HBA Miliki Personal Branding

11 04 2010

hasan basri agus//dok/ pemda sarolangun

Saat itu saya sangat terkesima, bersua dengan  HBA ketika melayat isteri salah seorang wartawan di Kota Jambi meninggal dunia. Pada waktu itu HBA menjabat Sekda Kota Jambi. Tidak dalam posisi ingin mencalonkan diri jadi Walikota Jambi atau posisi saat ini mencalonkan diri menjadi Gubernur Jambi.

Apa yang dilakukan HBA itu, suatu bentuk  personal branding yang dinyatakan lewat orang lain. Orang-orang yang datang melayat  bergumam dalam hatinya “HBA sangat memperhatikan wartawan, isteri wartawan saja meninggal dia datang melayat”.

Dalam kurun 5 tahun terakhir, beberapa kali kami pengurus PWI Cabang Jambi bersilaturahmi dengan HBA. Tawaran silaturahmi dari PWI, tidak harus ditunggu berlama-lama, atau boleh dikatakan HBA menyisihkan waktu atau memprioritaskan pertemuan itu.

Pertemuan itu tidak disia-siakan HBA untuk menjelaskan program pembangunan yang sedang dirancang, dan pertanyaan yang sangat kritis sekalipun dijawab dengan gamblang.

Sebaliknya HBA juga merespon kesulitan yang dialami PWI, terutama masalah dana. Karena PWI Cabang Jambi, salah satu PWI cabang di Indonesia yang anggaran tidak ada di APBD. Sedangkan PWI Sumbar, Sumut, Riau dan daerah lainnya, Anggaran PWI dimasukkan ke APBD.

Program yang cukup menyejukkan bagi media diterapkan Pemda Sarolangun satu tahun terakhir. Harus jujur kita lihat, sepuluh tahun terakhir, Pemda Provinsi dan Kabupaten lainnya. Ada terkesan membesarkan media yang telah besar, serta mematikan media yang kecil.

Dalam pembagian kue iklan, media besar yang dimiliki satu group melibas habis kue tersebut. Media-media kecil tinggal gigit jari, yang pada akhirnya media itu mati suri atau jadi media “Tempo” ….tempo hidup…tempo mati. Dan wartawannya berkeliaran dimana-mana jadi wartawan CNN….Cuma Nanyo-Nanyo..bae.

Saat ini di Provinsi Jambi berbagai macam iklan-iklan bernuansa politik bertebaran di mana-mana. Apa yang dilakukan sang calon ini, sebuah strategi pencitraan. Temanya hampir seragam, tentang kerakyatan dan janji-janji untuk membangun daerah bila terpilih. Lalu muncul iklan politik pilkada yang menampilkan berbagai macam “perbuatan baik” dari tokoh-tokoh calon gubernur. Dari sekedar adegan menyumbang sesuatu, memeluk anak kecil, berjalan bersama rakyat di pedesaan sampai simbol-simbol menokohkan sang calon kepala daerah sebagai orang arif bijaksana.

Memang sang calon harus pandai menjual diri kepada masyarakat, selain pendekatan secara pribadi juga pendekatan dengan visi dan misi. Banyak calon dalam melakukan sosialisasi kelihatan dipaksakan atau sengaja dibuat-buat.

William Liddle yakin bahwa era politik sekarang adalah era politik ketokohan (2009). Panggung politik tidak lagi dimeriahkan oleh pertarungan ideologi atau aliran, seperti teori antropolog terkenal Clifford Geertz (1964), walaupun selama ini kita banyak yang terpasung dengan teori itu.

Pertarungan sekarang kata Liddle lebih banyak diwarnai oleh pencitraan dan jualan pesona para kandidat. Partai Demokrat ternyata telah memanfaatkan momentum yang tepat di era politik pencitraan ini, yaitu dengan menjual popularitas Susilo Bambang Yudhoyono. Dan SBY terpilih untuk kedua kali menjadi Presiden Indonesia.

Pencitraan itu memang harus direncanakan, bahkan para calon dari presiden, gubernur, bupati harus rela mengeluarkan uang milyaran rupiah untuk membangun pencitraan ini. Mulai dengan menyewa konsultan pencitraan hingga memasang iklan di mana-mana.

Sebuah mantra di dunia PR (Public Relation) yang didengung-dengungkan sejak dulu. Strategi PR hadir sebagai alat untuk membantu mendekatkan sebuah rencana menuju ke sebuah keberhasilan.

Jika iklan dihadirkan untuk menunjukkan sebuah produk atau seorang tokoh yang memuji-muji dirinya sendiri lewat jargon-jargon bombastis khas iklan, : Akulah yang terbaik, Saya yang memberikan Solusi, Saya pemimpin Anda, Pilihlah Saya, Saya siap membangun Jambi. Hal itu terdengar nonsens, omong kosong yang digelontorkan jargon iklan, seolah mencoba menggunakan strategi komunikasi KECAP Nomor Satu !!!
Maka PR melakukan hal yang berbeda. PR membentuk persepsi personal branding yang dinyatakan lewat orang lain. Syarat pertama yang harus dilalui adalah kita berusaha membuat seseorang tokoh dikenal bukan karena tampilan narsis pada iklan. Melainkan sebuah strategi pencitraan atas dasar komentar banyak orang atau sebuah kegiatan yang spektakuler yang membuat seorang tokoh mendadak menjadi terkenal di masyarakat.

Dilihat dari biayanya, strategi PR jauh lebih murah dibandingkan strategi iklan. PR dapat ditujukan secara fokus pada setiap segmen masyarakat. Bahasanya bisa berbeda-beda sesuai tingkat intelektualitas.
Dari uraian di atas, yang ingin saya katakan, apa yang dilakukan HBA memperhatikan wartawan lahir dan bathinnya, suatu bentuk pencitraan yang jauh-jauh hari telah dilakukannya –tidak menjelang Pilgub saja–.
Apa kata pepatah “tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta”. Kalau sudah ada cinta, pilihan terserah anda. (Mursyid Sonsang, Ketua PWI Cabang Provinsi Jambi, Pimpinan Redaksi http://www.Infojambi.com)


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: