fari Vagnari a Pizzu…

23 07 2010

rakus/dok/ mbah google/

DALAM beberapa bulan terakhir pemandangan yang asyik di persimpangan jalan utama di Kota Jambi. Ibu-ibu, gadis remaja dan anak-anak menjajakan koran mulai dari pagi hingga siang hari. Fenomena ini sangat menarik, bahwa koran sudah jadi komuniti bagi masyarakat dan bisa dibeli dengan harga murah. Mudahan dengan harga Koran yang murah, masyarakat mau membeli koran dengan sendirinya menumbuh minat baca. Pada akhirnya menciptakan masyarakat yang cerdas dan berwawasan luas serta tahu hak dan kewajibannya.

Saat ini, minat baca anak-anak kita jauh menurun, akibat serbuan media elektronik, seperti televisi dan media internet. Anak-anak kita sangat jago menekan key pad HP, komputer, laptop. Tanpa melihat key pad mereka dengan sigabnya menulis pesan, bahkan dalam kondisi tertidur ayam. ” Ngapain capek-capek balik koran, buka internet di Hp lebih mudah. Berbagai informasi bisa di dapat, bahkan dari berbagai koran di Indonesia.” ujar Indah, pelajar SMP ternama di Kota Jambi

Apa kata Indah itu ada betulnya, apapun informasi baik pengetahuan umum dan mata pelajaran sekolah serta berita dapat dengan mudah di akses lewat internet. Apalagi, berinternet ria bisa dilakukan pakai HP. Kabarnya beberapa tahun mendatang tarif internet akan jauh lebih murah.

Anekdot-nya, anak-anak sekarang punya paman dan tante yang sangat cerdas dan setia. Sebut saja “paman google”, menyediakan berbagai informasi penting. Kalau paman google sibuk dan tidak bisa menjawab pertanyaan, bisa bertanya sama Tante Wiki maksudnya Wiki Pedia, begitu juga kalau tante Wiki ndak bisa menjawab, tanya sama teman sejawat melalui facebook, twitter, frendster atau yahoo masenger.

Walaupun demikian masa depan koran, beberapa tahun mendatang tidak akan punah. Malahan perkembangan koran harian di Provinsi Jambi meningkat tajam, setidaknya ada lima belas koran harian yang eksis saat ini. Bahkan sampai ke kabupaten. Akibatnya persaingan koran harian semakin ketat untuk mendapatkan iklan dan pelanggan. Dampak yang dirasakan masyarakat Jambi harga koran menjadi murah meriah. Masyarakat diuntungkan.

Dampak lainnya, wartawanpun mulai dihargai oleh perusahaan. Di saat dia memiliki kemampuan jurnalistik yang bagus, tentunya perusahaan akan mempertahankannya, bisa saja dengan kenaikan gaji atau fasilitas lainnya. Wartawan punya pilihan untuk pindah ke media lain, dengan gaji atau fasilitas yang menjanjikan.

Persaingan untuk mendapatkan iklan/advetorial dan langanan di pemda-pemda berlangsung ketat. Harus kita akui berkibarnya koran-koran harian selama ini, pemasukan terbesarnya dari “kue iklan” pemda provinsi dan kabupaten. Berbagai trik dilakukan untuk mendapatkan kue iklan tersebut. Dari memecah usaha penerbitan yang satu grup hingga fee yang besar bagi si pemberi kue tersebut. Memang tiap tahun kue iklan yang dibelanjakan Humas Pemprov, Pemda kabupaten/kota mencapai miliaran rupiah.

Bagaimana nasib koran mingguan, memang terjepit dengan kehadiran koran-koran harian ini. Dari puluhan koran mingguan yang terbit di Provinsi Jambi, sampai saat ini yang eksis bisa dihitung dengan jari. Kehancuran koran mingguan ini banyak faktor, seperti lemahnya SDM, dana dan manajemen. koran mingguan dan koran harian berebut kue iklan dan langanan dari pemda-pemda. Hukum ekonomi berlaku oplah yang besar, terbit yang rutin sudah pasti tempat beriklan yang menjanjikan.

Kue iklan dan langanan yang diberikan pemda-pemda kepada koran mingguan, lebih banyak nilai persahabatan. Wajar saja, karena salah satu fungsi pemerintah adalah mengayomi semua masyarakat. Tidak memandang besar kecil, koran harian atau mingguan. Semua dapat jatah secara porposional.

Ibarat pepatah orang-orang Sisilia, Italia.. fari Vagnari a Pizzu…ketika paruh koran besar sudah penuh makanan, sepantasnya koran mingguan paruhnya juga dibasahi. Atau yang besar dapat besar dan yang kecil dapat kecil, yang penting koran mingguan ini rutin terbit, mingguan (sekali seminggu), dwi bulanan (dua kali sebulan) yang paling minim itu terbit sekali sebulan.

Gejala lain, setelah reformasi banyak orang-orang mencoba-coba masuk ke bisnis media dengan membuat koran mingguan. Semboyannya “Habis terbit kemudian tidak terbit lagi”. Sementara wartawannya terus berkeliaran dengan membawa kartu pers. Mereka menjelma wartawan CNN (cuma nanyo-nanyo bae), wartawan abadi (mangkal di Hotel Abadi), wartawan bandara (sering di bandara).

Tapi ada juga koran mingguan yang berubah menjadi media “Tempo” maksudnya “tempo-tempo hidup.. tempo tempo mati”. Terbitnya saat ulang tahun pemprov/ kota/ kabupaten. Tapi, orang-orang ini harus diberikan apresiasi positiv, masih punya semangat untuk terus mengeluti dunia jurnalistik, hanya saja kondisi dan situasi yang membuat mereka tidak bisa berkembang. Apakah koran dwi mingguan milik PWI akan mengalami nasib yang sama..?

Kondisi ini menjadi persoalan kita bersama, masyarakat, pemerintah dan organisasi profesi wartawan. Bagi PWI Cabang Jambi, tidak semua wartawan yang saat ini beroperasi di seluruh Provinsi Jambi anggota PWI dan tidak semua anggota PWI yang aktiv lagi sebagai jurnalistik. Kita tidak bisa menyalah mereka. Inilah buah reformasi pers, orang bebas mendirikan koran, tanpa izin, modal dan SDM yang memadai…(Ketua PWI Cabang Provinsi Jambi dan Pimred Koran PWI Pro Jambi)


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: