulah kepala daerah membagi-bagi proyek untuk orang –orang yang membantu saat Pemilukada. Khusus untuk jalan berikanlah kepada mereka yang memiliki alat dan berpengalaman. Para birokrasi yang mengurusnya jangan terlalu banyak memotong nilai proyeknya.

Sang kepala daerah harus mengawasi langsung dan mencek ke lapangan, katakan jangan main-main dalam mengerjakan jalan ini, kerjakan sesuai dengan perencanaan, jangan pikirkan untuk saya. Kalau ini dilakukan, Insya Allah beberapa tahun ke depan, kita akan melihat jalan-jalan di Kota Jambi dan jalan-jalan kabupaten akan mulus.

Bagi sang kepala daerah ratingnya akan naik dengan sendirinya, warga akan mengatakan. “ Selama lima tahun bapak ini jadi walikota/bupati/ gubernur jalan di daerah kito bagus.” yang lain akan menyambung “Kito pilih lagi bapak ini untuk jabatan kedua, mudahan jugo kesejahteraan kito biso naik.”. Ditimpali lagi oleh Iwan Fals dalam sebuah lirik lagunya.” Manusia Setengah Dewa”( Mursyid sonsang)





Sang Pelopor itu Akan Tetap Dikenang

19 05 2011

Drs. H. Abdullah Hich mengakhiri masa jabatannya tanggal 12 April 2011 lalu, setelah lebih sepuluh tahun menjabat Bupati Tanjung Jabung Timur. Banyak suka dan duka yang dirasakannya, tapi jiwa sebagai pamong yang kenyang dengan pengalaman, dia berhasil membuka keterisoliran daerah di Pantai Timur Jambi ini. Bahkan nama Tanjung Jabung Timur mencuat ke pentas nasional dengan menggelar Hari Harganas yang dihadiri langsung oleh Presiden SBY.

Saya kenal dengan Hich beberapa tahun lalu, perkenalan seorang wartawan dengan seorang pejabat melalui liputan. Beberapa liputan tentang Tanjung Jabung Timur saya ekpos di RCTI dengan Hich sebagai nara sumber. Perkenalan lebih dekat ketika anak pertama beliau kawin, tiba-tiba saya di datangi oleh Humas, “Bisa ndak, acara perkawinan itu tayang di RCTI,” ungkap Willy.

Saya berpikir tujuh keliling, masak acara kawin bisa masuk ke RCTI. Tapi saya ingat, pada waktu itu RCTI punya program budaya dan wisata yang ditayangkan setiap pagi minggu dengan durasi 15 menit hingga 30 menit. Lalu saya mengusulkan kepada Willy agar perkawinan itu dirancang dengan adat Melayu pesisir, agar liputannya masuk ke dalam budaya.

Semua skenario di siapkan mulai dari prosesi antaran, berbalas pantun, berinai hingga bersanding di pelaminan. Saya beruntung waktu itu punya kameramen handal, Asnawi yang jago mengambil gambar untuk liputan panjang. Wal hasil beberapa minggu kemudian berita perkawinan itu tayang selama 15 menit dalam program nuansa pagi akhir pekan di RCTI. Dalam sejarah saya meliput di Provinsi Jambi itulah satu-satunya perkawinan yang saya liput dan ditayangkan di RCTI.

Waktu terus berlalu, tiba-tiba ketika cucu pertama beliau lahir. Saya juga diundang untuk meliput acara gunting rabut atau kekah. Tampaknya keluarga beliau kepingin lagi acaranya tayang di RCTI. Juga skenorio budaya lebih ditonjolkan, prosesi kekah budaya Melayu Jambi Pesisir. Liputan itu tidak di RCTI saja yang ditayangkan, tapi juga di Kompas juga diberitakan hampir setengah halaman.

Dalam cerita di atas yang ingin saya katakan, Pak Hich ingin bahwa Tanjung Jabung Timur harus dikenal secara nasional dari sisi budaya dan adatnya. Beliau rela menyulap sebuah perkawinan yang konsep awalnya adat nasional menjadi sangat tradisi, tentunya banyak tetek bengek adat yang dilakukan. Tapi kedua acara adat perkawinan dan kekah sukses besar..

Beberapa kali diskusi dengan Pak Hich, jelas sekali konsep pembangunan yang beliau rancang, mengingat Tanjung Jabung Timur yang selama ini daerah terisolir harus dibuka infrastruktur dasar, seperti jalan dan jembatan, setelah itu pendidikan, kesehatan dan fasiltas umum listrik dan telepon.

Waktu itu tahun 2002 beliau sudah menggelar konsep pendidikan dan kesehatan gratis, belum satupun daerah lain yang mencanangkan. Walau secara nasional nama beliau kalah dengan Alek Nurdin yang terkenal sebagai pelopor pendidikan dan kesehatan gratis di Indonesia. Menurut saya tidak terkenalnya beliau karena kurangnya informasi yang mencuat di media-media nasional tentang program pendidikan dan kesehatan gratis itu.

Banyak saya bertemu dan berdiskusi dengan para pejabat, selalu memiliki konsep yang bagus. Tapi sebatas wacana, pelaksanaannya jauh pangang dari pada api. Namun Pak Hich betul-betul mengimplementasikan konsep secara nyata.

Misalnya masalah pendidikan, selama ini orang malas menjadi guru atau tenaga kesehatan di pelosok-pelosok Tanjung Jabung Timur. Masuk ke Tanjabtim hanya sebagai batu loncatan, setelah itu mengaju pindah. Begitu juga kalau ada pejabat yang pindah ke Tanjung Jabung dikonotasikan “sebagai buangan”

Mengakali itu, dengan konsisten Pak Hich menerapkan peraturan para guru dan tenaga kesehatan, tidak boleh pindah. Paksaan itu tidak saja dijalankan dengan konsisten juga diikuti program menghargai guru, salah satunya mereka disekolahkan ke Pulau Jawa dan diberi tunjangan khusus. Putra-putri Tanjabtim yang lulusan SLTA disekolahkan ke berbagai universitas secara gratis, agar mereka bertugas di kampung halaman sendiri.

Dalam perjalanan sebagai Bupati Tanjung Jabung Timur, sedikit banyak beliau juga diuntungkan dengan naiknya putra Tanjung Jabung Timur menjadi Gubernur Jambi, Zulkifli Nurdin. Beberapa program yang hingga kini masih kontroversial, misalnya pembangunan jembatan Muara Sabak sedikit banyak, hadirnya jembatan ini dapat dukungan dari Zulkifli Nurdin begitu juga program yang lainnnya. Akhir kata, sebuah pantaun untuk Pak Hich “Bila memandang ke muka laut, Nampaklah sampan mudik ke hulu. Bila terkenang mulut menyebut, Budi yang baik ingat selalu.” (Mursyid sonsang)





Inyiak Rosihan….Wartawan Sejati itu Telah Pergi

17 05 2011

Saya termasuk beruntung, salah seorang yang mendapatkan draf buku karangan almarhum Inyiak Rosihan Anwar tentang sepak terjang tokoh perjuangan Sutan Syahrir — salah tokoh sosialis yang saya kagumi, bayangkan dalam usia 36 tahun sudah menjadi Perdana Menteri–.

Buku yang diberi judul Sutan Syahrir : Pahlawan Nasional Dalam Suka Dan duka 1909 – 1966 dikirim ke rumah saya oleh Bapak Sabam Siagian, –wartawan senior mantan Dubes RI di Australia– yang diminta tolong oleh almarhum. Pertemuan dengan beliau saat acara TOT di Cisarua Bogor dua tahun silam.

Rampungnya buku tentang Sutan Syahrir tersebut, salah satu bukti bahwa beliau adalah seorang sejarawan. Beberapa buku sejarah yang beliau tulis di antaranya, Kisah-kisah Zaman Revolusi (1975),Soebadio Sastrosatomo Pengembang Misi Politik (1992) serta banyak buku lainnya.

Saat usia senja, Inyak Rosihan terus menulis, kabarnya beliau sudah merampungkan buku kisah cintanya dengan almarhumah istrinya, Siti Zuraida binti Moh Sanawi. Siti Zuraida meninggal pada September 2010. Inilah contoh teladan yang ditinggalkan putra kelahiran Kubang Nan Dua, Sumatera Barat, 10 Mei 1922 itu, menulis..menulis…menulis. Topiknya apa saja, dari sejarah, film, agama, dan lain sebagainya.

Walau beberapa kesempatan beliau juga sering beriba hati, ketika tulisan yang dikirim tidak dimuat oleh media. Ketika acara HPN di Bandung, beliau menyindir para pemilik media besar yang tidak memuat tulisannya. Sambil menjelaskan bahwa beliau sangat berharap tulisan dimuat dan dapat honornya.

Selain menulis memberi kepuasan juga berharap dapat uang menopang hari tuanya. Karena beliau, hingga akhir hayat tetaplah idealis sebagai wartawan, tidak tergoda menjadi pengusaha. Padahal untuk jadi pengusaha mungkin peluang cukup besar dengan pergaulan yang sangat luas dengan para petinggi repuplik ini.

Setiap acara PWI Inyiak Rosihan selalu datang, bahkan sering datang tertatih-tatih pakai tongkat. Sayang pada saat Hari Pers Nasional di Kupang bulan Februari 2011 lalu beliau tidak datang, mungkin alasan kesehatan. Kehadiran beliau di acara-acara PWI, memberikan semangat bagi kami yang muda-muda tentang banyak hal dari kemampuan bahasa, rajin menulis, kecintaan terhadap organisasi PWI dan ketabahan menjalani tugas sebagai wartawan.

Keunggulan beliau, setiap acara selalu memiliki buku catatan kecil atau notes, peristiwa atau statemen yang menarik selalu beliau catat. Beberapa bulan kemudian tulisan itu muncul di surat kabar. Keanehan beliau juga ada, beliau mengaku tidak pandai mengunakan komputer, kalau beliau menulis pakai mesin tik. Coba bayangkan dengan kita saat ini ?

Wajar kiranya, almarhum mendapat beragam sebutan di antaranya wartawan pejuang, wartawan seumur hidup, wartawan sejati, wartawan lima zaman, wartawan hingga akhir hayat, wartawan yang budayawan/ sejarawan/ aktor dan lain sebagainya.

Atas dedikasi dan jasanya itu, gelar kehormatan diterima dari pemerintah Indonesia dan luar negeri di antaranya Bintang Mahaputera Utama III ( 1973 ), Bintang ( The Order of the Knights) Rizal, Philipina ( 1977 ), Piagam Penghargaan Pena Emas PWI Pusat ( 1979 ), Third ASEAN Awards in Communication ( 1993 ), Bintang Aljazair ( 2005 ) dan lain sebagainya.

Karir jurnalistiknya dimulai dari umur 20 tahun zaman penjajahan Belanda dan Jepang lalu berbagai jabatan dipegangnya, seperti :

1. Pemimpin Redaksi Surat kabar “Pedoman” (1948-1961 dan 1968-1974)
2. Pengajar dan Penatar (tahun 1970-an) jurnalistik
3. Wartawan Freelance / kolomnis berbagai penerbitan dalam negeri
4. Wartawan Surat kabar “Asia Raya” ( 1943 – 1945 )
5. Wartawan Surat kabar “Merdeka” ( 1945 – 1946 )
6. Pendiri /Pemimpin Majalah Mingguan “Siasat” ( 1947 – 1957 )
7. Koresponden / kolumnis beberapa penerbitan luar negeri sejak ( 1966 )
8. Pemimpin Redaksi majalah bulanan, penerbitan DFN “Citra Film” ( 1981 – 1982 )

Perjalanan organisasi:

1. Pemain dan Ketua Perkumpulan Sandiwara (berdiri hingga tahun 1947)
2. Anggota Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2N)
3. Anggota Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI)
4. Pendiri “Maya” Bersama Usmar Ismail ( 1944 )
5. Pemain Film ” Darah dan Doa” Produksi Perfini ( 1950 )
6. Pemain Film ” Lagi-lagi Krisis” Produksi Perfini ( 1955 )
7. Ketua Umum PWI Pusat ( 1970 – 1973 )
8. Pemain Film ” Karmila” Produksi Perfini ( 1975 )
9. Kepala Bagian Publikasi Yayasan Tenaga Kerja Indonesia (YTKI) ( 1976 – 1998 )
10. Anggota Dewan Juri Film Cerita FFI ( 1976 – 1979 )
11. Ketua Dewan Juri Festival Film Indonesia (FFI) ( 1976 – 1991 )
12. Anggota Dewan Film Nasional ( 1978 – 1995 )
13. Wakil Ketua Kelompok kerja tetap promosi dan pemasaran Film di luar negri ( 1981 – 1983 )
14. Ketua Dewan Kehormatan PWI ( 1983 – 1988 )
15. Pemain Film” Tjoet Nya Din ( 1985 )
16. Wakil Ketua Badan Pertimbangan Perfiliman Nasional ( 1995 – 1998 )

Kami pangil Inyiak, sebuah sebutan di Sumatera Barat untuk gelar bagi seseorang yang memiliki pengetahuan yang sangat hebat di bidangnya. Inyiak Rosihan hebat di bidang wartawan, sejarawan, budayawan, organisasi dan perjuangannya. Selamat Jalan Inyiak Rosihan…Moga Allah Menempatkan di Surga** (MURSYID SONSANG)





Syahrasaddin dan Efek Domino

17 05 2011

Ir. Syahrasaddin, M.Si dipastikan menduduki jabatan Sekretaris Daerah ( Sekda) Provinsi Jambi, sebuah jabatan tertinggi dari jenjang kepegawaian di lingkungan Setda Provinsi Jambi. Tugas Sekda sangat strategis membantu Gubernur dalam melaksanakan tugas penyelenggaraan pemerintahan, administrasi, organisasi dan tata laksana serta memberikan pelayanan administrasi kepada seluruh Perangkat Daerah Provinsi.

Banyak pihak berharap Syahrasaddin mampu mengemban tugas itu dengan baik, pasalnya beberapa tahun terakhir terdengar suara sumbang carut marut dalam tubuh birokrasi Pemda Jambi. Misalnya kasus penerimaan CPNS yang tidak ikut ujian ternyata lulus, serta bawahan melawan atasan.

Kasus bawahan melawan atasan ini tidak boleh ditolerir, apalagi sampai mengurung atasan di kamar kerjanya, dengan ancaman dan perkataan yang menyakitkan menghina embel-embel agama.

Proses hukum dan pencopotan harus berani dilakukan Sarasadin terhadap orang-orang ini. Track record orang-orang ini juga bermasalah di tempat kerja sebelumnya. Pembangkangan ini harus dihentikan, agar jangan menular kepada pegawai pegawai yang lain.

Dari informasi ada beberapa SKPD yang di dalamnya bergejolak, salah satunya ketidak puasan “orang orang lama” di SKPD tersebut terhadap pimpinan baru. Orang-orang ini takut permainan kongkalingkongnya akan dihabisi pimpinan baru atau jabatannya sebagai pejabat eselon III dan IV akan diganti dengan orang lain. Karena kinerjanya selama ini sangat jelek.

Orang-orang ini mengadakan perlawanan ada yang terang-terangan ada pula diam-diam dengan mengirim surat kaleng ke LSM dan pihak penegak hukum. Ada pula yang memprovokasi pegawai lain agar ikut-ikut melawan atasan baru. Tanpa malu-malu mencari cantolan ke sana kemari agar jabatan bisa bertahan.

Kalaulah kasus ini dibiarkan, akan terjadi efek domino. Pegawai pegawai yang tidak senang dengan pimpinannya, akan coba-coba melawan. Apalagi Sekda dan beberapa pejabat eselon II, eselon III dan IV banyak yang muda-muda. Sementara bawahannya lebih senior.“ Si Anu melawan atasannya tidak diapa-apakan, melawan juga ah..” Slogan ini yang akan mereka pakai.

Persoalan lain, beberapa pejabat eselon III dan IV dicopot dari jabatannya. Anak buahnya yang mengantikannya. Dari kepangkatan, pimpinan yang baru ini, pangkatnya lebih rendah. Masalahnya siapa yang akan menilai kinerjanya dan umumnya pejabat ini sudah malas bekerja, masuk kantor saja jarang. Kalaupun masuk kantor menjelek-jelekkan pimpinan yang baru.

Dalam kasus ini sebaiknya pejabat-pejabat tersebut diparkir di BKD. Kasus ini banyak terjadi di lingkungan Setda Provinsi Jambi. Persoalan ini, sangat mendesak dilakukan Sekda yang baru.

Berjalannya mesin birokrasi salah satu syaratnya para pimpinan baik kepala SKPD, pejabat eselon III dan IV serta para staff bekerja dalam suasana nyaman. Selamat Pak Syahrasaddin semoga terus mendapat bimbingan dari Allah (mursyid sonsang)





TKD Memicu “Eksodus” dan “Gali Lobang”

17 05 2011

Sudah hampir dua tahun Pemprov Jambi memberikan Tunjangan Kesejahteraan Daerah (TKD) kepada seluruh pegawai di lingkungan Setda Provinsi Jambi. Tujuan awal sangat mulia, agar para pegawai sunguh-sunguh dalam bekerja dan profesional.

Selama ini tidak jelas ukuran para pegawai yang mendapat TKD ini, semua secara sporadis. Hanya saja berdasarkan absensi pagi dan sore. Tapi cara itu tetap diakali, dengan memberi tip sedikit kepada petugas absen, yang tidak masuk kerja absennya lengkap. TKD yang diterima penuh tanpa pengurangan.

Persoalan lain memiju eksodus puluhan pegawai kabupaten/ kota menjadi pegawai Pemprov hanya mengejar TKD. Berbagai upaya mereka lakukan untuk bisa pindah, dari memberi uang kepada pejabat yang berwenang dibagian mutasi hingga dekingan dari pejabat tinggi di setda Provinsi.

Sudah menjadi rahasia umum dengan adanya TKD pendapatan pegawai di lingkungan Setda Provinsi Jambi meningkat cukup signifikan. Kenyataannya bukan tambah bersemangat dalam bekerja, tapi tambah bersemangat “menambah kredit”. Karena jaminannya ada TKD tiap bulan, sedangkan gaji dan tunjangan utuh mereka terima. Istilah “gali lobang tutup lobang” tetap terjadi, malahan lebih dalam lagi lobang yang digali.

Masalah TKD ini sudah lama menjadi kerisauan sebagian kalangan pegawai dan pejabat di lingkungan Pemprov Jambi yang berpikiran maju. Tampaknya kerisauan itu ditangkap oleh Sekda Syahrasadin, atas perintah Gubernur Jambi Hasan Basri Agus mengeluarkan pernyataan akan mengevaluasi pemberian TKD tersebut.

Alasan Syahrasadin, kinerja itu secara teoritis harus memiliki reward and punishment. “Coba kita bayangkan, mereka yang tidak datang atau yang hanya bekerja satu jam mendapat TKD sama dengan orang yang bekerja 8 jam, ini kan tidak adil,” tegasnya.

Untuk ke depan, tambah Sekda akan dibuatkan instrumen evaluasi. “Evaluasi kembali. Jadi setiap orang tidak dapat flat (rata) setiap bulannya dan kita coba menyusun kriterianya dengan menggunakan skor-skor tertentu,” ungkapnya.

Langkah awal yang harus dilakukan dengan mengevaluasi seluruh pegawai di lingkungan Pemprov, berapa jumlahnya ?. Soalnya, jumlah pegawai di lingkungan Pemprov sudah sangat gemuk. Selain penambahan tiap tahun melalui tes CPNS juga penambahan dari pegawai yang pindah dari kabupaten/kota.

Kalaulah nantinya, kinerja yang menjadi ukuran. Tentunya pimpinan dari eselon IV, III, II harus betul-betul orang yang berkualitas dan profesional. Karena mereka yang akan menilai bawahannya masing-masing. Ini memunculkan persoalan lain, mampukah Gubernur dan Sekda memilih orang-orang yang berkualitas dan profesional itu.

Rencana ini harus kita dukungan bersama mulai dari pegawai, pejabat dan kalangan DPRD serta para wartawan. Hakekatnya ingin menciptakan pegawai yang berkualitas dan profesional, muaranya akhirnya penambahan pendapatan pegawai harus seiring dengan pelayanan yang baik kepada masyarakat. Karena uang yang dialokasikan untuk TKD itu dari hasil pajak masyarakat.(MURSYID SONSANG)