Inyiak Rosihan….Wartawan Sejati itu Telah Pergi

17 05 2011

Saya termasuk beruntung, salah seorang yang mendapatkan draf buku karangan almarhum Inyiak Rosihan Anwar tentang sepak terjang tokoh perjuangan Sutan Syahrir — salah tokoh sosialis yang saya kagumi, bayangkan dalam usia 36 tahun sudah menjadi Perdana Menteri–.

Buku yang diberi judul Sutan Syahrir : Pahlawan Nasional Dalam Suka Dan duka 1909 – 1966 dikirim ke rumah saya oleh Bapak Sabam Siagian, –wartawan senior mantan Dubes RI di Australia– yang diminta tolong oleh almarhum. Pertemuan dengan beliau saat acara TOT di Cisarua Bogor dua tahun silam.

Rampungnya buku tentang Sutan Syahrir tersebut, salah satu bukti bahwa beliau adalah seorang sejarawan. Beberapa buku sejarah yang beliau tulis di antaranya, Kisah-kisah Zaman Revolusi (1975),Soebadio Sastrosatomo Pengembang Misi Politik (1992) serta banyak buku lainnya.

Saat usia senja, Inyak Rosihan terus menulis, kabarnya beliau sudah merampungkan buku kisah cintanya dengan almarhumah istrinya, Siti Zuraida binti Moh Sanawi. Siti Zuraida meninggal pada September 2010. Inilah contoh teladan yang ditinggalkan putra kelahiran Kubang Nan Dua, Sumatera Barat, 10 Mei 1922 itu, menulis..menulis…menulis. Topiknya apa saja, dari sejarah, film, agama, dan lain sebagainya.

Walau beberapa kesempatan beliau juga sering beriba hati, ketika tulisan yang dikirim tidak dimuat oleh media. Ketika acara HPN di Bandung, beliau menyindir para pemilik media besar yang tidak memuat tulisannya. Sambil menjelaskan bahwa beliau sangat berharap tulisan dimuat dan dapat honornya.

Selain menulis memberi kepuasan juga berharap dapat uang menopang hari tuanya. Karena beliau, hingga akhir hayat tetaplah idealis sebagai wartawan, tidak tergoda menjadi pengusaha. Padahal untuk jadi pengusaha mungkin peluang cukup besar dengan pergaulan yang sangat luas dengan para petinggi repuplik ini.

Setiap acara PWI Inyiak Rosihan selalu datang, bahkan sering datang tertatih-tatih pakai tongkat. Sayang pada saat Hari Pers Nasional di Kupang bulan Februari 2011 lalu beliau tidak datang, mungkin alasan kesehatan. Kehadiran beliau di acara-acara PWI, memberikan semangat bagi kami yang muda-muda tentang banyak hal dari kemampuan bahasa, rajin menulis, kecintaan terhadap organisasi PWI dan ketabahan menjalani tugas sebagai wartawan.

Keunggulan beliau, setiap acara selalu memiliki buku catatan kecil atau notes, peristiwa atau statemen yang menarik selalu beliau catat. Beberapa bulan kemudian tulisan itu muncul di surat kabar. Keanehan beliau juga ada, beliau mengaku tidak pandai mengunakan komputer, kalau beliau menulis pakai mesin tik. Coba bayangkan dengan kita saat ini ?

Wajar kiranya, almarhum mendapat beragam sebutan di antaranya wartawan pejuang, wartawan seumur hidup, wartawan sejati, wartawan lima zaman, wartawan hingga akhir hayat, wartawan yang budayawan/ sejarawan/ aktor dan lain sebagainya.

Atas dedikasi dan jasanya itu, gelar kehormatan diterima dari pemerintah Indonesia dan luar negeri di antaranya Bintang Mahaputera Utama III ( 1973 ), Bintang ( The Order of the Knights) Rizal, Philipina ( 1977 ), Piagam Penghargaan Pena Emas PWI Pusat ( 1979 ), Third ASEAN Awards in Communication ( 1993 ), Bintang Aljazair ( 2005 ) dan lain sebagainya.

Karir jurnalistiknya dimulai dari umur 20 tahun zaman penjajahan Belanda dan Jepang lalu berbagai jabatan dipegangnya, seperti :

1. Pemimpin Redaksi Surat kabar “Pedoman” (1948-1961 dan 1968-1974)
2. Pengajar dan Penatar (tahun 1970-an) jurnalistik
3. Wartawan Freelance / kolomnis berbagai penerbitan dalam negeri
4. Wartawan Surat kabar “Asia Raya” ( 1943 – 1945 )
5. Wartawan Surat kabar “Merdeka” ( 1945 – 1946 )
6. Pendiri /Pemimpin Majalah Mingguan “Siasat” ( 1947 – 1957 )
7. Koresponden / kolumnis beberapa penerbitan luar negeri sejak ( 1966 )
8. Pemimpin Redaksi majalah bulanan, penerbitan DFN “Citra Film” ( 1981 – 1982 )

Perjalanan organisasi:

1. Pemain dan Ketua Perkumpulan Sandiwara (berdiri hingga tahun 1947)
2. Anggota Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2N)
3. Anggota Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI)
4. Pendiri “Maya” Bersama Usmar Ismail ( 1944 )
5. Pemain Film ” Darah dan Doa” Produksi Perfini ( 1950 )
6. Pemain Film ” Lagi-lagi Krisis” Produksi Perfini ( 1955 )
7. Ketua Umum PWI Pusat ( 1970 – 1973 )
8. Pemain Film ” Karmila” Produksi Perfini ( 1975 )
9. Kepala Bagian Publikasi Yayasan Tenaga Kerja Indonesia (YTKI) ( 1976 – 1998 )
10. Anggota Dewan Juri Film Cerita FFI ( 1976 – 1979 )
11. Ketua Dewan Juri Festival Film Indonesia (FFI) ( 1976 – 1991 )
12. Anggota Dewan Film Nasional ( 1978 – 1995 )
13. Wakil Ketua Kelompok kerja tetap promosi dan pemasaran Film di luar negri ( 1981 – 1983 )
14. Ketua Dewan Kehormatan PWI ( 1983 – 1988 )
15. Pemain Film” Tjoet Nya Din ( 1985 )
16. Wakil Ketua Badan Pertimbangan Perfiliman Nasional ( 1995 – 1998 )

Kami pangil Inyiak, sebuah sebutan di Sumatera Barat untuk gelar bagi seseorang yang memiliki pengetahuan yang sangat hebat di bidangnya. Inyiak Rosihan hebat di bidang wartawan, sejarawan, budayawan, organisasi dan perjuangannya. Selamat Jalan Inyiak Rosihan…Moga Allah Menempatkan di Surga** (MURSYID SONSANG)


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: