“ Et Tu, Brute”

18 07 2010

ilustrasi/ dok/ mbah google

Kaisar Roma, Julius Caesar menahan sakit pilunya pedang Marcus Junius Brutus menghujam ke tubuhnya, dengan terbata-bata dia berkata,

“ Et Tu, Brute?”
“Dan engkau juga Brutus?”

Awalnya Julius tidak yakin orang kepercayaannnya akan membunuhnya. Tapi, keraguan itu kemudian menghilang ketika dia mulai mengerang kesakitan dan merasakan semburan darah dari tubuhnya yang terluka, kemudian dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi dan tewas.

Kaisar terkuat Roma itu, harus tewas ditangan orang kepercayaannya, orang yang sudah dianggap keluarga, orang yang diangkat derajatnya, orang yang diberi kepercayaan dalam pemerintahannya.

Yang paling anyar, Gubernur Jambi Zulkifli Nurdin dalam beberapa bulan lagi, akan mengakhiri kekuasaannya selama 10 tahun. Orang-orang yang dulu di kancah birokrasi Pemda Provinsi Jambi tidak dikenal. Kini sudah kaya dan pejabat elite di Pemprov Jambi. Begitu juga para kontraktor yang dulu hidup Senin – Kamis, kini sudah jadi konglomerat.

Mereka ini mendampingi Zulkifli Nurdin selama sepuluh tahun terakhir ini. Mereka dipercaya, diberi kesempatan. Mereka bukan yang terbaik, hanya retak tangan atau jaringan politik atau jalur lainnya hingga namanya sampai ke kantong Gubernur untuk di promosikan.

Menjelang Zulkifli Nurdin akan mengakhiri masa jabatannya, orang-orang itu mulai menjadi Brutus, walau tidak sampai membunuh, tapi berkianat dalam bekerja, berkianat untuk mendapatkan posisi baru, mereka merapat ke calon gubernur Jambi yang baru. Dengan enaknya, mereka berkata ini itulah kekurangan Zulkifli Nurdin. Padahal mereka dalam system pemerintahan Zulkifli Nurdin selama ini.

Terlihat dari LKJP tahun 2009, Gubernur Zulkifli Nurdin jadi bulan-bulanan DPRD, seharusnya LKPJ terakhir bagi Bang Zul, harus tidak ada masalah dan happy ending. Sebenarnya itu bisa dilakukan, kalau jauh-jauh hari para SKPD melakukan “persahabatan” dengan DPRD. Persahabatan itu bisa bentuk lobby atau bentuk lainnya. Ironisnya, beberapa SKPD mengangap remeh DPRD.

Begitu banyak cerita Brutus di negeri ini dari zaman Ken Arok hingga zaman Soeharto. Seperti kisah Ken Arok yang membunuh Tunggul Ametung. Ken Arok sangat dipercaya Tunggul Ametung, karirnya meroket dari orang yang hina dina, akhirnya menjadi orang kepercayaannya. Bahkan menjadi pengawal Tunggul Ametung. Apa daya, akhirnya Ken Arok berkianat dengan membunuh Tunggul Ametung, Bahkan merebut istri Tunggul Ametung, Ken Dedes.

Begitu juga zaman Presiden Soeharto, sekitar 32 tahun Soeharto menjadi presiden, hanya orang-orang tertentu yang dipercaya, bisa menjadi menteri berkali-kali, pindah jabatan yang enak-enak, jadi pengusaha konglomerat dan lain sebagainya. Tapi apa daya, ketika Soeharto disuruh mundur oleh aksi-aksi unjuk rasa, tiba-tiba orang dekat Soeharto juga menohok dari belakang agar Soeharto cepat mundur. Terlepas Soeharto salah atau tidak, tetapi logikanya, orang-orang ini seharusnya jangan menyelamatkan diri, atau pura-pura jadi reformis atau pahlawan.

Begitu juga dalam organisasi sosial/ profesi, pertemanan. Para brutus ini bergentayangan. Mereka orang-orang yang sangat licik dan tidak punya kemampuan untuk tegak dengan kakinya. Awalnya pura-pura baik, perlahan-perlahan brutus memakan orang yang membantunya, orang membesarkannya, orang yang mengangkat derajatnya, orang yang menyelamatkan kehidupannya, orang yang mempercayainya.

Brutus ini memang cerdik dan licik, memiliki pembenaran sendiri terhadap yang dilakukannya. Seperti yang diucapkan Brutus kepada masyarakat Roma setelah Julius Caesar tewas, “Jika ditengah-tengah ini ada saudara, kerabat dan teman Caesar maka kepada kalian aku ingin mengatakan bahwa cintaku lebih besar dan tidak kurang dari cintanya. lalu kalau kalian menanyakan kenapa akau membunuh Caesar maka akau menjawab, ‘bukan karena tak cinta pada Caesar, tapi karena cinta pada Roma. apa kalian lebih suka Caesar hidup sedangkan semua kalian mati sebagai budak, atau Caesar mati hingga semua dapat hdup merdeka? Aku membunuhnya karena dia gila kekuasaan, ada air mata untuk cintanya, kegembiraan untuk nasib baiknya, dan kematian untuk kegilaannya pada kekuasaan.”

Tapi biasanya brutus ini juga mengalami nasib tragis, kalau tidak dibunuh pasti bunuh diri, kalau selamat dari yang dua itu hari tuanya penyakitan atau “mati segan, hidup tak mau”…..ya begitulah nasib Brutus….

Tapi setiap zaman lahir Brutus-Brutus baru, setiap pemerintahan ada Brutusnya, setiap organisasi apapun ada Brutusnya. Waspadalah…(MURSYID SONSANG)


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: