Wanita “Pemberontak” dari Suku Anak Dalam

4 01 2009

ImageKini Umi Kalsum namanya, dulunya Ngimbai usianya merangkak 70 tahun, dari wajah dan pakaiannya tidak menyangka dia Suku Anak Dalam, yang selama ini kita kenal berpakaian primitif. Tinggal di hutan belantara Taman Nasional Bukit dua belas.

Umi Kalsum merupakan generasi pertama dari Suku Anak Dalam yang memutuskan hidup di luar hutan serta menerima kebudayaan luar. Menurut Umi Kalsum dua belas tahun yang lalu, dia beserta suami dan anak-anaknya memutuskan keluar dari hutan, walau pada saat itu tantangan dari kelompoknya sangat kuat, apalagi suaminya seorang Tumenggung.” Umi Kalsum, generasi pertama yang keluar dari habitatnya, serta bersosialisasi dengan masyarakat desa sekitar,” ujar Budi, dari LSM Kopsad.

Awalnya memang sangat susah untuk merubah kebiasaan, tapi setelah memeluk agama Islam, perlahan tapi pasti, dia mulailah hidup seperti orang luar, tinggal di rumah, berpakaian –malahan saat ini pakai jilbab— dan memakan makanan yang halal dari memasak hingga jenis makanannya.

Dulunya dalam hutan, dia adalah seorang biduan, kalau ada upacara kematian perkawinan dan upacara adat lainnya. Umi Kalsum sebagai penari dan penyanyinya. Upacara-upacara ini sangat rahasia dan tertutup bagi orang luar. Sampai sekarang tradisi itu masih dipegang erat-erat Suku Anak Dalam yang masih tinggal dalam hutan.

Ketika Umi Kalsum tidak lagi hidup di dalam hutan, kegatalan tangan dan kakinya untuk menari tidak pernah punah. Ketika kami menyambanginya beberapa waktu lalu, Umi Kalsum sangat bersemangat untuk mempertontonkan gerakan tarian suku Anak Dalam yang sangat dikuasainya, seperti Tari Elang, Tari Tao dan Tari Layang.

Di sebuah balai-balai yang berada di pinggir taman Nasional Bukit Dua Belas, Desa Sungai keruh, Kabupaten Sarolangun Umi kalsum mengumpulkan anak-anak dari kelompoknya untuk mengajarkan tarian dan nyanyian. Di sekitar itu ada 5 rumah, satu balai pertemuan dan sebuah mushalla. yang bermukim  di sana anak/ kerabat Umi kalsum, semua telah memeluk agama islam..

Dengan tubuh yang kurus dibalut pakaian muslin, Umi kalsum menari dengan ekspresi yang sangat dalam, letik tangan dan gerakan kaki yang licah  membuat tarian yang dibawakannya, sangat khusuk dan mistis. Suasana semakin mencekam dan hening ketika lengkingan suara Umi kalsum melantunkan nyanyian dengan bahasa Suku Anak Dalam.

Anak-anak perempuan dan laki-laki yang diajarnya sangat serius mengikuti gerakan tangan serta kaki Umi kalsum. Sesekali, Umi kalsum mengulangi gerakannya, ketika anak-anak kepayahan untuk mencontohnya.

Kenapa Umi Kalsum begitu gigih mengajarkan tarian dan nyanyian Suku Anak Dalam kepada anak-anak yang berada di kelompoknya. Salah satu alasannya kelompoknya telah berbaur dengan dunia luar. Begitu banyak benturan budaya dan kebiasaan. Umi Kalsum tidak mau anak cucunya kehilangan identitas sebagai Suku Anak Dalam, yang juga memiliki tarian dan nyanyian.

Pasalnya anak-anak suku Anak Dalam yang hidup di luar, sudah menikmati tontotan televisi, memiliki hanphone, bersekolah dan memeluk agama. “Boleh yang lain berubah tapi jangan tinggalkan tarian dan nyanyian, hanya itulah yang kita miliki,” ucapnya.

Saat ini Suku Anak Dalam yang hidup di luar, tidak ada lagi yang bisa menari dan bernyanyi, mereka sudah tergilas dengan budaya luar. Umi kalsum, di usia senjanya  masih berharap, kepandaiaanya menari dan bernyanyi bisa ditularkan kepada anak cucunya.

Prinsipnya, tarian dan nyanyian merupakan sebuah ekspresi jiwa, yang seharusnya bisa ditonton dan dinikmati banyak orang. Maka ada kewajibannya untuk melestarikan dan menularkannya kepada generasi berikutnya. Sebagai sebuah karya seni yang universal.

Di usia uzurnya, Umi Kalsuim tetap mengawal tradisi leluhurnya itu. (Mursyid Sonsang)


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: