Siapa Bilang Pengemis Itu Miskin ?

4 01 2009

ImageSiapa bilang pengemis itu miskin,  dari ratusan pengemis di Kota Jambi ada seorang  pengemis yang cukup fenomenal, dari pendapatan dan kekayaannya.  Pendapatannya rata-rata Rp 2 juta/ bulan, kekayaannya lumayan mantap memiliki dua buah bedeng kontrakan serta dalam beroperasi dilengkapi kursi roda dan sebuah handphone keluaran terbaru.

Siapa pria itu, namanya Lasmi, umurnya 55 tahun, pekerjaan mengemis sudah dilakoninya sejak usia muda. Tapi alasan Lasmi jadi mengemis masuk akal juga, sejak dari lahir kakinya cacat.” Kondisi fisik saya seperti ini, ya terpaksalah mengemis. Sebenarnya saya juga malu,’’ katanya.

Tetapi dengan mengemis tersebut, Lasmi mengaku dapat menyekolahkan anak-anaknya hingga ke tinggkat Sekolah Menengah Atas (SMA), bahkan salah satu anaknya kini berada di Jakarta.‘’Tapi cukup saya sajalah yang bekerja seperti ini, jangan sampai anak-anak saya ikut-ikutan,’’ ujarnya lagi.

Namun siapa sangka penghasilan bapak yang biasa duduk di Mesjid Raya dan Pasar Anggso Duo ini, perharinya mencapai Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu. Bahkan jika Idul Fitri dan Idul Adha penghasilanya bisa mencapai 5-7 Ratus ribu perharinya. Jika dikali-kalikan perbulannya dia bisa mengantongi sedikitnya 2 -3 juta rupiah, mengalahkan gaji PNS golongan III .

Infojambi.com makin terkejut, ketika Lasmi yang mengemis sejak tahun 1973 tersebut, mengaku dengan uang hasil keringatnya sehari-hari ini bisa mendirikan kontrakan dua pintu yang menjadi tambahan penghasilanya perbulan.

Sepertinya benar apa yang dikatakan Bahren Nurdin, Mahasiswa Jambi yang kini melanjutkan studi S2 nya di Negeri Malaysia. Dia mengatakan saat ini pengemis bukan lagi menjadi salah satu ukuran majunya suatu Negara, karena bukan hanya di Indonesia yang banyak pengemis, tetapi Malaysiapun juga ada pengemis. Dan kisah ini mungkin bisa memperkuat pendapatnya tersebut.

(Mursyid Sonsang dan Anton)





Memasang Label di Rumah Orang Miskin, Jalan Keluarkah ?

4 01 2009

Image Ini suatu ide yang cukup mantap dari wakil Bupati Bungo, Sudirman Zaini dengan wacana untuk memasang label di rumah-rumah orang miskin. Karena ada kecendrungan orang-orang yang dinilai mampu, mengaku-ngaku jadi orang miskin untuk mendapatkan bantuan dari pemerintah seperti BLT, berobat gratis, sekolah gratis dan Dana-dana lainnya.

Menurut Sudirman Zaini, dari pengamatannya hal ini tidak saja terjadi di Bungo saja, juga terjadi di banyak daerah di Indonesia. Soalnya bantuan-bantuan untuk orang miskin banyak juga dinikmati oleh orang-orang kaya-kaya. Ini terjadi dari pendataan awal, seperti di RT-RT/ Dusun-Dusun, sang kepala RT atau dusun, sengaja memasukkan keluarganya yang mampu, mereka tahu akan ada bantuan  dari pemerintah.

Wabup Bungo ini mensinyalir, saat ini sudah banyak orang yang tidak mempedulikan orang lain, karena mereka sudah kehilangan rasa kesetiakawan, rasa peduli dengan orang lain. Bahkan lebih parah lagi, kejujuran sudah luntur terhadap dirinya.

Sudirman Zaini mengatakan hal itu saat memperingati tahun baru Islam 1430 Hijriyah sekaligus memasuki tahun baru 2009 M bersama masyarakat muslim Tionghoa yang tergabung dalam wadah organisasi PITI (Persatuan Islam Tioghoa Indonesia) Kabupaten Bungo, di rumah Ketua PITI Bungo Sunarto alias Ahong di Sungai Pinang, Muaro Bungo, Minggu (4/1) sore.

Untuk itu, jelas Wabup ada wacana memasang label di rumah orang miskin, kalau orang kaya mengaku miskin, nanti di rumahnya akan terpasang label orang miskin.” Ini salah satu upaya  membuat rasa malu, tapi program ini perlu di perbincangan lebih serius lagi,” ujarnya.

Pada kesempatan Ketua PITI Kabupaten Bungo H. Ahong melaporkan keluarga anggota PITI di Bungo 65 kepala keluarga dengan 215 orang jiwa.” Ahong minta pemuka agama Islam aktif memberi bimbingan kepada keluarga mualaf serta ada rasa solidaritas terhadap sesama muslim,” ujarnya  (Mursyid Sonsang)





Jus Terung Virus, Baik Untuk Stamina dan Tambah Darah

4 01 2009

Image – Bila anda berkunjung ke Kerinci, Jambi, rasanya belum lengkap sebelum mencicipi Jus Terung Virus. Selain penghilang dahaga, jus ini juga cocok untuk para pekerja berat yang sering lembur malam karena berkhasiat obat stamina dan penambah darah.Sesuai dengan namanya, Terung Virus, bentuk terung ini bulat mengkerucut berwarna ungu kemerah-merahan. Warga Kerinci juga menyebutnya Terung Belanda. Terung Virus ini hanya tumbuh di daerah pegunungan berudara dingin seperti Kerinci.

Untuk membuat segelas Jus Terung Virus segar, cukup dibutuhkan lima buah terung Virus, terlebih dahulu dikupas kulitnya lalu diblender. Untuk menambah aroma ditambahkan sedikit sirup, susu kental manis dan es.

Untuk sekedar mencicipi, cukup mendatangi kedai Minang Soto, di Kota Sungai Penuh, Kerinci, Jambi. Dijamin stamina yang sudah jauh menurun setelah berwisata akan pulih kembali. Bagi yang memesan Jus Terung Virus ini tidak perlu khawatir merogoh kocek dalam-dalam karena harga satu gelas Jus ini tidak terlalu mahal. (Mursyid Sonsang)





Wanita “Pemberontak” dari Suku Anak Dalam

4 01 2009

ImageKini Umi Kalsum namanya, dulunya Ngimbai usianya merangkak 70 tahun, dari wajah dan pakaiannya tidak menyangka dia Suku Anak Dalam, yang selama ini kita kenal berpakaian primitif. Tinggal di hutan belantara Taman Nasional Bukit dua belas.

Umi Kalsum merupakan generasi pertama dari Suku Anak Dalam yang memutuskan hidup di luar hutan serta menerima kebudayaan luar. Menurut Umi Kalsum dua belas tahun yang lalu, dia beserta suami dan anak-anaknya memutuskan keluar dari hutan, walau pada saat itu tantangan dari kelompoknya sangat kuat, apalagi suaminya seorang Tumenggung.” Umi Kalsum, generasi pertama yang keluar dari habitatnya, serta bersosialisasi dengan masyarakat desa sekitar,” ujar Budi, dari LSM Kopsad.

Awalnya memang sangat susah untuk merubah kebiasaan, tapi setelah memeluk agama Islam, perlahan tapi pasti, dia mulailah hidup seperti orang luar, tinggal di rumah, berpakaian –malahan saat ini pakai jilbab— dan memakan makanan yang halal dari memasak hingga jenis makanannya.

Dulunya dalam hutan, dia adalah seorang biduan, kalau ada upacara kematian perkawinan dan upacara adat lainnya. Umi Kalsum sebagai penari dan penyanyinya. Upacara-upacara ini sangat rahasia dan tertutup bagi orang luar. Sampai sekarang tradisi itu masih dipegang erat-erat Suku Anak Dalam yang masih tinggal dalam hutan.

Ketika Umi Kalsum tidak lagi hidup di dalam hutan, kegatalan tangan dan kakinya untuk menari tidak pernah punah. Ketika kami menyambanginya beberapa waktu lalu, Umi Kalsum sangat bersemangat untuk mempertontonkan gerakan tarian suku Anak Dalam yang sangat dikuasainya, seperti Tari Elang, Tari Tao dan Tari Layang.

Di sebuah balai-balai yang berada di pinggir taman Nasional Bukit Dua Belas, Desa Sungai keruh, Kabupaten Sarolangun Umi kalsum mengumpulkan anak-anak dari kelompoknya untuk mengajarkan tarian dan nyanyian. Di sekitar itu ada 5 rumah, satu balai pertemuan dan sebuah mushalla. yang bermukim  di sana anak/ kerabat Umi kalsum, semua telah memeluk agama islam..

Dengan tubuh yang kurus dibalut pakaian muslin, Umi kalsum menari dengan ekspresi yang sangat dalam, letik tangan dan gerakan kaki yang licah  membuat tarian yang dibawakannya, sangat khusuk dan mistis. Suasana semakin mencekam dan hening ketika lengkingan suara Umi kalsum melantunkan nyanyian dengan bahasa Suku Anak Dalam.

Anak-anak perempuan dan laki-laki yang diajarnya sangat serius mengikuti gerakan tangan serta kaki Umi kalsum. Sesekali, Umi kalsum mengulangi gerakannya, ketika anak-anak kepayahan untuk mencontohnya.

Kenapa Umi Kalsum begitu gigih mengajarkan tarian dan nyanyian Suku Anak Dalam kepada anak-anak yang berada di kelompoknya. Salah satu alasannya kelompoknya telah berbaur dengan dunia luar. Begitu banyak benturan budaya dan kebiasaan. Umi Kalsum tidak mau anak cucunya kehilangan identitas sebagai Suku Anak Dalam, yang juga memiliki tarian dan nyanyian.

Pasalnya anak-anak suku Anak Dalam yang hidup di luar, sudah menikmati tontotan televisi, memiliki hanphone, bersekolah dan memeluk agama. “Boleh yang lain berubah tapi jangan tinggalkan tarian dan nyanyian, hanya itulah yang kita miliki,” ucapnya.

Saat ini Suku Anak Dalam yang hidup di luar, tidak ada lagi yang bisa menari dan bernyanyi, mereka sudah tergilas dengan budaya luar. Umi kalsum, di usia senjanya  masih berharap, kepandaiaanya menari dan bernyanyi bisa ditularkan kepada anak cucunya.

Prinsipnya, tarian dan nyanyian merupakan sebuah ekspresi jiwa, yang seharusnya bisa ditonton dan dinikmati banyak orang. Maka ada kewajibannya untuk melestarikan dan menularkannya kepada generasi berikutnya. Sebagai sebuah karya seni yang universal.

Di usia uzurnya, Umi Kalsuim tetap mengawal tradisi leluhurnya itu. (Mursyid Sonsang)





Danau Gunung Tujuh, Ikon Visit Jambi Year 2010 ?

8 12 2008

Image

KERINCI- Berkunjung ke Kabupaten Kerinci, Propinsi Jambi belum sempurna, sebelum mengunjungi Danau Gunung Tujuh. Danau yang dikelilingi tujuh punjak gunung ini merupakan Danau Tertinggi di Asia Tenggara, dengan pemandangan yang alami dan berhawa dingin.

Tidaklah berlebihan jika Kabupaten Kerinci terkenal dengan sebutan “Sekepal Tanah Surga yang Tercampak ke Bumi”. Karena daerah paling barat dari Propinsi Jambi ini terdapat puluhan objek wisata alam yang sangat eksotik dan menakjubkan.

Salah satunya adalah Danau Gunung Tujuh dengan ketinggian sekitar 2000 meter di atas permukaan laut. Danau ini merupakan danau kaldera yang menyerupai huruf L dengan luas sekitar 1000 hektar.

Disebut Danau Gunung Tujuh, karena di kelilingi tujuh puncak gunung dengan punjak tertinggi 2800 meter, sedangkan tinggi gunung yang lain berkisar 2000 hingga 2500 meter. Air danau tersebut sangat dingin dan bening, di dalam hidup ikan kecil yang rasanya sangat enak.

Untuk mencapai danau ini bisa melalui Kota Padang, dengan mengunakan kendaraan roda empat memakan waktu 5 jam, sedangkan dari Kota Jambi memakan waktu 10 jam. Kendaraan hanya sampai di Desa Pelompek. Perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki menuju danau tersebut.

Sambil mendaki dengan kemiringan rata-rata 50 derajat bisa menikmati ratusan pohon yang masih terjaga dengan baik, ratusan burung berkicau hinggap dari pohon yang satu ke pohon yang lain. Mata akan terbelalak melihat pohon-pohon yang  besar.

Setelah berjalan selama 4 jam, posisi berada di salah satu puncak gunung yang mengelilingi danau tersebut. untuk sampai di bibir danau, harus berjalan sekitar 30 menit dengan kondisi jalan menurun. Keletihan saat mendaki selama 4 jam mulai berkurang, apalagi saat-saat mencapai pinggir danau. Kita disambut hawa yang sangat dingin, dengan hamparan danau yang sangat menakjubkan.

Keindahan pemandangan di sekitar danau semakin membelalakkan mata, ketika matahari terbit, seakan-akan muncul dari balik gunung. Perlahan-lahan sinar matahari pagi menusuk air danau yang sangat dingin dan jernih. Suatu pemandangan alam yang membuat kita akan kembali ke sana lagi.

Lokasi Danau Gunung Tujuh berada di dalam Kawasan Hutan Taman Nasional Kerinci Seblat, untuk memasuki daerah ini harus melaporkan ke pada petugas TNKS. Karena selain untuk mendata para pengunjung juga untuk mengetahui peraturan di dalam kawasan, agar jangan merusak atau mengambil flora atau fauna yang ada di dalamnya.

Keindahan Danau Gunung Tujuh sangat mempesona, bisa menjadi ikon Visit Jambi Year 2010. Tentunya perlu promosi, salah satunya melalui media massa. Pihak Parsenibud tidak boleh berpangku tangan. (Mursyid Sonsang)





HOTEL, RUKO VS RUMAH PANGGUNG

28 10 2008

KOTA JAMBI- Lima tahun terakhir, beberapa kota dalam Propinsi Jambi berlomba-lomba jadi kota ruko. Lihat saja Kota Jambi ratusan ruko berdiri, beberapa mall dibangun,. hotel berbintang berdiri megah serta bangunan lainnya. Persoalannya adalah kearifan para pembuat kebijaksanaan Pemda Kota Jambi dan masyarakat untuk sedikit berpihak kepada lingkungan. Jawabannya, ruko-ruko, hotel dan mall yang dibangun secara sporadis dan sedikit sekali memperhatikan keseimbangkan lingkungan.

Lurah dan lembah ditimbun di berbagai sudut kawasan kota untuk di jadikan ruko. Daerah-daerah yang dulu genangan air berubah menjadi komplek perhotelan. Beberapa daerah di pinggir Sungai Batanghari berubah menjadi pusat perbelanjaan.

Menurut pengamat lingkungan, pola penimbunan itu hanyalah memindahkan banjir ke tetangga sebelah. Orang-orang kaya mengazab orang miskin. Kalau banjir terjadi, yang dulu terendam perumahan di sebelahnya. Pendapat ini bukan anti pembangunan, tapi membangun yang arif dengan lingkugan sekitar.

Pemda Kotalah yang memegang kendalinya, karena setiap membangun harus ada berbagai izin.. Tapi kenyataannya, izin itu hanya di atas kertas. Pernah seorang pejabat yang mengurus lingkungan mengeluh, dalam pembangunan Komplek Hotel Abadi Suite, lebih dulu keluar izin mendirikan bangunan dari pada izin HO- nya. Walau pada akhirnya semua izin keluar.

Sekarang di sekitar itu sudah berdiri megah, Hotel Suite Abadi dengan puluhan lantai, arena bermain air, ACC dan lahan parkir yang sangat luas. Semua itu dengan menimbun daerah genangan air, yang sudah ada bertahun-tahun yang lalu. Dampaknya, akan bisa kita lihat kalau banjir besar terjadi. Komplek Hotel Abadinya yang kebanjiran atau daerah sekelilingnya.

Padahal nenek moyang masyarakat Jambi punya kearifan tentang balam, banyak peninggalan mereka yang sampai saat ini patut dicontoh terutama oleh pemerintah dan masyarakatnya Salah satunya bangunan rumah panggang.

Alasan yang paling logis diciptakannya rumah panggung ini, “Alam takambang jadi guru” atau berguru dengan alam sekitar. Pada zaman dahulu sebagian besar penduduk Jambi memilih tinggal di pinggir sungai. Sebagai jalur transportasi, ekonomi dan sumber kehidupan, tapi juga sungai bisa membuat malapetaka. Di kala musim hujan, sungai-sungai yang ada meluap. Daerah yang paling duluan terendam sekitar pinggir sungai.

Tapi nenek moyang dahulu tidak kehilangan akal sehatnya, agar rumah mereka tidak terendam di kala banjir, mereka menciptakan rumah panggung. Tinggi tiang dari tanah, sudah diperhitungkan batas ketinggian air kalau banjir terjadi.

Kolong dibawah rumahpun sangat banyak fungsinya, untuk menyimpan perahu, tempat anak-anak bermain dan sebagainya. Tidak kalah pentingnya berjaga-jaga dari ancaman binatang busa.

Salah satu kearifan itu, masih dimiliki warga Desa Baruh, Kecamatan Tabir, Kabupaten Merangin. Sampai saat ini warga desa yang berjarak sekitar 275 km dari Kota Jambi dan 20 Km dari Kota bangko itu masih mempertahankan tradisi rumah panggung.

Desa yang berada tidak jauh dari Jalan Lintas Tengah Sumatera itu tanpak sangat bersahaja, deretan rumah panggung tersusun rapi, perkampungan sepi di siang hari yang terlihat beberapa anak-anak sedang bermain dibawah kolong rumah. Orang tua mereka pergi ke sawah dan ladang. Sore hari mereka pulang bersamaan, di punggung perempuan menyandang ambung yang sangat khas, seperti ransel terbuat dari ancaman rotan.

Bentuk rumah panggung di Desa Baruh itu persis sama yang satu dengan yang lainnya. Saat ini ada 150 buah rumah yang masih kokoh dan sebagai tempat tinggal. Dari 150 buah rumah panggung itu, ada satu rumah yang sudah berumur 600 tahun lebih. Warga menamakannya rumah duo.

Rumah tuo ini berdiri di atas 16 tiang peyangga segi delapan, dengan tinggi 2,5 meter dan luas 12 kali 18 meter persegi. Uniknya, sambungan antara tiang dengan tiang lain tidak memakai paku, tapi dengan sistim pasak. Keuntungan pasak ini, meredam getaran gempa. “Beberapa tahun terakhir sering gempa, insyaalah tidak satupun rumah disini yang retak, apalagi roboh,” ujar Iskandar.

Menurut Iskandar, salah seorang penghuni rumah tuo itu, pondasi rumah tuo dirancang mampu meredam getaran gempa, setiap tiang rumah diberi bantalan kayu , sebagai peyangga kalau terjadi pergeseran akibat gempa bumi.

Rumah tuo ini masih terawat dengan baik, karena didiami secara turun temurun serta mereka rawat dengan baik. Pewarisnya adalah anak perempuan, seperti yang berlaku dalam adat Minangkabau. Sampai saat ini sudah 13 keterunan yang mendiami rumah ini, dari keturunan pertama Undop Pinang Masak dan keturunan terakhir Siti Rahma. (Mursyid Sonsang)





KETIKA HARGA SAWIT DAN KARET TERJUN BEBAS

28 10 2008

Puluhan Petani Ganguan Jiwa

ImageKOTA JAMBI - Bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda tahun 2008 ini, www.infojambi.com menurunkan laporan masihkah repuplik ini satu tumpah darah, satu tanah air dan satu bahasa. Kalaulah slogan itu dimaknai. Kita baru sebatas satu tumpah darah saja dalam kata-kata, secara hakekat tidak ada lagi rasa senasib sepenanggungan, rasa kepedulian sudah hilang. Terutama Pemerintahnya, tidak lagi punya sense of crisis. Khusus, bagi masyarakat Jambi, krisis turunnya harga sawit dan karet. Sampai hari ini, belum ada langkah kongret yang dilakukan pemerintah daerah, terutama Dinas Pekebunan Propinsi Jambi. Ironisnya puluhan petani sawit menjadi stres dan ganguan jiwa…berikut laporannya.

Kalau Anda melewati Propinsi Jambi, sepuas mata memandang terlihat hamparan kebun kelapa sawit yang di selingi kebun karet. Pemiliknya sebagian besar adalah perusahaan besar PMDN dan PMA, dan sisanya milik pribadi masyarakat.

Menurut Kepala Dinas perkebunan Propinsi Jambi, Ali Lubis, total luas Kebun Kelapa Sawit di Propinsi Jambi sekitar 361 ribu hektar, 51 persen di antaranya milik petani plasma. Sedangkan milik swadaya masyarakat mencapai 87 ribu hektar. Sementara luas perkebunan karet mencapai 633 ribu hektar, sebagian besar milik pribadi masyarakat dan hanya 1000 haktar milik perusahaan.

Dengan anjloknya harga TBS kelapa sawit dan karet ini, yang paling terpukul adalah para buruh di perusahaan perkebunan kelapa sawit,  masyarakat kecil yang punya kebun satu hingga dua hektar, para petani plasma Kehidupan mereka sangat tergantung dari harga jual sawit.

Harus diakui, dalam sejarah persawitan di Propinsi Jambi, dalam dua bulan terakhirlah harga TBS  dan karet terjun bebas atau massa suram. Akibat krisis global dunia, terutama krisis keuangan Amerika. Harga sawit sampai akhir oktober 2008 ini, berkisar Rp 300 hingga Rp 800/kg, harga tersebut belum dipotong ongkos angkut dan upah dodos serta beli pupuk.” Kalau dihitung-hitung, bersih itu hanya Rp 80/ kg,” ujar Fauzi, pemilik kebun sawit di Bangko.

Lebih parah lagi, ratusan buruh kebun sawit dan Pabrik Kelapa Sawit, sudah ratusan yang tidak bekerja lagi, terutama buruh harian. “ Saya sudah berhenti bekerja, pabrik tidak lagi beroperasi,” ujar Udin, buruh lepas pabrik kelapa sawit PT. SAL di Bungo.

Sebelum dua bulan terakhir, selama bertahun-tahun lamanya para petani sawit/ buruh sawit dan petani karet, sangat menikmati indah dan nikmatnya jadi petani sawit dan karet,  Misalnya, harga kelapa sawit  TBS masih berkisar Rp 1000 hingga Rp 2000/ kg, sedangkan karet berkisar Rp 9000 hingga Rp 12.000/kg. Tergantung umur sawit dan kualitas karetnya.

Stabilnya harga sawit tahun-tahun lalu, membuat para petani atau pemilik kebun kelapa sawit, hidup sangat konsumtif. Penawaran kredit dari utang ke bank, kredit  mobil hingga perabot rumah tangga, mereka terima. Dalam hitungan mereka, harga sawit dan karet tidak akan turun. Tapi apa daya dua bulan terakhir harganya terjun bebas. “ Sebagian besar mereka utang ke bank, kredit mobil, dalam beberapa bulan mulai tidak terbayar. Akibatnya banyak yang masuk rumah sakit jiwa,” ujar H. Idris, petani sawit di Tempino, Kabupaten Muaro Jambi.

Hal itu dibenarkan Kepala Rumah Sakit Jiwa Jambi dr. Chairy Suryadi Indra, dalam dua bulan terakhir ada kenaikan pasien yang datang berobat, umumnya stres dan tidak bisa tidur, gara-gara harga sawit turun. Akibatnya kredit tidak terbayar, ”Rata-rata tiap hari yang berobat gangguan jiwa enam sampai delapan orang,’ ujarnya.

Dari data Rumah Sakit Jiwa, dalam empat hari terakhir yang berobat pada hari Sabtu 8 orang, Minggu 8 orang, Senin 6 orang, ”Umumnya para petani kelapa sawit, mereka berobat jalan,” tambahnya……..bersambung. (Mursyid Sonsang)





Teh Hitam Kajoe Aro, Mencengah Osteoporosis

24 09 2008

Mungkin juga salah satu alasan Belanda ingin menjajah Indonesia, karena daerah yang terbentang di garis khatulistiwa ini memiliki tanah yang cocok untuk ditanami teh. Memang ada negara lain yang cocok iklimnya untuk tanaman teh, tapi Belanda kalau pamor dengan Inggris yang terlebih dahulu sudah menjajah India hingga dataran tinggi Himalaya serta Srilangka. Di negara tersebut tanaman teh juga bisa tumbuh dengan subur dan kualitas baik..

Salah satu kebiasaan para Ningrat Eropah, termasuk Ratu Belanda kala sore hari mereka meminum secangkir teh dengan makanan roti kering, sambil berdiskusi dengan keluarga kerajaan memetakan daerah yang akan ditaklukan lagi. Teh yang mereka minum tentunya teh dengan kualitas tinggi. Untuk mengamankan kebutuhan mereka itu, harus dibangun perkebunan teh di daerah jajahan..Di Belanda sendiri, jangankan ada tanah untuk kebun teh. Beberapa kota besarnya diperluas dengan men-dam laut. Misalnya Amsterdam, Roterdam dll.

Maka Belanda menjajah Indonesia, mereka membangun beberapa perkebunan teh di Indonesia, salah satunya perkebunan teh Kayu Aro, Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, Propinsi Jambi. Hamparan kebun teh ini terletak di lereng Gunung Kerinci, Gunung tertinggi di Sumatera. Kebun ini berada di ketinggian 1400 hingga 1600 dari permukaan laut.

Kini perkebunan teh kayu aro dikelola oleh PT. Perkebunan Nusantara VI Sumatera Barat – Jambi. Perusahaan milik negara ini terus meningkatkan kualitas dan jumlah produksinya. Begitu juga dengan pemasarannya, selama bertahun-tahun, teh Kajoe Aro hampir 100 persen di ekspor. Saat ini sudah beredar di dalam negeri produk teh kajoe aro yang bubuk maupun teh celup.

Sejarahnya, kebun ini dibangun oleh NV. HVA ( Holand Vereniging Amasterdam tahun 1925, setahun kemudian hamparan lahan yang berbukit-bukit mulai ditanam teh, sampai saat ini luas kebun teh Kajoe Aro mencapai 3000 hektar. “ Keistimewaan Teh Kajoe Aro ini. Tanaman yang ada sekarang merupakan tanaman varitas yang ditanam sejak tahun 1926,” Kata Direktur Keuangan PTP VI Karimmuddin.

Setiap tahun produksi kebun Kajoe Aro ini mencapai 5.500 ton dalam jenis teh hitam orthodox. Diolah dipabriknya di Bedeng Delapan, Desa Kayu Aro, yang merupakan pabrik teh terbesar di dunia, dengan pengolahan teknologi tradisional. Pabrik ini dibangun tahun 1970 lalu.

Produksi teh hitam ini di eskpor ke manca negara, seperti Eropah Barat, Eropah Timur, Rusia, Timur Tengah, India, Srilangka, Amerika dan Australia. “ Sekitar delapan puluh lima persen. Produksi kita diekspor, ya sisa nya untuk dalam negeri,” Kata Pak Karim.

Keunikan teh Kajoe Aro adalah dari aroma dan cita rasa yang spesifik, banyak digunakan produsen sebagai bahan utama pencampur untuk memperoleh citarasa teh yang berkualitas,” Sebagaian besar teh yang beredar dipasaran, campurannya di pakai teh Kajoe Aro, agar citarasa dan aromanya mantap,” ujarnya.

Menurut Karim, teh Kajoe Aro dalam proses produksinya tanpa dicampur bahan kimia ( bahan pengawet, pewarna dan perasa) sehingga sangat bermanfaat untuk kesehatan karena mengandung zat antara lain.

Riboflavin zat yang membantu pertumbuhan pencernaan dan vitalitas serta zat polifenol yang merupakan anti oksidan jenis biovanoid yang 100 kali lebih efektiv dari vitamin C dan 25 kali lebih efentif dari vitamin E.

“ Menurut penelitian Jhon Weisburger dari Amerika, kebiasaan minum teh Kajoe Aro secara teratur bukan sekedar nikmat tetap juga bermanfaat untuk mencengah penyakit kanker, mencegah/ menyembuhkan penyakit jantung serta mencengah osteoporosis, terutama wanita pasca menopouse,” Kata Karim yang juga peminum teh ini.(Mursyid Sonsang)





KENAPA MUDIK ATAU PULANG KAMPUNG

23 09 2008

Kenapa mudik atau pulang kampung

Menjelang lebaran Idul Fitri ini, kita dipusingkan dengan pertanyaan mudik kah ?. Tampaknya mudik atau pulang kampung, sudah menjadi ritual penting, setiap tahunnya, sama pentingnya dengan memestakan anak kalau kawin,” Malu juga ngak pulang, dikatakan kita miskin nian,” itulah komentar Anton, teman sekantor menjawab pertanyaan mudik.

Zaman komunikasi tanpa batas, kiranya mudik tidaklah terlalu penting. Teknologi telpon, internet dan lainnya bisa membantu silaturahmi itu, kita bisa melihat, berbicara sepuas-puasnya dengan sanak saudara, asal cukup pulsa saja. Kalau dihitung-hitung lebih murah biayanya dibanding harus memboyong satu keluarga ke kampung halaman.

Ada beberap alasan kenapa orang mudik atau pulang kampung saat lebaran ?

  1. Sowan. Mudik boleh dikatakan sebuah tradisi yang mutlak harus dilaksanakan. Pada saat itulah ada kesempatan untuk berkumpul dengan sanak saudara yang tersebar di perantauan, selain tentunya juga sowan dengan orang tua.
  2. Menenangkan pikiran. Sembrautnya kota-kota besar, membuat kita ingin mencari tempat yang damai, sambil mengenang indahnya masa kecil dibelai orang tua, mengenang saat mencuri mangga tetangga, pacaran masa kecil melalui surat2an. .
  3. Liburan, Ketika bapak dan ibuk bekerja serta anak sekolah. Jadual libur yang sama jarang terjadi. Saat lebaran ini kesempatan sama-sama libur beberapa hari, Apalagi lebaran tahun 2008 ini, libur serentak ini cukup panjang. Saatnya anak-anak mencicipi kehidupan kampung serta berkenalan dengan keluarga besar kita.
  4. Pamer. Saat inilah kesempatan memamerkan isteri yang cantik/ suami yang kaya, mobil yang mahal, duit yang banyak kepada orang kampung. Mobil-mobil mewah yang disopiri wanita berambut merah bersileweran di kampung-kampung saat lebaran, bahkan di kota jarang kita melihat mobil semewah itu. Juga tidak kalah serunya, biasanya tiap-tiap mesjid menggelar acara minta sumbangan dari para perantau, berlomba-lombalah mereka menyumbang bahkan sampai ratusan juta.
  5. Ziarah. Tradisi mudik juga bertujuan untuk melakukan ziarah kubur kepada para keluarga yang telah tiada, Dengan ziarah kubur kita akan selalu ingat bahwa semua manusia akan mati, sehingga segala perbuatannya penuh hati-hati, dan patuh k epada hukum Ilahi.

Apa itu mudik atau pulang kampung

Bagi masyarakat Minang, kalau seseorang dari rantau pulang  ke kampungnya , dikatakan pulang kampuang bukan mudik. Perkataan itu, tidak saja pulang saat lebaran, tapi hari-hari biasapun demikian.

Sedangkan kata mudik, menjelaskan posisi suatu daerah. Misalnya, kita berada di posisi hilir, lawannya mudiaak. Orang mana kamu?, “oh dia orang mudiaak”. Pergi kemana kamu ?, “pergi ke mudiaak”.

Begitu juga dengan bahasa Jambi, orang orang dari Sarolangun, Merangin, Bungo dan lainnya yang berdomisili di Kota Jambi. Bila mereka mau pulang, “dibilang ke Mudik atau ke dusun”.

Tapi kata mudik berasal dari bahasa Jawa, di Indonesia sangat populer, sudah mewabah ke seluruh daerah, mungkin juga dalam bahasa sentralistik masih terasa. Berasal dari kata “Udik” yang berarti desa atau jauh dari kota. Mudik berarti kembali ke udik, ke asal usul kita.

“Rindu mudik atau rindu akan kampung halaman dalam bahasa Inggris disebut Homesick sedangkan dalam bahasa Jerman “Heimweh” . Weh = sakit, Heim = rumah, Heimat = tanah air. Kata Heim itu sendiri diserap dari bahasa Jerman kuno Heimoti = Surga.” Kata Mang Ucup dalam blognya.

Jadi pulang kampung, mudik, homesick, heim weh, dan bahasa lainnya, merupakan naluri purba manusia. Rindu akan kampung, asal usul, keluarga, bangsa. Suatu modal untuk mengakomodir semangat itu untuk yang lebih besar.. untuk kemakmuran Indonesia. (mursyid sonsang)





GULA ITU MANIS

21 09 2008

Menjelang Idul Fitri ini, orang sibuk memikirkan kue, terutama kaum ibuk-ibuk.  Betapa tidak, harga bahan pokok, naik dua kali lipat termasuk harga gula pasir. Setelah beberapa bulan lalu, naiknya harga minyak.

Salah satu bahan pembuat kue itu gula pasir, harganya juga melonjak tajam. Dari Rp 4000 tahun lalu kini sudah mencapai Rp 8000. Tanpa gula pasir, rasa kuenya hambar. Begitu juga minum kopi tanpa gula. rasanya pahit.

Banyak cara dilakukan orang untuk mendapatkan gula pasir ini, tiga bulan lalu masyarakat Jambi dikejutkan peristiwa  penghadangan truk membawa gula oleh oknum TNI Korem 042 Garuda Putih. Ironisnya truk yang membawa gula itu, merupakan hasil sitaan Polres Tanjung Jabung Barat yang akan dibawa ke Mapolda Jambi untuk pengusutan lebih lanjut. Diduga gula itu, hasil seludupan dari luar negeri.

Walau truk itu dikawal beberapa polisi, mereka tidak mampu melawan oknum TNI yang bersenjata lengkap menghentikan mereka. Lalu truk tersebu dibawa lari ke sebuah Gudang di Pal Lima, Kota Jambi. Kerjasama yang apik antara Kapolda Jambi dan Danrem 042 Garuda Putih/ Jambi, gudang gula itu ditemukan. Oknum tentara yang terlibat di proses secara hukum.  Kini kasusnya dalam persidangan mahkamah militer, konon pemecatan sudah menunggu sang koboy dari Jambi itu.

Sewaktu saya sekolah dasar tahun 1970-an di Bukittingi, sudah kebiasaan sebelum berangkat sekolah harus makan kenyang-kenyang agar di sekolah tidak jajan lagi, untuk menghemat serta baik untuk kesehatan. Suatu ketika, saya terlambat bagun lalu baru-buru berangkat ke sekolah, tidak sempat makan pagi. Maklum ke sekolah jalan kaki sejauh dua kilo meter dari rumah.

Bapak saya berpesan, kalau jajan “gula-gula tareh” saja, selain harganya murah juga mengandung kalori cukup banyak. Gula-gula tareh, semacam permen atau bon-bon, terbuat dari air tebu, melalui proses endapan. Agar lebih menarik, gula-gula tareh dibuat sepanjang jari telunjuk lalu dilapisi tepung beras. Rasanya manis sekali. Harganya Rp 5 empat batang.

Dalam ilmu biologi gula-gula tareh mengandung karbohidrat yang sangat tinggi, sebagai sumber energi dalam tubuh. Para petani sawah dan ladang di kampung saya, selalu membawa gula-gula tareh untuk cemilan, menjelang makanan di antar isterinya.

Ada lagi kata “gula-gula”, rasanya juga manis. Tapi harganya sangat mahal terkadang tidak ada patokannya. Kalau gula pasir harganya antara Rp 7000 hingga Rp 8000, begitu juga gula-gula tareh harganya empat biji Rp 5 ( dulu 1970, sekarang tidak dijual lagi).

Di saat negeri ini susah, sebagian orang berkantong tebal sangat menyenangi makan “gula-gula” ini. Mereka  bukan untuk berhemat, seperti kesukaan saya makan gula-gula tareh saat di SD dulu, tapi bagi mereka hanya untuk kesenangan se saat, untuk variasi serta alasan pribadi lainnya.

Kebiasaan makan “gula- gula” ini, dilakoni seseorang yang mendapatkan uang secara mudah, bisa lewat pemerasan, korupsi, merampok atau dapat menang lotre dan sebagainya. Kalau dari uang yang halal, mungkin akan berpikir sepuluh kali, apa lagi dari gaji.

Salah satu contohnya, dalam persidangan Al Amin Nasution (Politisi muda dari PPP Jambi) , kasus pemerasan terhadap Uzirwan Sekda Bintan, Kepulauan Riau, beberapa minggu lalu. Terungkap pembicaraan mereka, tentang gula-gula untuk dipakai karoke dan dikunyah di tempat tidur. Ternyata, Al Amin melakukan itu, karena uangnya mudah didapat, minta sana sini, peras si itu dan si anu.

Kegemaran mengunyah  “gula-gula” ini, sebetulnya sudah sejak lama, bahkan dari zaman kerajaan Yunani, Mesir, Kaisar-Kaisar Cina, para presiden…jadi jangan lah heran.

Kata “Gula-gula”  dalam kamus bahasa Indonesia, diartikan cewek simpanan, cewek peliharaan. Mereka tidak dinikahi secara resmi, tapi dinafkahi secara rutin. Sampai kedua-duanya bosan lalu bubar………(Mursyid Sonsang)