Jangan Titip Uang Sama Wartawan ?

31 01 2011

Berita tentang kemiskinan menjadi head line di berbagai media massa nasional seminggu terakhir. Angka statistik yang ditampilkan pemerintah, ternyata jauh berbeda dengan yang fakta di lapangan. Jumlah orang miskin terus meningkat dari tahun ke tahun.

Seorang wartawan muda ditugaskan redaksinya meliput orang-orang miskin ke sebuah desa terisolir, sebut saja Desa Antah Berantah. Benar saja, si wartawan menjumpai banyak sekali warga yang hidupnya sangat miskin, rumah beratap rumbia, berlantai tanah. Kadang mereka makan nasi, tapi lebih sering makan singkong serta sederet penderitaan lainnya.

Dari puluhan warga yang miskin itu, yang termiskin adalah Pak Busang. Si wartawan pun mewawancarainya dan Pak Busang menumpahkan segala macam penderitaannya. Tak satupun yang lupt dari catatan si wartawan.

Di akhir wawancara Pak Busang minta tolong pada si wartawan untuk mengeposkan suratnya. Surat yang ditujukan kepada Tuhan tersebut berisi permohonan agar diberi uang seratus ribu. Pak Busang ingin melihat sekali saja lembar uang seratus ribu tersebut, sebelum dia meninggal dunia.

Mendengar permintaan aneh itu, si wartawan jadi bingung tujuh keliling. Sepengetahuannya baru kali ini orang berkirim surat kepada Tuhan. Sangat tidak masuk akal. Tapi dia tidak tega menolak permintaan itu.

Dalam perjalanan pulang ke kota, si wartawan terus memikirkan ke mana gerangan surat itu harus diposkan. Saking pusingnya, dia sampai lupa mengenakan helm dan ditangkap polisi. Karena profesinya sebagai wartawan, urusannya jadi cepat selesai dan malah bertemu dengan pimpinan polisi di daerah itu.

Curhatlah si wartawan kepada pimpinan polisi itu, tentang amanah seorang warga desa untuk memposkan suratnya kepada Tuhan. Mendengar cerita wartawan tersebut, polisi malah mentertawakannya. Guna meyakinkan polisi, mereka sepakat membuka surat itu. Banar, isinya meminta Tuhan memberinya uang seratus ribu.

Si wartawan dan polisi pun berinisiatif untuk iyuran. Terkumpullah uang Rp 75 ribu. Mereka sepakat mengirimkan kembali surat itu kepada Pak Busang. Betapa senangnya Pak Busang menerima surat balasan Tuhan, dan secepat kilat membuka surat itu. Namun yang ditemukannya adalah uang pecahan berjumlah 75 ribu rupiah, bukan 100 ribu rupiah seperti permintaannya. “Susah memang kalau nitip uang sama wartawan, selalu dipotong” gumannya dalam hati.

Dalam surat balasannya ke Tuhan, Pak Busang menulis begini. ” Terima kasih Tuhan, Engkau telah memberi saya uang. Tapi tolong kalau ingin memberi uang lagi, jangan titip sama wartawan…… “.

Mudah-mudahan kita dapat mengambil hikmah dari cerita di atas. Kerja yang baik saja belum tentu dapat penghargaan sepadan, apalagi kerja yang buruk? (Ketua PWI Provinsi Jambi).

Iklan




Memasang Label di Rumah Orang Miskin, Jalan Keluarkah ?

4 01 2009

Image Ini suatu ide yang cukup mantap dari wakil Bupati Bungo, Sudirman Zaini dengan wacana untuk memasang label di rumah-rumah orang miskin. Karena ada kecendrungan orang-orang yang dinilai mampu, mengaku-ngaku jadi orang miskin untuk mendapatkan bantuan dari pemerintah seperti BLT, berobat gratis, sekolah gratis dan Dana-dana lainnya.

Menurut Sudirman Zaini, dari pengamatannya hal ini tidak saja terjadi di Bungo saja, juga terjadi di banyak daerah di Indonesia. Soalnya bantuan-bantuan untuk orang miskin banyak juga dinikmati oleh orang-orang kaya-kaya. Ini terjadi dari pendataan awal, seperti di RT-RT/ Dusun-Dusun, sang kepala RT atau dusun, sengaja memasukkan keluarganya yang mampu, mereka tahu akan ada bantuan  dari pemerintah.

Wabup Bungo ini mensinyalir, saat ini sudah banyak orang yang tidak mempedulikan orang lain, karena mereka sudah kehilangan rasa kesetiakawan, rasa peduli dengan orang lain. Bahkan lebih parah lagi, kejujuran sudah luntur terhadap dirinya.

Sudirman Zaini mengatakan hal itu saat memperingati tahun baru Islam 1430 Hijriyah sekaligus memasuki tahun baru 2009 M bersama masyarakat muslim Tionghoa yang tergabung dalam wadah organisasi PITI (Persatuan Islam Tioghoa Indonesia) Kabupaten Bungo, di rumah Ketua PITI Bungo Sunarto alias Ahong di Sungai Pinang, Muaro Bungo, Minggu (4/1) sore.

Untuk itu, jelas Wabup ada wacana memasang label di rumah orang miskin, kalau orang kaya mengaku miskin, nanti di rumahnya akan terpasang label orang miskin.” Ini salah satu upaya  membuat rasa malu, tapi program ini perlu di perbincangan lebih serius lagi,” ujarnya.

Pada kesempatan Ketua PITI Kabupaten Bungo H. Ahong melaporkan keluarga anggota PITI di Bungo 65 kepala keluarga dengan 215 orang jiwa.” Ahong minta pemuka agama Islam aktif memberi bimbingan kepada keluarga mualaf serta ada rasa solidaritas terhadap sesama muslim,” ujarnya  (Mursyid Sonsang)