yang Pertama

Saya seorang jurnalis, pekerjaan ini sudah saya tekuni 18 tahun lalu. Banyak pengalaman suka dan duka dilalui. Tapi saya sangat sulit keluar dari dunia ini. Mungkin alasannya,  dari profesi ini saya dapat isteri sampai nama saya dikenal banyak orang.

Awal menekuni pekerjaan ini, secara tidak sengaja. Sewaktu saya kos di Air tawar Padang, tepatnya di Jalan Srigunting. Sebelah kamar dengan teman yang bernama Awan Wijaya, seorang aktivis kampus dan penulis di beberapa media lokal dan nasional.

Tiap malam, aku tidak bisa tidur, saat Awan Wijaya mengetik tulisannya. detak-ketik-rohhhk. Bunyi itu sangat membosankan, tapi saya tidak bisa marah. Karena, saya turut bangga dengan teman saya itu, tulisannya bertebaran setiap hari di berbagai media, termasuk di Koran Singgalang, langganan kami. Setiap koran datang, kami berebut ingin membaca koran itu, masuk ndak tulisannya awan…

Kalau masalah membaca koran dan majalah atau buku-buku sejarah, memang sejak dari sekolah dasar, hobi nomor satu saya. Jadi, berdebat atau diskusi masalah umum, politik, sejarah, bola, sangat saya sukai. Otakku dengan cepat menyimpan, nama tokoh nasional dan internasonal, nama-nama pesepakbola dari negara manapun.

Melihat kemampuan pengetahuaan umumku yang sangat luas, Awan Wijaya sering melonggo, saat saya menganalisasi masalah-masalah politik nasional dan internasional, begitu juga menganalisa pertandingan sepak bola piala dunia. ” Mursyid, modal kamu untuk jadi penulis sangat banyak, cobalah tulis, saya akan bantu bagaimana memulainya.” kata Awan Wijaya dengan mimik yang sangat serius. ” ah…serius ni Wan, tapimengetik aja saya tidak bisa,” Jawabku.

Beberapa hari kemudian, saya membuat sebuah tulisan, dengan mesin tik olympia pinjaman teman Awan Wijaya itu, saya analisa tentang pergerakan mahasiswa setelah diberlakukan NKK/BKK oeh Menteri Pendidikan Prof. Dr. Daoed Yusuf ( Menteri Kabinet Soeharto 1978 – 1983)

NKK itu intinya melarang keras mahasiswa beraktifitas politik. Kebijakan ini terbukti ampuh memasung gerakan – gerakan mahasiswa yang membuat mahasiswa sibuk dengan kegiatan rutinitas kampus sehinngga membuat mahasiswa terpenjara oleh system yang ada. Pada dekade itu, ada baiknya juga, tidak ada mahasiswa abadi, rata-rata lulus S-1 hanya empat hingga lima tahun. Untuk demo, barang yang diharamkan.

Tulisa saya siap dua halaman folio, lalu saya berikan sama Awan Wijaya, “its oke……” Ujar Awan. Lalu dialah yang mengantarkan tulisan itu ke Harian Singgalang. Menunggu tulisan yang pertama muncul di surat kabar, sama dengan menunggu suatu yang sangat luar biasa, imposble jadi saya tidak begitu harap nian. Karena, saya yakin sangat jarang seorang penulis, pertama mengirim tulisan langsung tulisan itu dimuat.

Apa dikatakan, dua hari kemudian, Sabtu pagi, Awan yang kebetulan lebih dulu membaca koran, lari terbata-bata menuju kamar ku.” Syid tulisan kamu keluar, selamat ya….” ujarnya. Ah…tidak saya tanggapi, pasti Awan mengolok-ngolok. Saya dengan malas untuk bangun dan menarik selimutku menutupi seluruh tubuhku. ” Kau baca ini, sambil mengoyang-goyang tubuhku,” Ujarnya lagi.

Saya bangun dan mencuci muka, lalu dengan hati yang berdebar-debar, saya ambilkoran itu….”Ya Allah, kau berikan aku nikmat dan kebanggan yang begitu besar, hari ini,” Gumamku dalam hati…”trima kasih ya Wan,’ Kataku….

Begitulah rasa dan kebahagian yang saya alami, ketika tulisan pertama dimuat di surat kabar….

bersambung…..

yang PERTAMA……..WARTAWAN …….DI SONSANG

Setelah wisuda tahun 1989, saya menjadikan dunia tulis menulis untuk mencari nafkah, minta uang belanja sama orang tua, sudah malu dan sangat mengerti dengan keadaan ekonomi keluarga. Pekerjaan menulis ini, saya jalani selama tiga tahun.

Akhirnya tahun 1992 saya bergabung menjadi wartawan Harian Singgalang, Padang. Minat jadi wartawan cukup tinggi dari lulusan perguruan tinggi di Sumatera Barat, pada waktu itu. Tes tertulis  yang dilakukan Singgalang, diikuti sekitar 350 orang. Yang lulus sembilan orang, tes terakhir interview lulus tiga orang, termasuk saya sendiri.

Kebiasaan menulis sangat membantu menjadi wartawan, hanya saja menulis artikel berdasarkan opini atau pendapat kita, sedangkan wartawan menulis   berdasarkan pendapat orang tentang sesuatu perkara.

Teori klasik  membuat sebuah berita itu, harus memiliki unsur 5 w tambah 1 h. Anekdot juga menjelaskan, apa beda wartawan, dokter gigi dan penyanyi. Kira-kira jawabannya, dokter gigi dapat uang dari mulut orang lain, sedangkan penyanyi dapat uang dari mulut dia sendiri. Kalau wartawan dapat uang dari mulut ke mulut.

Agar statemen dari mulut ke mulut itu akurat, wartawan harus chek and rechek, memakai azaz balance, patuh kode etik dan beritikat baik. Banyak orang pandai menulis, tapi di saat mereka membuat berita, azaz itu jangan di sepelekan, apalagi sebuah berita akan dipupliaksikan untuk masyarakata umum.

Begitulah pekerjaan saya sehari-hari, pagi bangun cari mulut siapa yang mau ngomong atau istilah jurnalistiknya nara sumber. Pilihan nara sumber ada ketentuannya, peristiwa kebakaran rumah misalnya, sumbernya bisa saksi yang melihat. Akibat kebakaran pihak polisi yang berwenang menjelaskan, penyebab kebakaran, kalau kebakaran dari hubungan pendek listrik, pihak pln  dan sebagainya.

Nara asumber ini, harus yang berwenang atau yang mengetahui pekerjaan/ masalah yang kita angkat jadi berita. Kadang-kadang ada wartawan yang lupa, lantaran temannya dipaksakan mengomentari suatu masalah. Misalnya, tentang kuliner, kita paksakan si A jadi nara sumber, padahal dia ahli bengkel. Ya berabelah

Kami sekeluarga enam orang, tiga laki-laki dan tiga perempuan, ibu kami sudah meninggal tahun 1975 lalu, saat saya duduk di kelas tiga sekolah dasar Kalung, Kecamatan Tilatang Kamang, Kabupaten Agam. Bapak ku, seorang Kepsek SD, di Bukitkuliriak, sekitar 5 km dari kampungku Sonsang.

Sonsang sebuah kampung yang cukup indah, terpisah dengan kampung lainnya, dari Kota Bukittingi berjarak sekitar 6 km.

Kata sonsang artinya terbalik, bagi kalangan kaum sufi kata sonsang, suatu ajaran yang sesat.

Salah satu alasan kenapa nama kampung saya, Sonsang,  tidak ada literatur resmi yang menulisnya. Namun sumbernya  dari cerita mulut ke mulut. Kampung yang berada di kaki bukit itu, memiliki sebuah danau kecil, saat musim hujan air danau mengalir ke sungai, tapi saat kemarau air membalik mengalir dari sungai ke danau. Tapi kini, danau itu sudah kering ditumbuhi rumput atau istilah kami rumput banto.

Perumahan pendudukan berada di kaki bukit yang cukup terjal, kalaulah longsor, satu kampung bisa tertimbun tanah dan bebatuan. Tapi hingga kini belum terjadi, mudahan tidaklah. Mungkin juga Tuhan masih sayang dengan warga kampung ku, mereka sangat fanatk beragama, terutama yang tua-tua, sedangkan yang muda-muda sama dengan kampung lainnya. Ritual agama sangat rajin digelar, acara doa mendoa sangat rutin diadakan. Sesudah meninggal, menjelang puasa, hajatan syukuran dan hari-hari besar islam lainnya. Sembahyang tarwih 21 rakaat, sembahyang jumat khatib saat kotbah harus memakai tongkat serta ada waktu jeda sang khatib. Khotbah pembuka dan kotbah penutup.

