Australia Efesien, India Sederhana dan Jepang Disiplin

29 10 2012

BANYAK pelajaran yang diperoleh peserta Program Singkat Angkatan (PPSA) XVIII LEMHANAS RI tahun 2012 selama Studi Singkat Luar Negeri (SSLN) di tiga negara Australia, Jepang dan Australia. Namun dalam tulisan ini hanya beberapa contoh yang saya kemukakan, terkait upaya bangsa Indonesia untuk memantapkan pelaksanaan pembangunan.

Austalia: efisiensi jumlah pegawai
Beberapa kantor pemerintahan Australia yang dikunjungi dan posisinya setingkat departemen, ternyata tidak kelihatan ramai sebagaimana kantor-kantor di Indonesia. Misalnya Di Kantor Special Autonomy and Federal State Relation divisi yang mengurus masalah otonomi daerah, kami hanya dilayani empat orang pegawai. Toh pekerjaan berjalan lancar. Kedatangan rombongan Lemhanas yang berjumlah sekitar 20 orang disambut dengan baik dan penjelasan yang diberikan memuaskan.
Melihat hal tersebut saya menjadi bertanya-tanya mengapa jumlah pegawai di kantor pemerintah di Indonesia begitu banyak. Apakah karena urusannya banyak atau karena lapangan pekerjaan sedikit di Indonesia sehingga lowongan menjadi pegawai negeri sengaja diperbanyak untuk mengurangi pengangguran?
Apalagi sepuluh tahun terakhir dengan diberlakukannya otonomi daerah dari kabupaten/ kota dan provinsi berlomba-lomba menambah pegawai yang disinyalir sarat kepentingan kepala daerah. Mereka yang diangkat itu, sebagian kecil saja yang kompeten, sebagian besarnya merupakan bentuk balas jasa politik dan unsur KKN lainnya.
Padahal memperkecil jumlah pegawai pemerintah merupakan satu cara untuk menghemat uang negara. Dengan jumlah pegawai yang lebih rasional, pegawai mau tak mau harus meningkatkan kompetensinya supaya tugas selesai pada waktunya.
Sebenarnya niat pemerintah untuk merampingkan jumlah pegawai sudah ada, diantaranya dengan mencanangkan zero growth, yakni penerimaan PNS hanya secara terbatas pada sektor-sektor yang benar-benar diperlukan, sehingga jumlahnya tetap bahkan berkurang karena adanya PNS yang pensiun atau pensiun dini. Pemerintah juga merencanakan untuk menghapus jabatan eselon IV serta memperbanyak jabatan fungsional khusus. Pemerintah pun dikabarkan menawarkan sejumlah kompensasi untuk PNS yang mau pensun muda.
Namun masih terlihat kegamangan untuk segera menerapkan kebijakan tersebut. Belum ada penciutan drastis jumlah PNS di tanah air. Bahkan banyak PNS yang masuk dari formasi fungsional khusus, ternyata kemudian berbelok arah ke jalur umum karena tak cakap menjadi seorang pejabat fungsional.

Jepang: Sangat disiplin
Sudah dari dulu kedisipilinan Jepang menjadi keunggulan negara di Asia Timur ini. Walau babak belur pada perang dunia ke II, mereka bangkit hanya dalam waktu tiga puluh tahun, menjelma menjadi negara dengan ekonomi terkuat nomor tiga di dunia.
Satu tahun lalu Jepang dihantam gempa bumi dan tsunami yang sangat dahsyat, beberapa pembangikit tenaga nuklirnya rusak parah. Dampaknya sekitar 30 persen energi listrik Jepang berkurang. Hal ini mendorong munculnya gerakan penghematan listrik. Mulai dari kantor pemerintah hingga sopir bus, hanya dibolehkan menghidupkan AC di level 25◦ C.
Menariknya, gerakan disipilin nasional ini betul betul dipatuhi semua kalangan, dari orang miskin hingga orang kaya. Rombongan Lemhannas yang berpakaian lengkap jas dan berdasi, harus kepanasan naik bus yang disediakan, karena sopir bus menyetel AC 25◦ C.
Bagaimana dengan di Indonesia? Kampanye nasional seperti itu juga banyak, seperti gerakan hemat listrik, kampanye cinta produksi dalam negeri dan lain-lain. Tapi yang berhemat hanya kalangan bawah, berhemat karena tidak ada uang, sementara sebagian kantor pemerintah dan rumah para pejabat serta kalangan berduit semarak dengan penerangan listrik, bahkan kamar pembantu pun dilengkapi AC dan alat elektronik lainnya.
Selain itu anak-anak sekolah di Jepang dianjurkan makan dua kali sehari, walau mereka sekolah mulai dari pagi dan pulangnya jam sebelas malam. Mereka juga diminta berpuasa. Gerakan ini untuk mendidik anak-anak Jepang agar berempati kepada mereka yang hidupnya kurang beruntung serta untuk menjaga kesehatan.

India; Pejabatnya sederhana
India kini merupakan kekuatan baru di bidang ekonomi dan teknologi. Walau demikian masalah-masalah kemiskinan dan keterbelakangan penduduk masih dominan. Dari 1,2 miliar penduduk India, diperkirkan 300 juta hidup dibawah garis kemiskinan. Perbedaan antara yang kaya dengan miskin sangat tajam, gap yang pintar dengan buta huruf sangat lebar. Namun India menguasai teknologi militer, ruang angkasa, telekomunkasi, industri film bahkan banyak ilmuwannya yang bekerja di negara maju seperti Amerika, Eropah dan Australia.
Kemajuan India ini tidak terlepas dari sikap para pejabat pemerintahannya yang sederhana dan memberikan contoh teladan. Mereka bangga memakai produksi dalam negeri, bangga menonton film mereka sendiri. Mobil dinas para pejabat setingkat menteri merupakan mobil buatan India Tata Ambasador yang harganya sekitar Rp 100 juta. Coba bandingkan dengan para pejabat di Indonesia, camat saja mobilnya kijang inova.
Memberi contoh teladan, amatlah penting bagi bangsa Indonesia saat ini. Bangsa ini akan terus terpuruk meski kekayaan alamnya melimpah bila para pemimpinnya tak amanah. Lain kata lain pula perbuatannya.(infojambi.com/Mursyid Sonsang)

Iklan




Kentut…digeledah….suara azan dan cendramata

29 10 2012

HUBUNGAN Australia dan Indonesia sudah berlangsung lama, bahkan ketika Indonesia merdeka Australia termasuk negara yang memberi dukungan. Begitu juga ketika Belanda ingin menjajah kembali Indonesia dengan membonceng pasukan Sekutu, para buruh di Australia memboikot kapal-kapal Belanda. Wajar bila pada perundingan damai antara Indonesia dan Belanda, pihak Indonesia memilih Australia untuk mewakili kepentingannya.

Bergulirnya waktu dan pergantian pemerintahan di kedua negara, mempengaruhi hubungan Australia-Indonesia. Hubungan di bidang pertahanan, ekonomi, dan pendidikan berjalan sangat baik terutama pada masa pemerintahan Presiden RI Dr. Soesilo Bambang Yudhoyono dan Perdana Meneteri Juliand Gilard.

Untuk mempererat hubungan kedua negara, Lemhannas RI tahun 2012 mengirim Peserta Program Pendidikan Singkat Angkatan (PPSA) XVIII untuk melakukan Studi Strategi Luar Negeri (SSLN) ke Australia dari tanggal 15 – 21 September 2012. Rombongan yang dipimpin oleh Sektama Lemhannas Drs. Chandra Manan Mangan, M.Sc berjumlah 25 orang, dari Lemhannas 8 orang dan peserta PPSA 17 orang.

Selama di negara Kangguru tersebut rombongan berdiskusi dan mendapat masukan dari berbagai lembaga yang dikunjungi, seperti Civil Military Centre, Department of Prime Minister and Cabinet on Special Autonomy and Federal States Relation In Australia, Department Foreign Affair and Trade, Department of Defense of Australia, Australia Strategy Policy Institute (ASPI) dan terakhir mengunjungi Thales Representatives On Australia Military Industry.

Agenda kunjungan 5 hari di Australia sangat ketat, membuat anggota agak kedodoran, apalagi sesampai di Sydney harus menempuh perjalanan darat ke Canberra selama 4 jam. Semua kantor-kantor yang akan dikunjungi berada di Canberra dan cuaca cukup dingin waktu itu. Pada malam hari suhu mencapai 5 derajat Celcius.

Kentut siapa ?
Selama perjalanan dengan bus yang lumayan bagus, banyak kejadian tidak terduga. Rombongan melepaskan keletihan dengan tidur pulas. Moment ini tidak disia-siakan oleh fotografer senior PPSA, Brigjen. Pol. Arief untuk mengambil moment kawan-kawan sedang tidur dalam berbagai gaya dengan kamera canggihnya.

Bau angin yang tak sedap ikut memeriahkan suasana dalam bus. Salah seorang yang menahan kentut cukup lama, karena tidak tahan lagi, mengeluarkannya perlahan-lahan, membuat seisi bus berpandangan. Bahkan sekaliber Komandan Kopassus Mayjen TNI. Agus Sutomo berteriak gusar “ Wah,… kentut siapa ini!” seraya tegak dan mencium kiri dan kanan serta arah muka dan belakang mencari-cari asal kentut. Penumpang lain juga berteriak karena bau yang sangat menyengat itu.

Ketika diwawancarai Agus Sutomo sudah mendapatkan pelaku kentut itu, tapi dengan alasan keamanan, beliau harus menutup rapat siapa pelakunya. Masalah kentut ini menjadi world topic selama perjalanan dari Canberra ke Sydney, membuat rombongan sakit perut tertawa membicarakannya. Kok kentut baunya segitu amat ya……..

Suara Azan dari HP
Beberapa lembaga yang dikunjungi, terkadang perlakuan pihak Australia sangat ketat. Seperti di kantor Departemen Foreign Affair and Trade, semua anggota harus mendapatkan ID dan diantar petugas melewati beberapa pintu yang hanya bisa dibuka oleh petugas kantor tersebut.

Sesampai di ruangan pertemuan rombongan tidak diizinkan mengambil gambar, tapi dasar fotografer, sebelum pertemuan dimulai beberapa gambar sudah diambil sehingga ketika petugas melarang, beberapa gambar sudah didapat. Pada akhir pertemuan pengambilan gambar diperbolehkan juga, yakni saat ketua rombongan Lemhannas Mayjen. Endang Heruddin menyerahkan plakat kepada petinggi departemen tersebut.

Pemeriksaan yang cukup ketat juga terjadi di Departemen Pertahanan Australia, petugas di lobby mengeledah semua kamera, hp dan alat elektronik lain agar tidak dibawa ke ruangan pertemuan.

Rombongan dibagi dua kelompok, diantar masuk ke ruangan pertemuan oleh petugas. Sebelum sampai ke ruangan pertemuan kawan-kawan PPSA sudah membayangkan bagaimana bentuk ruangan pertemuan, apalagi ada informasinya pertemuan saling berhadapan satu dengan lainnya. Ternyata ruangan pertemuannya biasa saja, bahkan agak sempit.
“ Wah, kita pikir ruangan pertemuannya sangat canggih, tapi biasa saja kayaknya,” ujar salah seorang peserta Lemhannas.

Dalam dialog tersebut, pihak Kementerian Pertahanan Australia dipimpin oleh Sekretaris Kemenhan Australia, Duncan Lewis dan petinggi militer Australia lainnya. Pak Duncan yang pernah bertugas di Jakarta mengawali pertemuan dengan berbahasa Indonesia, sehingga suasana yang kaku berubah meriah. Setelah itu dilanjutkan pertanyaan-pertanyaan dari anggota PPSA meyangkut hubungan Indonesia – Australia khususnya dalam bidang pertahanan keamanan.

Suasana kembali mencekam ketika Duncan Lewis menyampaikan bahwa hubungan Indonesia dan Australia sering terganggu oleh pemberitaan pers di kedua negara yang cukup keras, baik pers Indonesia menyorot pemerintah Australia maupun Pers Australia menyorot pemerintah Indonesia. Ketua rombongan PPSA Dr. Mohammad Imran Duki yang memang lama tinggal di Austalia menyodorkan pertanyaan itu untuk dijawab oleh anggota PPSA yang mewakili wartawan.

Ketika Mursyid Sonsang menanggapi pertanyaan tersebut, khususnya menyangkut upaya dan langkah-langkah untuk membangun kerjasama wartawan Indonesia dan Australia, tiba-tiba dari HP Mursyid terdengar suara azan. Suasana pun jadi hening dan mencekam. Dengan agak gugup Mursyid mematikan HP-nya lalu menjelaskan lagi upaya-upaya Dewan Pers dan PWI dalam upaya meningkatkan kompetensi wartawan di Indonesia

Setelah pertemuan muncul kegusaran peserta PPSA, kok HP Mursyid bisa dibawa masuk ke ruangan pertemuan?
“ Menjelang masuk kan sudah digeledah? ” ujar salah seorang peserta PPSA.
Dengan santai Mursyid menjawab, “Ya, saya sembunyikan dalam lengan baju saya, bagus juga para petinggi militer Australia dengar suara Azan” jelasnya.
Dasar wartawan…!, ucap peserta lainnya.

Kejadian yang juga membuat gusar, ketika Prof. Yana tidak bisa menahan batuknya. Memang Kang Yana menjelang berangkat menderita batuk. Batuk Prof. Yana sudah bertalu-talu sebelum petemuan dimulai bahkan ketika akan membuang batuknya ke toilet, selalu diikuti petugas keamanan Australia, dan ditunggui hingga selesai.
“ Wah mereka takut juga, nanti virus batuk Kang Yana menyebar,” ujar peserta lainnya. Akhirnya Prof Yana diamanakan di sebuah ruangan untuk istirahat.

Good Position
Kesempatan berfoto selalu ditunggu dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh para peserta PPSA dan rombongan. Apalagi banyak pemandangan dan objek-objek menarik untuk diabadikan. Bagi seorang potografer istilah camera face sudah sangat familiar, suatu titik dari wajah seseorang yang gagah atau cantik kalau dipoto. Tapi Pak Agung mempopulerkan istilah baru. Good Position. Tapi istilah ini hanya dipakai di kalangan terbatas saja. Soalnya Pak Agung yang juga Panglima Armada Timur AL itu, merasa tidak enak dengan kawan-kawan yang menjadi fotografer.

Kalau kami mau berfoto, Pak Agung akan bilang, good position, dengan gaya tegas beliau. Orang yang akan diambil potonya lalu berubah posisi, ada yang senyum ada yang angkat kaki, ada yang tegak pinggang dan berbagai macam gaya. Weleh..weleh….weleh……..

Ada pula yang keranjingan berfoto terus, siapapun di dekatnya akan kebagian tugas menjadi juru poto. “ Ya..untuk kenang-kenangan,” ujarnya lugu.

Cenderamata di Antara Dua Budaya
Selama mengunjungi beberapa kantor pemerintah dan lembaga di Australia. Rombongan Indonesia diakhir pertemuan selalu memberikan cenderamata berupa plakat Lemhannas. Tapi bagi orang Australia tidak ada kebiasaan memberikan plakat juga, kalaupun mereka memberikan sudah dibicarakan dari awalnya. Selain itu juga mereka sangat efesien menerima rombongan, hanya dengan beberapa orang saja, tidak meganggu aktifitas kantornya, walau rombongan yang datang cukup banyak. Merekapun hanya menyediakan snack berupa kue-kue kering dan minuman ala kadarnya.

Bicara soal kenang-kenangan atau cenderamata, tidak menjadi budaya orang Australia untuk memberikan kepada tamunya. Kalaupun ada sudah disepakati terlebih dahulu.
“Hanya rombongan kita yang ngasih plakat, mereka menerima dengan senang hati,” ucap seorang anggota rombongan.
Inilah salah satu bentuk pelajaran berharga yang diperoleh peserta Lemhanas, saling menghargai budaya antar negara.

Jamuan Makan dan Ultah Pak Kausar
Memang hebat orang Indonesia ini. Dimana pun dia berada, kalau ada tamu dari kampungnya pasti diundang untuk makan. Begitu juga rombongan PPSA di Australia dijamu makan di rumah Atase Pertahanan Marsekal Muda TNI Widjanarko.
Dua hari tak makan masakan Indonesia, nampaknya dipahami tuan rumah yang kemudian menyediakan makanan khas Indonesia sambil diiringi organ tunggal. Semua hidangan pun ludes.
Acara makan malam jadi meriah karena bertepatan dengan ulang tahun Pak Kausar yang merupakan tenaga ahli di Lemhanas. Dia pun menyumbangkan suara emasnya melalui tembang berjudul Angin Malam, yang diikuti “duet maut” Bunda “Dr. Rosita Noor” dan Marsekal Muda Husra Harahap alias Ucok, dengan lagu lawasnya I Can’t Stop Loving You.
Selain itu jamuan makan malam di kantor Kadubes RI di Camberra, walau Pak Dubes sedang bertugas di Jakarta, para stafnya menyiapkan makan malam yang enak bagi rombongan Lemhannas serta hari terakhir dijamu makan di restoran Turki dengan kebabnya yang rasanya mantap, mantap…mantap.

Came Back To Australia
Selama SSLN PPSA XVIII ke Australia, banyak kenangan yang sulit untuk dilupakan, terutama jalan yang tidak macet, rasa aman dan kota yang bersih. Kenangan ini membuat kita akan kembali lagi ke negara tetangga bule ini. Memang beberapa peserta PPSA pernah sekolah dan bertugas serta megunjungi negara ini seperti Laksama Agung Parmono (Athan di Australia), Dr. Mohammad Imran Duki (sekolah), Dr. Syarief Burhanuddin (sekolah), Mayjen TNI. Endang Heruddin (sekolah di Lemhannasnya Australia), Mursyid Sonsang (sekolah) dan peserta lainnya…..

Diiringi lagu balad Australia Waltzing Matilda pesawat garuda yang membawa rombongan akhirnya mendarat dengan selamat di Bandara Soekarno Hatta, Jumat sore tangal 21 September 2012……see you later (Disarikan oleh Mursyid Sonsang)