KETIKA HARGA SAWIT DAN KARET TERJUN BEBAS

28 10 2008

Puluhan Petani Ganguan Jiwa

ImageKOTA JAMBI – Bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda tahun 2008 ini, http://www.infojambi.com menurunkan laporan masihkah repuplik ini satu tumpah darah, satu tanah air dan satu bahasa. Kalaulah slogan itu dimaknai. Kita baru sebatas satu tumpah darah saja dalam kata-kata, secara hakekat tidak ada lagi rasa senasib sepenanggungan, rasa kepedulian sudah hilang. Terutama Pemerintahnya, tidak lagi punya sense of crisis. Khusus, bagi masyarakat Jambi, krisis turunnya harga sawit dan karet. Sampai hari ini, belum ada langkah kongret yang dilakukan pemerintah daerah, terutama Dinas Pekebunan Propinsi Jambi. Ironisnya puluhan petani sawit menjadi stres dan ganguan jiwa…berikut laporannya.

Kalau Anda melewati Propinsi Jambi, sepuas mata memandang terlihat hamparan kebun kelapa sawit yang di selingi kebun karet. Pemiliknya sebagian besar adalah perusahaan besar PMDN dan PMA, dan sisanya milik pribadi masyarakat.

Menurut Kepala Dinas perkebunan Propinsi Jambi, Ali Lubis, total luas Kebun Kelapa Sawit di Propinsi Jambi sekitar 361 ribu hektar, 51 persen di antaranya milik petani plasma. Sedangkan milik swadaya masyarakat mencapai 87 ribu hektar. Sementara luas perkebunan karet mencapai 633 ribu hektar, sebagian besar milik pribadi masyarakat dan hanya 1000 haktar milik perusahaan.

Dengan anjloknya harga TBS kelapa sawit dan karet ini, yang paling terpukul adalah para buruh di perusahaan perkebunan kelapa sawit,  masyarakat kecil yang punya kebun satu hingga dua hektar, para petani plasma Kehidupan mereka sangat tergantung dari harga jual sawit.

Harus diakui, dalam sejarah persawitan di Propinsi Jambi, dalam dua bulan terakhirlah harga TBS  dan karet terjun bebas atau massa suram. Akibat krisis global dunia, terutama krisis keuangan Amerika. Harga sawit sampai akhir oktober 2008 ini, berkisar Rp 300 hingga Rp 800/kg, harga tersebut belum dipotong ongkos angkut dan upah dodos serta beli pupuk.” Kalau dihitung-hitung, bersih itu hanya Rp 80/ kg,” ujar Fauzi, pemilik kebun sawit di Bangko.

Lebih parah lagi, ratusan buruh kebun sawit dan Pabrik Kelapa Sawit, sudah ratusan yang tidak bekerja lagi, terutama buruh harian. “ Saya sudah berhenti bekerja, pabrik tidak lagi beroperasi,” ujar Udin, buruh lepas pabrik kelapa sawit PT. SAL di Bungo.

Sebelum dua bulan terakhir, selama bertahun-tahun lamanya para petani sawit/ buruh sawit dan petani karet, sangat menikmati indah dan nikmatnya jadi petani sawit dan karet,  Misalnya, harga kelapa sawit  TBS masih berkisar Rp 1000 hingga Rp 2000/ kg, sedangkan karet berkisar Rp 9000 hingga Rp 12.000/kg. Tergantung umur sawit dan kualitas karetnya.

Stabilnya harga sawit tahun-tahun lalu, membuat para petani atau pemilik kebun kelapa sawit, hidup sangat konsumtif. Penawaran kredit dari utang ke bank, kredit  mobil hingga perabot rumah tangga, mereka terima. Dalam hitungan mereka, harga sawit dan karet tidak akan turun. Tapi apa daya dua bulan terakhir harganya terjun bebas. “ Sebagian besar mereka utang ke bank, kredit mobil, dalam beberapa bulan mulai tidak terbayar. Akibatnya banyak yang masuk rumah sakit jiwa,” ujar H. Idris, petani sawit di Tempino, Kabupaten Muaro Jambi.

Hal itu dibenarkan Kepala Rumah Sakit Jiwa Jambi dr. Chairy Suryadi Indra, dalam dua bulan terakhir ada kenaikan pasien yang datang berobat, umumnya stres dan tidak bisa tidur, gara-gara harga sawit turun. Akibatnya kredit tidak terbayar, ”Rata-rata tiap hari yang berobat gangguan jiwa enam sampai delapan orang,’ ujarnya.

Dari data Rumah Sakit Jiwa, dalam empat hari terakhir yang berobat pada hari Sabtu 8 orang, Minggu 8 orang, Senin 6 orang, ”Umumnya para petani kelapa sawit, mereka berobat jalan,” tambahnya……..bersambung. (Mursyid Sonsang)

Iklan