Jumlah warga Desa Sonsang diperkirakan mencapai 1500 jiwa sebagian besar pekerjaannya petani sawah dan berkebun di lereng bukit. Anak muda-muda laki bekerja sebaga pengrajin ikat cincin, dari perunggu, perak hingga emas, kini telah di ekspor ke Singapura. sedangkan perempuan muda menjahit bordiran, sebagian kecil jadi pegawai, pedagang apalagi jadi wartawan.

Yang pertama jadi wartawan adalah saya sendiri, kemudian dikuti adik saya Akmal, kini dia jadi koordinator Kameramen di RCTI Jakarta. Dan Akmal menolong 2 sahabatnya jadi wartawan. Sekampung itu yang berprofesi sebagai wartawan saat in kami berempat……..mungkin juga kehidupan wartawan jarang yang makmur lahir dan bathin, walaupun demikian saya sampai hari ini tetap memilih profesi ini.

bersambung

Yang ….PERTAMA…….WARTAWAN TV SWASTA DI JAMBI

Di tengah rintik hujan, sore itu, saya berangkat dari rumah Om Dasril dan Tante di jalan Karet, Purus Padang, menuju terminal lintas Andalas Padang. Saya di temani, Asnely Ridha Daulay ( yang kini jadi isteri saya).’ Hati-hati di Jambi yaa Bang, saya doakan Abang sukses dan berhasil di jambi,’ ujar el, kata-kata terakhirnya sesaat saya menaiki mobil bus Jatra.

Di atas mobil pikiran saya berkeliaran kemana-mana, berbagai pertanyaan muncul dibenak saya. Mampukah saya jadi Koresponden RCTI di Jambi ?. Kayak apa kota Jambi dan dimana aku akan tinggal?.

Mobil Jatra yang aku tumpangi terus melaju kencang meninggalkan Kota Padang, tiba-tiba mobil berjalan merangkak-rangkak, saat mendaki Jalan Sitinjau Laut, yang terkenal ganasnya. Dari arah Kota Padang jalan mendaki dan berbelok-belok, di satu sisi lereng bukit terjal, di sisi sebelahnya jurang yang sangat dalam. Kalau hujan, rawan longsor. Jalan sempit, kalau berpasan salah satu berhenti.

Jalan Sitinjau Laut ini, salah satu jalan utama masuk/ keluar dari Kota Padang ke daerah lain, membuat ruas jalan ini terpadat di Sumatera Barat. Tiap hari dilalui ratusan bus penumpang dan truk membawa barang. Walau mobil berjalan merangkak-rangkak, sering remnya bolong, nyunsep masuk jurang sedalam ratusan meter. Lima tahun kemudian, Dinas Pekerjaan Umum Sumatera Barat memangkas tebing-tebing itu, untuk memperlebar jalan. Saat ini Jalan Sitinjau Laut sudah lebar dan mobil bisa berselisih berlawanan arah.

Tiba-tiba, mobil yang kami tumpangi sudah melewati Jalan Sitinjau laut, memasuki Kota Solok. Untuk sampai ke Kota Jambi diperkirakan delapan jam lagi, kondisi jalan antar lintas Sumatera dari Solok menuju Muaro Bungo terus ke Kota Jambi, sangat mulus, mobil berlari dengan kecepatan tinggi, diperkirakan sampai pukul 6 pagi.

Saya berupaya mengusir waktu, dengan membaca kliping-kliping koran tentang Propinsi Jambi. Salah satu berita yang cukup menarik, kunjungan Tim Kesenian Jambi ke manca negara pertengahan tahun 1994 dibawah pimpinan isteri Gubernur Jambi, Ny. Lily Abdurahaman Sayuti ( mantan penyanyi lagu Minang) yang cantik dan cerdas. Dalam muhibah itu kontingen dari daerah yang berjulukan sepujuk Jambi Sembilan Lurah itu juga mempromosikan Batik Jambi selain menampilkan beragam tarian kreasi baru yang dikoreograferi oleh Tom Ibnur. Dari berita itu di tulis kunjungan ke beberapa negara Eropah itu, cukup berhasil. Para bule yang ikut menyaksikan cukup tertarik dan sebagian ingin datang ke Jambi.

Dari membaca kliping koran itu, pengetahuaan ku tentang Jambi, cukup memadai. Dari Gubernur, Muspida lainnya, para Bupati/ walikota serta dinas-dinas penting sudah saya hapal, begitu juga dengan potensi dan persoalan-persoalan masyarakatnya.

Memang untuk jadi seorang wartawan itu, harus menguasai pengetahuan umum tentang apa saja mulai dari pemerintahan, politik, ekonomi, lingkungan, pendidikan dan lainnya. Juga tidak kalah pentingnya kemampuan mengapal nama-nama nara sumber terutama tokoh pemerintahan, masyarakat dan lainnya.

Ada kejadian menarik, ketika saya jadi wartawan Singgalang di Padang, seorang teman wartawan harian yang cukup terkenal di Padang, bersama saya mewawancarai seorang tokoh politik, waktu itu terjadi kasus pertama dalam pemilihan gubernur di Indonesia, DPRD Sumbar menolak intervensi Jakarta, untuk memilih salah satu calon gubernur Sumbar yang diinginkan Jakarta. Teman wartawan itu, berapi-api mewawancarai sang tokoh itu. Selesai wawancara, si wartawan tanpa malu menanyakan,” Nama bapak sapa yaa.” ujar teman tadi dengan wajah tanpa dosa. Wal hasil tokoh yang sangat terkenal itu hanya melonggo, sambil mengatakan.” Tanyakan nama saya kepada bos koran mu,” katanya sambil berlalu masuk ruangan kejanya.

Sekitar pukul enam pagi, sampailah di Kota Jambi. Pertama saya mencari rumah kos, setelah itu melapor keberadaan saya ke PWI, Humas kantor gubernur, menghapal rute angkutan kota, tempat mengfax naskah serta perusahaan penerbangan untuk mengirim kaset ke Jakarta.

Awal pekerjaan ini sangat melelahkan, bayangkan saja kendaraa umum kalau sudah di atas jam 5 sore ngak ada lagi, tempat meng-fax berita di pasar Jambi, kirim kaset ke bandara Sulthan Taha jauhnya lumayan. Malam menjelang tidur minggu pertama di Jambi, terasa susahnya merantau sendirian, tanpa ada famili dan kawan.” Kamu jangan menyerah, hari-hari mendatang keberhasilan akan datang,” itu Gumamku untuk memaju semangat.

Beberapa minggu kemudian sistim kerja sudah terbangun, baru kebanggan menjadi wartawan televisi swasta pertama di Propinsi Jambi aku rasakan. Respon dari para pejabat dan masyarakat sangat antusias, apalagi berita-berita Jambi mulai tayang di RCTI. Pada waktu itu RCTI sangat besar dan jadi patron pemberitaan televisi (Televisi hanya dua TVRI miliki pemerintah dan RCTI milik swasta pertama) serta pemiliknya anak penguasa Repuplik Indonesia. Acara filmnya bagus-bagus, karena saingannya TVRI perkembangannya begitu-gitu saja.Hidup segan mati tidak boleh.

Dalam liputan di lapangan, terkadang kayak selebritis saja, kalau orang mengundang liputan disediakan mobil dan berbagai fasilitas. Bahkan pernah suatu kali liputan di daerah kabupaten dikalungi bungga (kayak pejabat aja), dan orang-orang minta tanda tangan. Kiranya saya buat film di kampungnya, akan ditayangkan di RCTI.

Masa kejayaan sebagai koresponden Televisi swasta itu saya cicipi hingga jatuhnya Presiden Soeharto, krisis ekonomi dan zaman reformasi. Setelah itu televisi bermuculan, media cetak didirikan tanpa SIUP dan perkembangan-perkembangan lain dengan embel reformasi bergulir dengan cepat, terkadang tidak tentu arah. ( kebablasan).

Saat ini stasiun televisi swasta, dalam mencari wartawannya di daerah tidak lagi mementingkan pendidikan, moral, dan seleksi yang ketat. Satu syaratnya punya kamera, bisa mengirim berita secepatnya dan ada koneksi, ya jadilah kontributor. Mereka tidak dikontrak, tidak digaji tiap bulan, tapi wartawan lepas dengan sistim berapa berita tayang, itulah yang dibayar.Akibatnya, mereka meninggal etika jurnalistik, gambar mereka rekayasa, isi berita di dramatisir dan teknik teknik penipuan lainnya.

Suatu kebanggan bahwa saya orang pertama jadi koresponden televisi swasta di Propinsi Jambi. Dari awal 1995 hingga saat ini ( 2008). Sudah ribuan berita tentang Jambi ditayangkan di RCTI, tentunya suatu sumbangan yang sangat besar dalam mempromosikan Jambi mulai kulinernya, pariwisata, seni budaya adat istiadat, pertanian, perkebunan dan segala aspek kehidupan. Itulah yang bisa saya sumbangkan ke daerah ini yang sudah tiga belas tahun saya diami…..

….bersambung

Yang Pertama…Wartawan Televisi Jadi Ketua PWI Cabang Provinsi Jambi
Menjadi penulis (dan kemudian wartawan) adalah sebuah pilihan yang dilakukan dengan sadar oleh laki-laki kelahiran Bukittinggi, empat puluh dua tahun lalu ini. Sejak duduk di bangku kuliah salah satu perguruan tinggi di Padang, dia telah aktif menulis di Tabloid Kampus ” Ganto “ dan artikelnya dimuat di majalah dan Surat kabar nasional dan daerah.

“Awalnya coba-coba jadi penulis, akhirnya ketagihan dan hingga sekarang pekerjaan wartawan sebagai pilihan.” ucap Mursyid Sonsang bersemangat mengawali pembicaraan dengan www. Infojambi.Com. Tak heran, ketika dia telah mendapatkan ijazah S1 nya, tahun 1989, lelaki ini semakin tenggelam dalam dunia penulisan dan akhirnya bergabung dengan salah satu surat kabar ternama di Sumatera Barat, yaitu Harian Umum Singgalang tahun 1992.

Karir sebagai wartawan media cetak dijalani kurang lebih selama 2 tahun. Ketika tawaran untuk terjun menjadi reporter televisi menghampirinya, Mursyid Sonsang langsung menyambut dan mempersiapkan diri menuju Jambi, wilayah penugasannya yang pertama sebagai jurnalis televisi pada tahun 2004 dan bertahan hingga sekarang.

Menjadi wartawan televisi swasta pertama (dan sangat tersohor pada waktu itu), yakni RCTI, dirasakannya merupakan tantangan yang sangat berat. Wilayah Jambi bagi ayah dari Fathur Ibrahim Mursyid (12) dan Fachri Muhammad Mursyid (8) ini masih sangat asing. Tak pernah terbayang dalam dirinya untuk merantau dan tinggal di Jambi namun takdir menggiringnya ke negeri Datuk Rang Kayo Hitam ini.

“Sekarang saya merasa beruntung ditempatkan di Jambi. Inilah tanah yang dapat menerima semua etnis dengan damai dan tangan terbuka,”ucapnya dengan aksen Minang yang masih kentara, seraya menyebutkan beberapa wilayah di Sumatera dimana isu putra daerah sangat ditonjolkan dan mempengaruhi perkembangan karir seseorang baik di organisasi sosial maupun pemerintahan.

Selama kiprahnya menjadi wartawan, banyak asam garam yang telah dicicipinya. Gempa Kerinci pada tahun 1995 merupakan salah satu liputan yang paling berkesan karena musibah besar itu mempertemukannya dengan banyak wartawan dari beragam media di Jambi dan media nasional. Di sana, arti persahabatan sesama wartawan dan kerjasama dalam menghadapi saat-saat yang serba tidak menentu, membuatnya semakin menyadari bahwa kekompakan sesama wartawan sangat penting untuk terus dibina dan ditingkatkan.

“Pada saat meliput di Kerinci, rumah saya di Jambi di bobol maling. Beberapa barang berharga dan pakaian hilang dibawa maling,” ucapnya seraya menambahkan saat kejadian itu usia pernikahannya dengan Ir. Asnelly Ridha Daulay, M.Nat.Res.Ecs, salah soorang PNS di Pemda Provinsi Jambi baru berumur empat bulan.

Dibalik kemalangan, ternyata ada hikmah yang besar. Hal itu dirasakannya belakangan. Pada awalnya lelaki yang memiliki hobbi memancing dan membaca Al-quran ini, merasakan kerasnya hidup di Jambi; transportasi yang sulit, rawan kejahatan, fasilitas komputer dan fax yang minim dan sebagainya, namun kini menginjak 16 tahun keberadaannya di Jambi, kiprahnya sebagai wartawan senior mulai diakui.

Selain di RCTI, saat ini Mursyid menjadi Pimred Media On Line http://www.Infojambi. Com, Koordinator Harian Singalang Padang untuk Propinsi Jambi, Kontributor Radio Trijaya, Jakarta. Bersama-sama dengan kawan-kawan Koresponden Televisi swasta Nasional, Mursyid sedang mendirikan Televisi Lokal dan Radio, “Izinnya dalam proses untuk televisi dan Radio sudah on air dibawah bendera Raja FM, mudahan media ini diharapkan menjadi ladang baru bagi anak muda jambi, untuk menjadi wartawan televisi dan radio,” Ujarnya.

Demikian juga kiprahnya di organisasi wartawan semakin terasa dan kuat. Karirnya dimulai dari bawah. Bergabung dengan PWI Jambi tahun 2000, sebagai anggota biasa. Pada tahun 2004 dalam kepengurusan Ketua PWI H. syamsudin Noor (almarhum) periode (2004 – 2008), Mursyid yang akrab dipanggil Uda ini dipercaya menjadi Ketua Seksi Elektronika.

Pada waktu itu, dia baru saja pulang dari Negeri Kangguru Australia, setelah bermukim di sana selama satu setengah tahun. Selama di Australia pekerjaan meliput tidak ditinggalkannya, sambil belajar Broadcasting atau ilmu Jurnalistik Televisi di Kota Brisbane, Ibu Kota Negara Bagian Queensland, salah satu Negara Bagian di Negara Australia. Bekal pengalaman dan ilmu jurnalistik televisi dari negeri Kangguru itu, mulai diterapkannya dalam peliputan RCTI di Jambi. Ilmunya ini berusaha disampaikan kepada kameramen muda di Jambi melalui salah satu kegiatan PWI Jambi yaitu pelatihan fotographer dan kameramen (2005).

“Pelatihan ini murni ide saya. Ketika disampaikan dalam rapat pengurus PWI, kawan-kawan menerima untuk dilaksanakan. Istimewanya, ini sejarah baru dalam pelatihan yang diselenggarakan PWI karena pesertanya yang berasal dari luar PWI harus membayar sedangkan untuk kawan-kawan PWI gratis, ” ujarnya.

Dengan suksesnya pelatihan ini, Mursyid dipromosikan menjadi wakil ketua bidang pendidikan menggantikan Thoha Maksum yang pindah ke Lampung. Dengan jabatannya tersebut, beberapa kegiatan lain mulai digagas dan dilaksanakan seperti sosialisasi undang-undang pers di beberapa kabupaten, pelatihan wartawan se Kabupaten Kerinci di Sungai Penuh, memberi kuliah umum tentang jurnalistik untuk mahasiswa UNJA, kerjasama pelatihan jurnalistik lingkungan hidup FLEGT – PWI.

Salah satu tugas penting yang dipercayakan Ketua PWI kepadanya sebagai ketua PORWANAS Jambi ke Kalimantan Timur tahun 2007 lalu. Misi itu berjalan sukses dengan membawa rombongan besar berjumlah 38 orang dan memboyong pulang 4 medali perak dan 2 medali perunggu.

“Dalam mempersiapkan keberangkatan tim, saya betul-betul diuji oleh teman-teman lainnya. Bahkan untuk mengetik proposal dan surat-surat pun saya harus pergi ke rental komputer karena fasilitas di kantor PWI sedang rusak,” paparnya pecandu berat novel karangan Mario Puzo ini .

Berbagai seminar tingkat nasional dan kegiatan PWI Pusat secara rutin diikutinya, Pelatihan untuk pelatih atau TOT PWI di Batam (2005), Seminar Strategi Pemenangan Pilkada di Jakarta (2005), Konvensi Media Massa Tingkat Nasional dalam Hari Pers Nasional di Bandung (2006), Samarinda (2007) dan Semarang (2008), perserta Kongkernas PWI di Jayapura (2007) serta memimpin utusan PWI Jambi mengikuti Kongres PWI di Banda Aceh (2008) –dalam kongres tersebut peran Mursyid cukup dipandang daerah lain, salah satu penghargaan Mursyid boleh mencalonkan orang jambi menjadi anggota dewan kehormatan PWI Pusat, bapak Wikrama Abidin –

Juga pengalaman liputan ke luar negeri juga menambah wawasan dan pergaulan dengan wartawan internasional, Mursyid pernah liputan ke beberapa negara Singapura, Malaysia, Selandia Baru, Australia, Arab Saudi dan negara lainnya. ” Itulah enaknya jadi wartawan bisa gratis jalan-jalan ke Luar negeri,” ujar lelaki yang fasih membaca Alquran ini.

Dengan pengalaman dan pendidikan jurnalistik yang sangat lengkap, Mursyid Sonsang terpilih menjadi Ketua PWI Cabang Provinsi Jambi, dalam Kofercab PWI Provinsi Jambi tahun 2008 lalu. Terpilihnya Mursyid sudah diprediksi sebelumnya. Walau Mursyid maju menjadi ketua tidak memiliki anak buah yang bakal memilihnya.

Laki-laki ini mengakui kerasnya tantangan memimpin sebuah organisasi seperti PWI. Tidak seperti organisasi sosial yang memiliki patron (bapak angkat, penyandang dana dan sebagainya), anggota dan pengurus PWI harus berjuang keras mengumpulkan dana dan dukungan dari berbagai pihak setiap kali melaksanakan kegiatan.

“Namun sebelum melangkah ke sana, terlebih dahulu harus dibenahi masalah internal PWI. Tidak ada lagi perpecahan dan permusuhan yang diwariskan, semua harus satu visi untuk menjadikan PWI organisasi besar dan bermartabat,” ucapnya.

Membenahi SDM wartawan di Jambi dan mengajak sebanyak mungkin wartawan muda untuk bergabung dengan PWI Jambi. “Wartawan muda adalah asset PWI, sebagaimana generasi muda merupakan asset sangat berharga bagi bangsa ini,”ucapnya menutup pembicaraan. (Infojambi.com)

25 responses

18 09 2008
han

wah sayang putus,,😦

24 09 2008
han

wah, yang benar pak?
anda mau menawarkan saya jadi seorang wartawan?
saya senang sekali jika ada kesempatan untuk menjadi itu..
dimana saya bisa tahu banyak infonya pak?

24 09 2008
elindasari

Wah…wah ceritanya panjang & komplit Udah Musyid, hehehe…
Sayang putus yach ?. Senang dapat berkenalan dengan udah yang satu ini. Ternyata profesinya sama dengan Bang Jay (Zainuddin) sbg Wartawan ?.
Salam kompak selalu & sukses buat karier & keluarganya di Jambi🙂 🙂 🙂

Best Regard,
Bintang
http://elindasari.wordpress.com

25 09 2008
Rita

Bang ntar kalau pulang dari cuti aku balik mbaca, sebenaernya pengen nyelesaiin cuma kita udah siap2 berangkat.
SELAMAT IDUL FITRI, MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN, RITA & FAM.

26 09 2008
han

pak, saya hanya tamatan smk,
bukan d3 apalagi s1😦
gimana pak?
saya memang sekarang lagi mau nyari kerja pak

26 09 2008
pimbem

sonsang… tdnya saya berpikir kl ini daerah di sumsel yg terkenal dgn hasil lautnya, sungsang.. ternyata di sumatera barat ya…

hehe barusan saya nanya ke senior yg asli dr bukittinggi..
saya : “pernah denger daerah yg namanya sonsang ga?”
senior :”sonsang? bayi yg kebalik ya?”
saya : $@@#$%^

6 09 2011
punkandra

ikut nimbrung, denger2 duluny sonsang dri nama air yg mengalirnya keatas, tp bener gk ya? uda mursyid bisa dijelasin?
sekalian mw nagih pesenan dulu2, minta foto jorong sonsang

26 09 2008
Listiana Lestari

Wah….kalo jurnalis itu beda ya….kata-katanya tersususn dengan rapi sekali….dan ceritanya bisa buat orang jadi gimana gitu….
Salam,
Listiana Advokat.

28 11 2008
mamas86

Salut……..

9 12 2008
Hans

Pak Mursyid,
ada teman saya tertarik jadi wartawan di infojambi.com
teman kuliah pak.
Apa masih ada lowongan?

7 02 2009
Maspri

Untung ada Pak Mursyid…… Jambi jadi dikenal orang Indonesia dan terkenal. Dulu orang tidak tau Jambi itu ada di Pulau apa? Atau Jambi itu Kabupaten di Sumbar ya? Atau juga: Jambi itu di Sumatera Selatan kan? Tapi sekarang sebagian besar masyarakat Indonesia (bahkan mungkin manca negara) sudah tau tentang Jambi.

Saya juga ingin seperti itu, supaya Kabupaten kami, Kabupaten Bungo, lebih dikenal orang. Atau orang Bungo di perantauan dapat info tentang kampung halamannya yaitu Kabupaten Bungo.
Untuk itu Pak Mursyid, saya punya blog di infobungo.blogspot.com Jika saya mengutip secara utuh berita di infojambi.com atau di blog Bapak ini boleh kan? Tentu saja dalam kutipan itu saya selalu akan mencantumkan sumbernya yaitu infojambi.com atau mursyidyusmar.wordpress.com

Atau mungkin harus ada perjanjian atau apa lah namanya….
Bagaimana pula caranya?
Terima kasih.

18 03 2009
muhamamd reza

menyentuh membuat aku terharu

23 05 2009
ayub

lama ga di update ya pak Mursyid….

salam kenal dulu decjh pak..

walau dah maren2 dah pernah kesasar kesini..

sekalian ne mau ngedata link blogger jambi ne pak…

12 05 2010
www.e-miracle01.tk

Yang pertama memang selalu berkesan dan membuat kita tersentuh…SAlam Sukses Selalu PAk mursyid

14 06 2010
dharmady

aku ada kartu nama bp pas baru datang ke jambi, waktu ketemu di pasar Jambi depan SD Xaverius, tak terasa waktu cepat berlalu, sukses selalu pak Mursyid.

8 07 2010
awen koto

suatu k bnggaaan tarsndiri bagi ambo,krna mempunyai uda yg sukses d bidangnya….hidup putra sonsang…..

18 07 2010
mursyidyusmar

alun ladoh……yo sukses tagantuang kito…..mensyukuri nikmat apo adonya…..di ma kini

28 12 2010
punkandra

uda wak darI jawa andak tw kebudayaan kampung sonsang. jo dengar2 kampungnya sangat rancak. “maaf klo dalam penulisannya keliru”

31 01 2011
mursyidyusmar

kalau dapek pulang-pulang jugo….memang banyak yang menarik. Tapi perkembangan zaman juga turut melarutkan kebudayaan asli dan keelokan kampung sonsang tu

3 04 2011
punkandra

uda kalo boleh minta picture keeolakan kampuang sonsang & sejarah kenapa dinamakan sonsang. sedikit banyak tentang sejarah sonsang dan tradisi disana. terima kasih ke-mail ku

6 04 2011
mursyidyusmar

aman nanti pulang hari rayo 2011 dicari bahan tentang kampung sonsang yang kito cintoi..tks sarannya

7 04 2011
punkandra

dituNggu y da,,,,^_^
sebeLumnya makasiH,,,,

1 05 2011
puti

Salam tan imun.ambo suko sekali mambaco tulisan uda dan sampai kini sabana nyo baru jaleh bana di ambo tentang uda.setiok hari dalam seminggu acok tadanga namo ” mursyid songsang melaporkan dari jambi ” tabik ! kalau ambo perhatikan kecintaan uda mursyi tradok kampuang songsang sangat besar sekali.kalau arti songsang sacaro harfiah memang terbalik kalau mangikuik kamus bahaso melayu dan kalau arti nyo mursyid dalam bahaso arab itu penunjuk jalan.mungkin TAN MURSYID akan menjadi penunjuk jalan bagi urang kampuang songsang yang mungkin terbalik? allahuawallam.ambo adik dari seorang kawan sd uda dulu.kini kakak ambo tu alah maningga,di malaysia.sekian dulu dari ambo.salam untuk iman dan i an,kalau bisa tahu sia duo kawan si an yg jadi wartawan tu?
salam hangat

8 05 2011
mursyidyusmar

tks ya……adiak sia garan. HP ambo 081366010436

26 08 2011
andri

bang mursid cobak sekalie2 datang ke toengkal ninggok anak buah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: