Adi Warsono : ALN Akan Serap Ribuan Tenaga Kerja Lokal

17 05 2011

Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda, kata-kata bijak itulah yang mendorong Adi Warsono bekerja keras untuk menyukseskan proyek HTI karet yang pertama di Provinsi Jambi ini dengan luas lahan 10.785 hektar di Kabupaten Sarolangun.

Keyakinan Adi itu cukup beralasan, untuk mengelola HTI karet dibawah bendera PT. Alam Lestari Nusantara yang merupakan konsorsium dari beberapa perusahaan perkebunan milik negara yang terkemuka di Indonesia dengan investasi awal sekitar Rp 350 miliar serta memiliki tujuan dan konsep yang sangat jelas.

” Proyek HTI karet pernah dilaksanakan di Sulawesi dan Kalimantan, namun mengalami kegagalan. Salah satu penyebabnya masalah pendanaan dan konsep yang dilaksanakan,” jelas Adi yang dipercaya menjadi Direktur Utama PT. Alam Lestari Nusantara itu.

Konsep yang diterapkan ALN, pengelolaan HTI yang berbasiskan pola pembangunan perkebunan. Fokus utama adalah membangun kebun karet, kalau di lahan itu ada kayunya hanyalah sebagai bonus. Pihak konsorsium sudah mewanti-wanti, jangan kayu ditebang, karetnya tidak ditanam.

Untuk membuktikan itu, tambah Adi akhir bulan Juni mendatang, akan dilakukan penanaman karet perdana oleh Menteri Pertanian dan Menteri BUMN serta Gubernur Jambi. Seiring dengan itu akan ditanam sejuta karet di lahan seluas 1500 hektar.

” Semua persiapan sesuai dengan rencana, lahan sudah siap di tanami, perkantoan sedang dibangun, bibit karet siap untuk ditanam, mudahan berjalan sesuai dengan rencana.” paparnya. Walau kesibukan sangat padat lelaki ini masih meluangkan waktunya untuk berolahraga tenis dan bridge

Dengan jabatan sebagai Direktur Utama, kesuksesan program ini sangat tergantung dari kepiawaiannya mengelola perusahaan ini agar konsep HTI untuk perkebunan karet tetap terkawal hingga akhir. Rencana kerja jangka panjang hadirnya sebuah kebun karet dan pabrik karet yang mendatangkan kemakmuran bagi masyarakat sekitar menjadi kenyataan.

” Rencananya kerja harus tepat waktu, kita targetkan tahun 2011 penanaman perdana dan tahun 2016 semua lahan sudah ditanam. Tahun 2017 sudah bisa panen dan pabrik karet harus kita bangun. Kita perkirakan ribuan tenaga kerja akan terserap mulai dari land clearing, penanaman, pemeliharaan serta penyadapan,” kata pria kelahiran, Lumajang 22 Februari 1959 ini.

Setelah karet berumur 25 tahun dan produksinya menurun, kayu-kayunya akan dimanfaatkan untuk industri perkayuan, seperti bahan baku plywood dan kebutuhan kayu lainnya. Kalau HTI lainnya, hanya kayunya yang bisa di manfaatkan. Yang tidak kalah pentingnya, tanaman karet sangat ramah lingkungan.

” HTI karet ini memiliki multiplayer effects nya sangat besar, dari sisi lingkungan hingga nilai ekonomisnya. Itulah yang membedakannya dengan HTI tanaman sengon, akasia dan lainnya,” jelas mantan Manejer PT. Wahana Tani Lestari ini.

Adi mengakui tantangan sangat banyak mewujudkan HTI karet ini, salah satunya masalah lahan dan pemanfaatan kayu. Mengatasi masalah tersebut perlunya keterbukaan dan komunikasi dengan berbagai pihak. Sebagai contoh, adanya klaim warga yang memiliki lahan di lokasi, secara hukum warga sudah melanggar karena membuka lahan di tanah negara tanpa izin.

“Warga kita ajak duduk bersama, bahwa mereka membuka ladang kita akui, walau sebelum ALN mendapat izin di daerah itu. Jalan tengahnya, warga yang telah membuka lahan diberi ganti rugi berupa upah menebas dan ganti tanamannya. Hingga saat ini sekitar 90 hektar sudah diganti dengan uang sekitar Rp 1 hingga Rp 2 Juta/ hektarnya,” ujar suami Yuni Sarvita Sari ini.

Berdasarkan izin yang dikeluarkan oleh Menteri Kehutanan Repuplik Indoensia tanggal 24 Februari 2010, Sk.95/Menhut-II/2010 diberikan hak kepada ALN untuk mengelola selama 60 tahun lahan seluas 10.785 hektar bekas HPH Inhutani V. ” Kami memiliki izin lengkap, jadi tidak benar, ada suara-sauara yang mengatakan lahan kami tumpang tindih dengan lahan warga,” ungkapnya.

Dari luas 10.785 hektar itu, tidak semuanya untuk HTI karet, khusus yang berbatasan dengan hutan restorasi yang dikelola PT. Reki, kawasan hutan tersebut dijadikan hutan konservasi sebagai tempat perkembang biakan flora dan fauna, luasnya mencapai 1.079 hektar. Selain itu juga ada kawasan untuk tanaman kehidupan seluas 539 hektar, tanaman unggulan seluas 1079 hektar.

” Khusus untuk lahan kehidupan, akan diberikan kepada masyarakat sekitar untuk mengelola, terserah mereka apa yang mau ditanam. Tapi warga berharap juga dapat ditanam karet,” jelas bapak tiga anak ini.

Juga yang sering disorot segelintir orang tentang pemanfaatan kayu, tambah Adi, dari luas lahan sekitar 10 ribu hektar lebih itu, memang potensi kayu alam masih ada, walau lahan ini bekas lahan HPH Inhutani V. ” Kayu-kayu memang ada, tapi yang diameter 30 cm ke bawah yang banyak sedangkan diameter 50 cm ke atas sangat jarang,” ujarnya. Sebagian besar kayunya jenis campuran, kalau meranti sangat jarang.

Untuk memanfaatkan kayu-kayu ini, ALN mengantongi beberapa izin dari pemerintah, mulai dari menteri kehutanan, gubernur dan Pemda Sarolangun. Misalnya penebangan kayu dengan izin IUPHHK-HTI, izin TPK (Tempat Penumpukan Kayu), izin RKT (Rencana Kerja Tahunan) serta izin pemakaian jalan. ” Semua pihak boleh mengeceknya ke lapangan dan surat-surat izin yang kami miliki, jadi tidak benar kami melakukan penebangan liar,” terangnya.

Setelah hampir satu tahun beroperasi, semua persoalan yang muncul terutama masalah lahan dan pemanfaatan kayu, perlahan mulai sirna dan masyarakat berharap banyak, agar HTI ini bisa terwujud dan menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar. ” Mudahan kami bisa menjadi karyawan PT. ALN, apalagi nantinya akan dibangun pabrik karet,” ujar Kardi, warga Desa Pamusiran. (Mursyid Sonsang)

About these ads

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: